Susahnya Nggembel di Negeri Orang 2

Part: Dilema Visa

Visa. Sesuatu yang tidak mungkin akan diselesaikan dalam satu hari. Butuh setidaknya beberapa hari untuk mendapatkan sebuah cap dari negara asing ini. Sedih adalah ketika kita butuh visa dalam waktu kurang dari satu minggu. Bingung harus kemana, gimana dan dengan cara apa.

Sebuah undangan datang dari negara nun jauh di seberang lautan-yang I-know-Where, saya adalah salah satu delegasi terpilih dari salah sedikit peserta dari seluruh dunia. Yang jadi masalah adalah saya tidak siap dengan keberangkatan yang terlalu amat sangat mendadak. Surat baru saja dikirim pada tanggal 9 Agustus dan kami harus berangkat pada tanggal 19. Its crazy. Mereka tidak memikirkan bahwa ada hari sabtu dan minggu yang harus kami lewati dan waktu kami hanya kurang dari 10 hari, belum lagi dipotong dengan hari kemerdekaan. Belum lagi uang pesawat. Ouch damn.

Saya dan Rosy, peserta lain pontang panting kesana kemari mengusahakan semua urusan yang kami bisa kerjakan. Termasuk bolak balik ke kantor urusan internasional dan jurusan. Mereka berdua adalah pihak yang benar benar membantu keberangkatan kami.

Saya cukup kecewa dengan keberangkatan yang sangat mendadak ini. Tabungan saya sangat jauh dari cukup. Hanya bisa membooking satu penerbangan saja-yang kemudian sialnya membengkak karena saya terpaksa mengganti jadwal. Rasanya ingin marah pada diri sendiri-dan pihak yang ada disana. Mereka tidak tahu bahwa saya sangat amat sangat berusaha dengan keras mencari cara mengurusi segalanya.

Saya menelepon rumah. “Kamu punya keluarga kan? Keluh kesahmu itu akan selalu ada tempat di hati kami”. begitu ibuk saya bilang. Rasanya beban jadi jauh berkurang.

Saya berkali kali mencoba untuk berkomunikasi dengan pihak sana yang ternyata sedikit mengabaikan kami. berkali kali email saya tidak direspon-atau mungkin direspon tapi tidak ditanggapi karena mereka bingung mau ngapain. Kalau dipikir pikir mereka juga salah karena terlalu mendadak mengirimkan undangan. Padahal saya sudah mencoba menghubungi mereka agar jangan mendadak menyampaikan rentang waktu kegiatan karena akan sangat bermasalah dengan visa. Saya sendiri pernah sekali ditolak visa sebelumnya. Itu pahit bangetttt meeeeennn..

Untungnya jurusannya Rosy mau dengan sangat baiknya membantu menghubungkan dengan salah satu penghubung yang bisa menguruskan visa kami dalam waktu singkat-yang juga memakan sangat banyak uang saya. Dalam waktu satu hari, saya pergi ke kantor Tata Usaha-dan sialnya surat baru jadi hari Kamis dimana akan sangat mepet sekali dalam urusan visa ini. Hiks.. Solusinya, saya dan Rosy pergi ke kantor urusan internasional dan dengan sangat baik mereka membantu membuatkan surat rekomendasi. Dengan surat tersebut, kami selesai melengkapi dokumen urusan visa ini hari selasa. JNE menjadi penghubung kami mengirimkan barang ke Jakarta.

Dan … taraaaa.. paspor dkk kami baru sampai di tangan penghubung pada hari kamis. Padahal hari senin libur kemerdekaan. Jeng jeng jeng.. kami dalam masalah. Tidak akan mungkin urusan birokrasi sialan ini akan selesai dalam waktu satu dua hari. Normalnya siapapun tidak menyukai hal hal yang mendadak. Saya pun bisa memahami ini. Perasaan saya? Campur aduk lah. Jelas sekali. rasa ingin marah, kecewa, campur jadi satu. Dan satu hal. Rasa bersalah karena harus ‘memaksa’ banyak pihak ikut repot repot karena urusan ini. Entah itu orang tua, teman maupun pihak lain.

Senior Rosy, Tika juga membantu untuk melancarkan urusan urusan ini. dia pernah beberapa kali ke luar negeri dan membantu kami dalam proses yang melelahkan. Terimakasih.

Awalnya saya tidak berani memesan tiket karena saya tidak memiliki cukup uang. Saat itu rate penerbangan ada di atas angka 10 juta. Ini penerbangan GA. Duh.. maskapai terbaik dalam negeri, tapi saya lagi bokek. Yasudah, saya menurunkan rate saya. Satu satunya maskapai yang bisa saya capai hanya AA. Itupun uang saya masih sangat jauh dari cukup. Duh.. sedih lagi. Rate AA mencapai 7 juta, itu sudah PP. Saya membiarkan Rosy membooking penerbangannya sendiri sedangkan saya harus berpikir bagaimana caranya mendapatkan penerbangan yang murah meriah.

Keesokan harinya, saya membuka situs AA lagi, menemukan harga turun drastis. Rosy mendapatkan harga 2,5 juta tanpa bagasi, dan saya cukup membayar 2,3 juta sudah dengan bagasi. Normalnya, Rosy harus membayar 3 juta lebih hanya untuk keberangkatan. Saya bersyukur tidak jadi merepotkan orang terlalu dalam. Teman teman yang saya curhati ikut lega. Saya bersorak bahagia. Hanya untuk sementara

Tapi masalah lain muncul. Dengan visa yang tidak beres, penerbangan kami yang sudah saya pesan untuk tanggal 18 terpaksa harus saya pindah ke tanggal 20. Saya terpaksa harus menunda keinginan untuk naik Gunung Ungaran-hiks.. Saya hanya bisa menatap sayu pada foto foto yang diposting oleh Niam dan Helmi. Huaaa…alam terbuka. *nangis bombay. Saya tidak bisa pergi karena mengurusi urusan visa dan penerbangan yang menyita pikiran.

