Jatimulyo dan Kiskendo

Tentang Jogja yang semakin berdesa wisata. Apa yang menarik dari Kulonprogo? Banyak. Kami mengunjungi Jatimulyo, sebuah desa di nun selatan sana yang terkenal dengan Goa Kiskendo. Uniknya Goa Kiskendo, mulut goa berada di Kulon Progo Yogyakarta tapi perutnya melebar hingga ke daerah Purworejo. Goa ini sangat besar. Penerangan hanya sebatas cahaya dari luar Goa yang masuk menerangi sebagian kecil mulut goa. Udara lembab, basahnya lantai perpaduan dari lumpur, becek air dan kotoran kelelawar menjadi pemandangan dalam goa. Arma menjadi guide kami masuk ke dalam goa. Ia yang pecinta alam menjadi penunjuk arah kami kami yang orang sipil dalam dunia pergoaan. Masuk goa hingga dua ratus meter jaraknya membuat kami yang tidak familiar dengan pergoaan cukup takut. Apalagi saya dan Stella. Kami berteriak memarahi Arma yang dengan seenaknya mengambil jalan macem macem mau jalan jauh lagi. Arma dan Nur hanya tertawa tawa. Mereka bilang, kalau di dalam merasa terancam sih wajar wajar saja. huaaaaa… tidaaaaakkk.. terimaaaciiiih.. tidak lagi mau masuk ke dalam goa goaan. Kami senang hidup sebagai mahluk bumi yang hidup di atas sana.

Menurut wawancara dengan pengelola setempat, Goa Kiskendo memang sengaja dibiarkan tanpa penerangan untuk menjaga ekosistem alami goa. Mahasiswa Biologi dari UGM menyarankan agar mengurangi penggunaan lampu agar bakteri yang tinggal di batuan dalam goa dapat berkembang dengan baik.

Goa Kiskendo memiliki cerita unik. Kiskendo adalah sebuah goa tempat Subali Sugriwa memperebutkan ego dan harga diri. Perebutan Dewi Tara menjadi awal mula mereka berebut kuasa. Dewi Tara, putri dari khayangan hanya bisa dimiliki jika salah satu dari mereka bisa membunuh lembu mahisasura yang berdiam di Goa Kiskendo. Suatu ketika Subali masuk ke goa dan ia berpesan apabila darah yang keluar berwarna merah maka Mahisasura mati namun jika darah yang keluar berwarna putih keluar maka ialah yang binasa. Sugriwa yang menunggu kakaknya di mulut goa akhirnya melihat darah merah bercampur putih keluar dari aliran air. Ia pikir kakaknya mati di dalam. Akhirnya ia menutup pintu goa dengan batu besar. Subali yang naik ke atas kemudian bingung karena tidak menemukan jalan keluar. Dengan kekuatannya ia terbang dan menjebol dinding goa bagian atas. Sekarang dinding goa yang jebol itu ditutup agar tidak ada orang yang jatuh ke dalam goaapabila melintas di atasnya. Subali kemudian menyusul adiknya ke khayangan. Sampai disana ia kaget karena Sugriwa mengaku aku memenangkan pertarungan. Perkelahian pun terjadi dan dimenangkan oleh Subali.

Sebagai branding Jatimulyo, pengelola setempat menyelenggarakan sendratari setiap minggu ketiga tiap tiap bulan selama satu tahun lebih sebagai implementasi dari pelestarian kebudayaan dan folklor setempat. Sendratari yang menceritakan tentang pertarungan Sugriwa Subali ini dilaksanakan di area Goa Kiskendo pada pukul 10.00 hingga dhuhur. Diiringi dengan sinden dan seperangkat gamelan yang dimainkan di sisi panggung, mampu melengkapi suasana sendratari yang sederhana namun memukau. Meski belumlah seemejing sendratari Ramayana di Prambanan, setidaknya sendratari Sugriwa Subali mampu mengangkat Jatimulyo tidak hanya wisata alamnya saja namun juga wisata budaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s