Yuk, mBandung Sik

Pernah ke Bandung? Kalau Bandungan?. Dua hal tersebut sangat berbeda jauh. Kalau Bandung terletak di Jawa Barat sedangkan Bandungan di Jawa Tengah. Jauh sebelum saya pergi ke Bandung, saya sudah familiar dengan Bandungan, sebuah kota kecil di ketinggian tempat saya mengunjungi Candi Gedongsongo. Orang Jawa yang biasa menambahkan awalan -m pada beberapa kata mungkin akan menyebut kota Bandung dengan mBandung seperti halnya Ibu saya melafalkan nama kota tersebut hampir sama seperti beliau menyebut daerah Bandungan menjadi mBandungan. Tapi kali ini saya nggak akan bercerita tentang Bandungan. Itu nanti di halaman lain saja. Kali ini tentang kesan saya mengunjungi Bandung. Ya, Bandung. Bukan Bandung(an).

Pertama kalinya saya ke Bandung adalah ketika saya diundang datang ke sebuah konferensi. Saya baru saja turun dari kereta ketika subuh pun belum saatnya bersahutan sahutan. Perjalanan delapan jam lebih dari Stasiun Lempuyangan, dengan menggunakan kereta ekonomi cukup membuat saya bertambah pegal karena sudah hampir tiga malam tidur saya berantakan.

Saya duduk dengan salah seorang priyayi Bandung yang sedang merantau ke Madiun. Ia bercerita bahwa ia adalah seorang kuli yang menyambi kuliah IT. Wewww.. oke. Kuli. Fine. Ia bercerita bahwa ia ingin menjenguk istri dan anaknya yang sudah sebulanan ia tinggal. “biasanya malah lebih lama lagi neng. Saya bisa beberapa bulan nggak pulang kalau sudah ditempatkan di luar Jawa.” Berpisah dengan anak istri pastilah pilihan berat.

Saat itu saya harus menghadiri sebuah acara di daerah DU (Dipati Ukur). Saya yang sedari semalaman tidak mandi, tentu saja merasa gerah dan sangat tidak mungkin untuk masuk ruangan dengan badan bau. Saya meminta ijin pada panitia untuk mencari ruangan transit tapi sayangnya mereka sedang riweh dengan urusan mereka dan dengan sopan meminta saya untuk melakukan registrasi pada pukul 8 pagi. Saya tentu tidak bisa menunggu hingga acara dimulai. Mulailah saya harus berpikir kreatif untuk mencari sumber air. Saya putari kompleks bangunan dan setelah bertanya disana sini, saya menemukan kamar mandi. Dengan air seadanya, saya mandi. Kalau saya pikir, ngapain saya nggak mandi di masjid aja yak? Lebih bersih dan ada kacanya. Hoho. Ya sudah, orang udah berlalu juga. Nggak usah dipikir terlalu dalam juga. haha.

Selama kegiatan berlangsung, tidak ada yang saya lakukan selain terkantuk kantuk dan sesekali saya jatuh dalam lelap. Capek euy. Saya nggak sanggup bertahan sebenarnya. Malah mungkin hanya saya satu satunya peserta yang dengan seenaknya menyandarkan kepala sambil tertidur sementara pembicara berbicara dengan berapi api. Peserta lain dengan sangat bersemangat masih menyimak pembicara dan mengajukan pertanyaan. Saya sudah tidak peduli lagi. Saya capai dan ingin tidur. Itu saja. Dan  by the way, materinya sudah pernah saya dapatkan dan pelajari.

