Susahnya Nggembel di Negeri Orang

Part: Selamat Datang di Riwehnya Ibukota

Prolog: cerita saya awali dengan tatapan bego saya setelah ditelepon oleh kantor urusan internasional bahwa saya akan menghadiri sebuah konferensi di sebuah negara nun di timur jauh sana. Antara seneng sama bingung. Ya seneng aja bisa mendapatkan kepercayaan. Tapi bingung karena ngerasa bego akibat saya nggak tahu harus ngurus mulai darimana-terutama urusan visa dan pesawat. Saya menghitung uang saya yang tinggal sedikit saja. Kere nih. Duh.. bakal nyampe sana nggak ya. Tawaran yang sangat sulit. Antara mau diambil tapi kok lagi defisit berat. Kalau nggak diambil, saya juga bego. Kesempatan tidak datang dua kali. Akal sehat saya bilang: berangkat Put. Rejeki udah ada yang ngatur. Saya iyakan undangan tersebut sambil mengucap basmalah. Dear God.. I am ready for my journey. I am gambling for my gembeling. Anggap aja sekalian backpackingan. Iyalah, orang saya pelancong kere. Berangkat seadanya. Ehehe.

Part I. Menuju Jakarta

Hari pertama saya dimulai dengan melambaikan tangan diiringi kepergian teman teman yang mengantar sampai ke terminal. Santika, Helmi, Mbak Tari meluangkan waktu mereka untuk menemani saya ke terminal Giwangan, nun jauh di selatan sana. Dengan sabarnya mereka menunggu saya berpaling dari tempat mereka berdiri. Ketiadaan tiket kereta (tiket habis karena libur kemerdekaan) ke Jakarta membuat saya harus siap dengan lebih dari lima belas jam perjalanan darat saya dengan bis (yang ternyata juga ditipu oleh calo). Saya membayar untuk kelas VVIP namun seperti mendapatkan kelas ekonomi. Mega, teman saya ngakak keras ketika mendengar cerita saya. Put.. Put.. punya temen geblek kayak kamu. Sial bener. Ini ejekan dari teman kecil saya. Saya hanya ketawa lepas.

Agen bis sialan menipu saya dengan harga 40 % lebih tinggi. Saya akan bilang harga 170.000 rupiah terlalu mahal untuk perjalanan saya karena harusnya dengan uang tersebut saya mendapatkan kelas yang lebih tinggi daripada yang saya dapatkan. Kamar mandi-yang tidak saya gunakan sama sekali- kemudian bis yang reyot membawa saya ke ibu kota Indonesia untuk pertama kalinya-tidak dapat makan pula. Hiks.. Dari pengalaman Mas Supri, saya jadi tahu sekarang perbedaan antara bis ekonomi-bisnis-eksekutif dan VVIP. Yah.. disukuri saja. Kalau saja saya tidak mendapatkan pengalaman ini, saya tidak akan belajar. Sungguh pembelajaran membutuhkan proses. Dan saya bahagia. Haha.

Waktu hampir menunjukkan pukul lima lebih ketika bis sampai di terminal Jombor. Duh, benar kata Helmi, seharusnya saya menunggu di Jombor bukan di Giwangan. Bis belum juga beranjak dari perhentiannya di Jombor. Pukul 17.45 bus berangkat. Terlalu lama menunggu membuat saya kagol-kecewa. Bus yang berjalan terpelanting kesana kemari membuat saya tidak bisa tidur hingga agak malam. Saya sudah membayangkan akan bosan dalam perjalanan lebih dari seharian ini. nyatanya, saya malah mendapatkan teman sebangku yang menyenangkan. Seorang bapak-bapak dari daerah Gondomanan yang akan ke Jakarta-untuk menengok istrinya. Kami saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Malah beliau tadinya mengira saya bukan orang Jogja. Kurang pantas bermuka Jogja katanya. Ahaha. Bahkan dia senang karena perjalanannya tidak sesedih yang ia bayangkan. Kami bertukar cerita tentang saya yang mendalami kebudayaan Jawa melalui media kesenian dan ternyata Bapak ini adalah seorang pegiat Barongsai di Jogjakarta. Asikkk.. bahkan kami berjanji akan bertukar kabar manakali masing masing komunitas kami mengadakan pertunjukan. Poin pembelajaran lain dari perjalanan ini: silaturahmi adalah menambah rejeki dan jejaring.

O, ya saya mau cerita soal bis ini. Selain cerita soal saya yang ditipu oleh calo, saya ternyata tidak sendirian. Bus baru saja mau berangkat ketika empat orang anak Jekarda adu mulut dengan salah seorang agen bus yang resmi. Mereka marah karena tidak mendapatkan sesuai harga yang disepakati. Akhirnya cek cok diakhiri dengan mereka ikhlas menerima kenyataan. Hmm.. saya juga mas. Terima sajalah daripada nggak berangkat. Banyak sekali penumpang mengeluh –dan saya sendiri bersumpah tidak mau bayar mahal untuk harga bis reyot yang menipu saya habis habisan ini. No no no untuk next time. Jangan tipu saya dengan urusan menyebalkan ini lagi. Cukup sekali ini. Besok besok kalau nggak lagi terpaksa kayak gini, saya mah ogah. Mending saya pesan di pool bisnya langsung.

