Cita-Cita Terbesar

Cita cita. Sebuah hal yang akan membawamu menapaki dunia dimana langkahmu akan menuju ke apa yang kita impikan. Apa cita cita yang terbersit di benak masing masing anak ketika mereka masih kecil? Dokter? pilot? Polisi? Tentara? (ya, saya masih berangan angan untuk bisa jadi dokter. tapi sayang, cita cita itu pupus tergantikan dengan minat saya di bidang bahasa dan budaya). Tapi diluar itu, ada satu cita cita terbesar saya: menjadi seorang ibu.

Tidak perlu jadi siapapun. Cukup setangguh ayah saya dan setegar ibu saya. Mungkin itulah ungkapan yang paling pas untuk saya. Mungkin Taylor Swift adalah penyanyi perempuan paling bersinar yang saya kagumi. Atau Dewi Lestari dengan romantisme sastra yang amat mendalam. Sebutlah Khadijah, seorang bangsawan-entrepreneur penyayang keluarga yang semangatnya mengalir dalam darah nenek saya pihak ibu. Atau sosok Risma, walikota Surabaya yang sukses mengantarkan kotanya dilirik dunia. Tidak. Ibu saya lebih hebat dari mereka. Ibu saya perempuan paling kuat yang pernah saya temui. Ibu saya mampu membuat saya tetap hidup hingga saat ini. Ia lebih hebat dari apapun.

Bangun lebih pagi dari siapapun, menyiapkan segalanya di pagi buta. Membangunkan anak-anak, menyiapkan urusan sekolah, bekerja, menunggu mereka pulang, mendengarkan keluh kesah semua orang di rumah, menangkupkan berbaris doa keselamatan untuk keluarga, menunggui kami tumbuh. Itulah yang dilakukan oleh ibu saya. Ia bertahan dari goncangan apapun. Ia bertahan dalam badai yang menghantamnya sejak ia kecil. Dan sayapun, belajar untuk bisa sepertinya. Dan sayapun, suatu saat akan melakukan hal yang sama seperti ibu saya lakukan, untuk keluarga kecil saya nanti.

Saya terlalu tergila gila pada Andrea Hirata atas rangkaian mantra dalam ke-empat tetraloginya. Saya terlalu terpesona pada petualangan Agustinus Wibowo di negeri -Stan yang memukau. Saya terlalu menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai sosok lelaki paling sempurna di muka bumi. Tapi tidak pernah ada satu sosokpun yang melebihi sempurnanya ayah saya. Nabi Muhammad mungkin memang panutan, tapi ayah saya, selamanya dialah yang terbaik. Untuk saya. Dia adalah laki laki paling tangguh yang pernah saya temui. Dan ia adalah satu satunya laki laki yang paling saya sayangi lebih dari apapun. Ya, karena ia lebih hebat dari laki laki manapun.

Bangun pagi untuk bekerja, pulang kembali ke rumah. Terkesan tak peduli, tapi ia siap mengawasi putra putrinya dengan mata elangnya. Ia mungkin lebih banyak diam, tapi dia akan memperhatikan apakah putra putrinya tidur dengan nyenyak di tengah sakit mereka. Saya tahu ketika ia memandang dengan sedih ketika pergi merantau ke kota lain. Saya tahu ia menangis ketika adik saya jatuh dan berdarah darah. Saya tahu ia tidak bahagia ketika adik lelaki saya tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.

Saya memandang Zaki, keponakan saya yang lahir dari ‘kembaran’ saya, Lia (nenek dan buyut saya menganggap kami sangat mirip). Adiknya, Ika juga sudah mempunyai putra. Seorang bayi kecil bernama Davi yang lahir beberapa bulan pasca lulus SMA. Sepupu saya lainnya, Mas Irul memiliki seorang bayi laki laki bernama Decko, singkatan dari Debby dan Khoirul. Sepupu sepupu lain bermunculan. Rahma, Ari, Bilqis dan banyak lainnya. Tidak terasa, waktu berjalan dan kami semakin menua. Ibu saya yang tadinya dipanggil bulik atau budhe, sekarang menjadi mbah. Saya yang akrab dengan panggilan ‘cik’ menjadi ‘bulik’. Dari ‘de’ harus naik status menjadi ‘bude’. Atau Tante (panggilan inilah yang paling tidak saya sukai. Nggak enak aja kedengarannya. Haha.)  Yang dulunya saya adalah penerima angpao, sekarang saya belajar untuk membagi dan memberi. Tidak terasa saya perlahan sudah tua.

Justru ketika saya tahu suatu saat saya harus lepas dari mereka dan membangun keluarga saya sendiri, saya merasa belum siap. Rasa rasanya saya masihlah anak anak yang masih ingin menggelayut di pelukan mereka. Ketika salah satu sahabat saya, Riza sudah akan melangkah ke pelaminan bulan depan, saya bertanya tanya “eh, iya ya. Temen sebangku saya dulu udah nikah aja. Siap nggak tuh kamu sendiri, Put?”. hmmm.. Saya keder. Pernikahan sungguh indah, tapi lagi lagi, rasa rasanya saya terlalu sayang sama orang tua saya. Rasa rasanya nggak siap aja. Hiks. Tapi tenang saja. Saya pasti nikah kok. Saya juga pengen orang tua saya meluk cucunya seperti mereka memeluk saya.

Di usia yang sudah tidak lagi dianggap sebagai remaja, saya tahu pada akhirnya tugas terbesar saya bukanlah bekerja di perusahaan besar ataupun menjadi birokrat. Semua orang tahu, mengurus keluarga lebih berat dibandingkan menjadi pemimpin di sebuah organisasi atau perusahaan. Mumet euy.. Tidak muluk muluk. Saya adalah seorang perempuan yang sadar bahwa semakin jauh usia membawa, saya akan sampai pada saatnya kodrat seorang mahluk Tuhan: menjadi pelindung dan penuntun untuk anak keluarga dan anak-anak saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s