Saya tidak habis pikir. Jika saya tidak booking, harga mahal. Tapi ketika saya booking, saya harus menelan kekecewaan ternyata harga yang saya booking sama mahalnya dengan tiket booking saya dari awal hanya gara gara visa yang tidak beres. Saya menarik napas lemah setelah menyerahkan segepok uang merah di kasir agen penerbangan. Buk, Pak, Mbel, Ratna, makasih banyak. Sudah saya repotkan. Maaf ya pada akhirnya saya ngerepotin.

Pelajarannya: jangan sekali kali booking penerbangan tanpa visa yang jelas. Sekalipun lembaga yang mengundang kita adalah lembaga resmi, tapi daripada kecu-php, booking saja dekat dekat dengan keberangkatan. Daripada dikecewakan. Kayak saya. *surhat. Haha.

Tanggal 17, saya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Untuk mengurus visa sekaligus berangkat jika visa sudah jadi. Eh.. sebelum berangkat malah ada tawaran untuk mengurus acara di tanggal 28-29 oleh kakak angkatan saya, Kak Argo. Duh.. saya baru pulang mas. Nggak jadi deh. Ehehe.

Tanggal 18 Agustus, saya baru sadar dari lelap di bis AKAP yang mengantar saya semalaman. Pesan datang dari seorang petinggi kantor urusan internasional. Beliau begitu perhatian mengurusi kami berdua. Tapi sayangnya ada berita kurang menyenangkan. Petinggi lain yang mengundang kami ke negaranya marah karena email saya yang dianggap terlalu menekan. Lhah.. kok marah. Saya agak bingung. Saya cuma agak sedih saja karena menurut saya malah mereka menggantung saya dan Rosy padahal kami urgent sekali urusan visa tersebut. Ini bukan urusan yang sehari jadi kayak beli tiket BriZZi TransJakarta, cuy.. Ini urusan diplomatik dua negara. Dan saya dengan suksesnya mengacaukan hubungan tersebut. Bangga? Nggak sama sekali. Ini akan jadi pelajaran juga untuk mereka bahwa urusan ini tidaklah mudah. Bukan suatu yang gampang untuk mengurus visa hingga ibukota yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat saya belajar sekarang. Tidak mudah. Apalagi dengan birokrasi semumet itu. Siapapun nggak suka kesusu-susu (tergesa gesa) dalam mengerjakan sesuatu. Siapapun tidak suka didesak. Itulah kenapa komunikasi itu penting. Dan ternyata saya memang berdiplomasi terlalu jauh. Saya yang awalnya hanya berniat untuk lebih terbuka karena merasa masalah ini harusnya tidak perlu terjadi jika ada konfirmasi lebih awal, ternyata dianggap kurang sopan. Di satu sisi rasanya ingin sekali apatis. Tapi saya tetaplah anak kecil yang masih belajar. Kesalahan itu wajar dan mari kita jadikan pembelajaran bersama. Saya pun juga akan menyampaikan secara langsung pada pihak mereka-nanti selepas saya tiba di negara mereka.

Secara pribadi saya juga meminta maaf pada kantor urusan internasional yang sudah repot repot membantu kami. Sejujurnya saya malu pada mereka- bukan pada professor negara tersebut.  Saya malu pada Ibu Dwi dkk yang telah membantu kami sepenuh hati. Saya malu karena ternyata sikap saya membuat almamater saya mungkin sedikit kena semprot dari pihak sana-padahal kalau mau sewot harusnya kita bisa saja lebih emosi. Ah.. sudahlah. Ikhlas saja.

Sejak pertama kali saya dan Rosy mendapatkan kepercayaan ini, Ibu Dwi dkk benar benar menunjukkan perhatian mereka yang luar biasa. Di tengah kekagolan saya, Ibu Dwi dan staffnya-dua mbak mbak yang cantik bersedia mendengarkan keluh kesah dari saya dan menguruskan segala sesuatunya. Jadi berasa capeknya hati nggak terlalu terbawa karena ada hospitality yang baik dari mereka. Saya pun jadi lebih bisa menahan emosi. Saya berhutang maaf pada mereka.

Mereka pun yang repot repot menelepon kedubes, membuatkan surat pengantar, mempermudah birokrasi yang seharusnya ribet, mencarikan cara bahkan menelepon penghubung kami. Duh.. jadi agak nggak enak. Karena gara gara kami juga semua orang jadi repot. Tapi mau gimana lagi, yang kami bawa adalah nama almamater. Jadi siapapun memang harus bersiap untuk repot. Oleh karena bantuan mereka pula, ada titik terang. Visa sangat dimungkinkan untuk jadi pada tanggal 19 Agustus. Semoga.

Dari masalah ini saya jadi bisa ngukur sejauh apa sebaiknya kita harus berdiplomasi pada orang orang di sekitar kita. bagaimana cara kita menghadapi orang lain yang berbeda budaya dan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah. Pada akhirnya saya tidak akan menyalahkan diri saya sendiri. Walau bagaimanapun saya sudah berusaha begitu kerasnya dan saya harus mengapresiasi diri sendiri. Jadi kesalahan apapun, saya harus siap untuk belajar. Dan saya siap untuk itu. Saya harus berterimakasih juga pada semua pihak yang telah bersusah payah untuk membantu. Sungguh bukan bantuan kecil yang saya terima. Sangat besar, sehingga mungkin saya tidak bisa untuk membayarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s