Pada pukul 21.00 kami sampai di sebuah rumah makan bis di daerah Kebumen. Saya sempatkan untuk mencharge hp saya dengan harga Rp. 2000. Duh.. haha. mau ngakak juga sih. Ya sudahlah. Pembelajaran lain: siap-siap dengan uang kecil dan uang untuk membayar tetek bengek apapun.

Saya hampir masuk ke bis ketika saya melihat kernet dan supir menyempatkan diri mengecek kondisi bis. Mana ada perbaikan lagi. Ini nih bikin penumpang was was. Saya menahan nafas. Duh, Gusti..

Bis beranjak lagi menuju kota kota selanjutnya. Saya mulai terlelap dalam lelahnya hari. Tertidur dengan pulasnya dan terkadang terbangun karena leher yang kaku dan terpelanting kesana kemari karena jalannya pacuan bis. Pada pukul 04.10 pagi, kami turun di daerah Pamanukan. Beberapa orang yang beragama muslim menunaikan ibadah solat subuh. Saya sempatkan untuk mengecek ponsel. Ibuk saya menelepon.

Dalam sepinya jalan, saya mendengar suara ibuk saya yang bergetar. Putrinya nun jauh pergi ke kota lain untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi. Saya berbisik. Buk, doakan saya. Rasanya dalam kalutnya hari, saya masih memiliki semangat. Orang orang yang saya sayangi benar benar mencintai saya setulusnya.

Perjalanan berlanjut. Saya melanjutkan tidur, mengendapkan lelahnya pada sandaran bis yang jalannya masih terantuk antuk kesana kemari. Hingga mentari menampakkan cahayanya, saya baru terbangun. Jakarta menyambut saya dengan kokohnya pabrik dan hotel serta kantor yang berdiri dengan angkuhnya. Pohon akasia ditanam di kanan kiri, hidup dengan antengnya di tengah polusi dari mobil mobil yang lewat.

Kemacetan ibukota turut menyambut saya. Mobil disana sini, mengantri untuk bisa masuk ke jalan tol. Bis reyot mengangkut pekerja pekerja yang berangkat pagi pagi. Beberapa teman menanyakan kabar saya. Saya baik baik saja teman, hanya belum sampai. Doanya ya gaes..

Baru saja pukul 09.00 saya sampai di terminal Pulogadung. Kesan? Semrawut. Jakarta tak ubahnya kota apatis yang tak memberi kesempatan bagi yang bersabar. Saya naik ke halte bis transJogja, berjubel puluhan orang di dalamnya. Ini pengalaman pertama kalinya saya menggunakan kartu untuk membayar bis. Akhirnya saya membeli sebuah kartu khusus dari sebuah vendor bank ternama yang saya miliki. Timbul pikiran.. duh.. kenapa nggak dari dulu ya. Haha. Dengan membayar Rp. 40.000 dengan isi kartu 20.000 rupiah, saya letakkan kartu di atas mesin dan masuk ke dalam ruangan tunggu. Beransel tinggi ala anak gunung, orang orang melihat saya dengan tatapan cuek. Tapi ada juga beberapa yang dengan ramahnya menanyai saya. Saya berasa anak gunung yang menyasar ke liarnya ibu kota.

Turun di halte Matraman, saya berjalan ke koridor lain. Di jembatan layang, saya melihat jalan yang tak teratur. Semua orang mau cepatnya, semua orang mau singkatnya. Mereka tidak mematuhi peraturan dan cenderung egois. Polisi seperti tidak ubahnya patung yang tak berdaya melihat arus kendaraan yang berbahaya. Orang orang ini tidak takut dengan polisi rupanya. Tidak takut peraturan dan hukum serta tidak peduli dengan keselamatan dirinya maupun orang lain. Jalan yang harusnya masih berhenti, diterobos asal cepat sampai. Sungguh tidak teratur. Semuanya menyerobot. Berjamaah pula. Duh..

Sampai di halte Kampung Melayu, seorang sahabat lama menjemput saya. Mega, kawan lama yang menerima saya dengan hangatnya. Dika, yang juga ada di kota yang sama. Nostalgia. Jakarta… kau mempertemukan saya dengan pelepas dahaga. Kawan kawan lama yang masih terasa sama hangatnya ketika kami bertemu dulu di masa kecil. Di tengah ruwetnya pikiran karena urusan visa yang tak jelas juntrungannya, saya merasa tidak terlalu jatuh. Ada keluarga dan teman teman nun jauh disana dan disini yang menyuport saya dengan caranya masing masing. Teringat surah Al Insyirah; setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh Tuhan Maha Pemurah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s