Kesan saya terhadap kota Bandung: angkotnya sliweran euy.. disini masalah moda transportasi nampaknya bukan perkara sulit ditemui. Kemana mana tinggal berhenti dan melambaikan tangan pada angkot warna khusus sesuai jurusan. Kalau mau berhenti di tempat tujuan tinggal bilang, ”A’ kiri depan ya”. Berbeda dengan di Jogja dimana mau pergi kemana mana sulitnya setengah mati. Populasi motor di Jogja masih lebih banyak dibandingkan dengan angkutan umum. Jangan bayangkan Trans Jogja sekarang senyaman dulu. Saya sampai mual gara gara asapnya pekat dan hitam. Di Bandung, mungkin masalah yang ada adalah kesemrawutan kota karena angkutan publik, kendaraan pribadi tumpah ruah memenuhi jalan. Uniknya saya menemui pengamen yang melakukan konser live di dalam angkot!. Euleuh euleuh.. wani pisan.. saya sedang asik asiknya menonton jalan di balik kaca angkot yang saya tumpangi. Kemudian tiba tiba seorang laki laki muda berpenampilan cukup necis masuk dan meminta ijin menyanyikan sebuah lagu. Penampilan necis, sopan pula. Pengamen keren. Haha. di perempatan selanjutnya ada segerombolan anak anak yang tiba tiba menengadahkan tangan pada penumpang. Heeee… ya kali di tiap perempatan masa harus ada pengamen.

Cerita lagi nih soal angkot. Saya berencana untuk pergi ke Pasar Balubur. Pasar tersebut adalah tempat yang direkomendasikan teman saya untuk membeli oleh oleh yang bisa dibeli kiloan. (Saya tidak ingin pergi ke mall manapun di Bandung. Jengah euy ngemall melulu. Di Jogja juga udah banyak mall). Saya, Ikram dan Sandi menumpang angkot ke arah Balubur. Kami sudah bilang bahwa kami akan turun di dekat dekat Balubur tapi Bapaknya dengan santainya meluncurkan angkotnya jauh melewati tempat pemberhentian kami. Ketika sudah lewat jauh, ia baru berhenti dan bilang bahwa Baltoz sudah terlewat jauh. Dengan entengnya, sopir tersebut berkata “Kalau mau jalan aja”. Widih.. dasar nggak care, sial banget nih. Kami harus berjalan kurang lebih 800 meter ke arah Balubur. Jauh juga euy. Mana carrier saya isinya penuh muatan.

O, ya masalah lingkungan. Sungai. Saat itu saya menemani Sukma yang harus mengambil sepatu di tempat kerabatnya. Kami melewati sebuah jembatan dengan sungai kecil mengalir di bawahnya. Sumpah, kalinya kotor banget. Airnya ijo tanda tak pernah dibersihkan. Sampah dimana mana, sepertinya rumah tangga yang berdiri di deretan sungai tidak pernah memperhatikan kebersihan sungai tersebut. rupanya masalah ini tidak hanya ada di daerah saya namun sepertinya ini adalah masalah umum dimana mana tidak terkecuali. Yah, orang Indonesia memang tidak memperhatikan kesehatan. Kalau gini jadi inget sama ide proyeknya Mas Ipul yang mau bikin Festival Sungai agar sungai tidak hanya dijadikan halaman belakang namun juga halaman penting bagi para warganya.

Makanan di Bandung? Saya seneng banget sama batagor kering. Ini makanan ringan yang enakkkk bangetttt. Snack gurih lezat yang saya yakin kalo dikasih satu kilo, saya mau mau aja ngemil. Peduli apa soal gendut. Ehehe. Cireng, aci digoreng yang ditaburi dengan taburan serbuk keju atau balado. Belum lagi dodol Bandung yang menurut saya rasanya enak juga. kelapa diparut dibikin dodol. Teksturnya beda dari dodol kebanyakan yang saya konsumsi.

Orang orang Bandung cukup ramah. Mereka orang orang yang menyenangkan. Cewek ceweknya, apalagi. Cantik cantik. Mau ke mana pun, nggak ke pasar nggak ke mall cakep bener dah. Terlepas dari hal itu, saya suka ketika mendengar orang Bandung berbicara. Logat dan bahasa yang berbeda terdengar sangat renyah di telinga.

Bandung, cukup indah dengan segala plus minusnya. Tapi saya sudah sejak sangat lama tinggal di daerah yang sama indahnya dengan Bandung. Cukup dengan Salatiga saja saya sudah merasa bahagia. Ahay..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s