Susahnya Nggembel di Negeri Orang #3

Part III: Perjalanan Dimulai

Sub part I: Keluar Dari Masalah

Setelah mengalami tekanan berat, kami menemui titik terang di tanggal 19 Agustus 2015. Di saat yang sama, teman teman saya berwisuda dengan bahagianya sedangkan saya bingung setengah mati karena tinggal di Jakarta dengan masalah visa yang tak kunjung selesai.

Oleh karena kami terlalu mepet dalam aplikasi visa, kami ditolak oleh kedutaan besar di Jakarta. Sedih. Tapi Tuhan selalu mendengarkan mahlukNya. Dengan bantuan jurusan, kami dibantu dalam pembuatan visa. Tapi masalah mengintai karena visa baru bisa jadi tanggal 21 padahal kami sudah harus tiba di Seoul tanggal 19 Agustus. Sangat bermasalah juga karena kami berdua terlanjur membooking dua tiket untuk tanggal 20 Agustus, itupun juga sudah digeser dari tanggal 18 Agustus menjadi tanggal 20 Agustus. Jika visa jadi tanggal 21, itu artinya kami tidak bisa terbang. Tiket kami hangus.

Lagi lagi Tuhan sungguh baik. Di tengah kalutnya pikiran, angin segar berhembus. Rosy yang berada di Jakarta TImur mengabarkan bahwa kami bisa mengambil visa kami malam ini juga atau besok pagi. Kami sungguh beruntung. Malam itu juga, saya yang berada di Jakarta Pusat segera meluncur ke daerah Pancoran untuk mengambil visa.

Dengan moda transportasi yang sedang ngehits, *ojek saya pergi. lima belas ribu sebagai pembayaran saya untuk jasa pengantaran ini. Sialnya, mas yang nganterin saya ini nggak tahu jalan. Haha. kacau deh pokoknya. Kami baru sampai 45 menit kemudian. Pdahal misal kalau tahu jalan, mungkin hanya 15 – 20 menit saja. kami masuk ke dalam gang yang sempit. Dua mbak mbak berusia 25 tahun menghampiri dan menyerahkan dua buah paspor hijau berisi stiker visa dari sebuah kedutaan. Rasa lega luar biasa menelusup, menenangkan pikiran.

Dengan bodoh, saya jadi tidak fokus. Oleh karena terlalu lama jika harus menunggu moda transportasi lain untuk datang (kecanggihan internet memungkinkan orang untuk memesan moda transportasi ini dengan cepat). Si abang pengantar menawarkan Rp 25.000 untuk perjalanan saya pulang. dengan sangat bodoh saya mengiyakan karena saya pikir dua puluh lima ribu rupiah tersebut adalah jumlah pulang pergi saya dari rumah Mega di Tebet – Pancoran Barat dan kembali ke Tebet. Ketika saya meminta kembalian dari si abang, saya hanya mendapatkan rupiah 15.000. what??? Seharusnya saya lebih teliti. Saya harusnya hanya bayar Rp. 30.000 saja. bukan Rp. 45.000 (saya juga baru menyadari bahwa si abang menyerahkan kepada saya Rp.15.000. Entah dia sengaja mengambil keuntungan diam diam atau tidak. Wallahualam.) Hmm.. ditipu lagi. Haha. Ya sudahlah. Hitung hitung rasa syukur saya karena urusan visa sudah selesai dan sekaligus berbagi kebahagiaan alias sedekah. Ini yang melegakan.

Pukul setengah tiga sore, saya beranjak dari rumah Mega menuju stasiun Gambir untuk naik Damri ke Bandara. Saya janjian dengan Rosy di Soekarno Hatta pada magrib di hari itu. Rp 40.000 sekali jalan hingga ke bandara, tidak mengalami macet, bis nyaman membuat saya tidak segan untuk mengeluarkan uang sebanyak itu. Cukup sepadanlah dengan nyamannya bis Damri. Waktu menunjukkan pukul 17.30 ketika Rosy datang. Kami segera check in ke counter pesawat tujuan.

Dengan sangat bodoh (lagi), saya belum menukarkan rupiah yang saya punya ke dolar atau won. Baru di bandara, dengan rate 14.000 an, saya menukarkan Rp. 300.000 saya menjadi 21 dolar lebih beberapa sen yang kelak saya belikan oleh oleh sumpit stainless steel dalam jumlah yang menurut orang Korea terlalu banyak hingga mereka tertawa heran dengan kelakuan saya.

Subpart II: Mampir di Negeri Tetangga

Penerbangan pukul 20.30 membawa kami ke negara tetangga, Malaysia. Bandaranya yang nyaman sayangnya membuat saya tersadar lagi. Saya lupa tidak membawa sleeping bag keluar dari bagasi. Kami kebingungan mencari bagasi yang tak nampak di roller seat bagasi. Saya sendiri baru sadar bahwa penerbangan transit biasanya memang bagasi tidak diturunkan penumpang. Bagasi akan ditransfer ke pesawat tujuan berikutnya.

Saya hanya bisa merutuki diri saya sendiri di tengah capeknya badan, ngantuknya mata dan dinginnya AC Kuala Lumpur. Kami baru bisa tidur pukul 03.00 pagi waktu Kuala Lumpur. Ya, tentu saja di emperan depan stand makanan bandara yang sedang tutup. Kami menghempaskan tubuh lelah kami di atas hangatnya karpet bandara yang tidak bisa menghangatkan badan kami.

Pagi pagi, saya terbangun dengan kepala pusing. Kami berjalan jalan mencari sarapan. Yang membuat saya bersorak takjub adalah karena ada restoran Bumbu Desa,, restoran yang letaknya hanya 500 meter dari kosan saya di Jogja. Bumbu Desa? Hmmm.. sungguh menakjubkan. Rosy memesan satu porsi bubur ayam seharga 35.000 an rupiah jika dikonversikan dari ringgit ke rupiah. Saya sendiri tidak memesan apa apa akibat tidak menukar uang. Lagipula saya juga tidak lapar. Kondisi amat capai membuat saya tidak berselera untuk makan.

Hal bodoh lainnya adalah saya melamun. Saya tidak fokus sehingga saya salah membaca gate kami. hampir saja kami ketinggalan pesawat gara gara salah masuk lokasi pesawat. Harusnya kami pergi ke gate P tapi kami masuk ke gate L. jauh sekali, untung Rosy sigap mengingatkan. Sambil berlari lari, kami berhasil menemukan gate P yagn letaknya cukup jauh. Tatapan dingin dari pramugara darat yang berjaga di lounge P membuat saya sendiri tertawa cekikikan karena bodohnya situasi saat itu. Ah, udahlah yang penting tiket nggak hangus dan kami bisa pergi hari itu juga. Saya hanya bisa bersyukur ketika saya dan Rosy akhirnya bisa duduk di seat kami sendiri.

Sub part III: Selamat datang di negeri Ginseng

Setelah perjalanan enam jam yang panjang, kami melihat incheon untuk pertama kalinya. Sungguh tidak menyangka, setelah perjalanan panjang, kami bisa sampai di tanah ginseng. Saya bersorak dalam hati.

Butuh satu jam untuk bisa sampai ke gate penjemputan. Hal ini karena kami adalah orang asing yang harus menjalani pemeriksaan paspor dan dokumen dokumen lainnya, belum juga mengambil bagasi di ruang lainnya.

Saya mengangkut carrier seberat hampir 15 kg menuju lounge arrival. Dengan santainya kami melenggang ke luar tanpa tahu siapa yang akan menjemput kami. seorang laki laki berbadan atletis, Byung Hun, berpotongan ala militer tersenyum dan menghampiri kami, diikuti oleh laki laki yang lebih pendek yang terlihat seperti anggota boyband, Hong Jun. Mereka menyodorkan selembar kertas A4 berisi nama kami. “apakah betul kalian? Selamat datang”. Sapa mereka sambil tersenyum.

Incheon, pertama kalinya saya menginjakkan kaki disini. Sambutannya cukup ramah. Bahkan berbanding terbalik seperti yang saya pikirkan. Saya pikir penjemput kami berdua adalah bapak bapak Korea yang datang dengan sedikit memarahi karena keterlambatan kami tiba di Incheon. Apalagi kami baru sampai di gate arrival satu jam setelah kami turun dari pesawat. Ternyata dua orang ramah yang nantinya ternyata mereka akan menemani kami selama perjalanan adalah orang orang yang mengenalkan kami pada ramahnya negeri tetangga Cina ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s