Yuk, mBandung Sik II

Jangan lewatkan mampir ke Lembang kalau lagi ke Bandung. Saya punya pengalaman menarik disini.

Lembang tuh mirip-mirip daerah Kopeng (Salatiga) atau Kaliurang (Yogya) gitu sih menurut saya. Cuma bedanya adalah disini betebaran villa-villa mewah. Saya dan serombongan teman dibawa ke sebuah daerah bernama gunung Batu untuk melihat daerah Bandung dari atas bukit. Gunung Batu sebenarnya bukan sebuah gunung. Ini cuma sebuah bukit yang berbatu batu. Jadi keinget film Kera Sakti. Hehe. Mirip mirip Nglanggeran di Gunung Kidul, Yogyakarta gitu sih. Tapi bedanya kalau di Nglanggeran viewnya hijau tapi kalau di Gunung Batu, viewnya kota. Harusnya tempat ini jadi salah satu objek wisata buat ngelihat sunrise atau sunset. Pasti caem banget.

Dari atas bukit kami melihat bahwa Bandung adalah daerah potensial gempa yang luar biasa mengerikan. Sebuah kota, diapit patahan disana sini, dan gunung api yang masih aktif. Sangat amat sangat membahayakan jika warganya tidak diajak untuk mengantisipasi segala kemungkinan jika bencana datang. Tentunya akan banyak timbul kerugian. Harta benda masih bisa dicari, tapi nyawa dan keluarga? tidak akan pernah ada gantinya.

Tak lama setelah melihat Bandung dari atas bukit, saya mengunjungi juga Tangkuban Perahu. Sebuah gunung yang saya ‘daki’ dengan sangat amat sangat mudah pakai banget. Diantara perjalanan naik gunung saya, inilah yang paling nggak pake energi. Tinggal pake mobil, parkir, diantar pake mobil lagi ke bibir kawah. Udah bergaya kayak turis aja saya. Haha.

Ingat legenda Dayang Sumbi? Ya, inilah gunung yang konon katanya merupakan perahu yang ditendang oleh Sangkuriang yang kecewa karena janjinya membuatkan perahu besar tak kesampaian. Dan dari atas Gunung Batu inilah, kami bisa melihat hamparan danau yang sudah mengering menjadi kota Bandung. Jadi sebenarnya logikanya sangat berhubungan. Ada danau yang luas, kemudian ada gunung yang berbentuk seperti perahu dan masyarakat menghubungan keduanya lewat sebuah legenda tentang anak muda yang menikahi gadis cantik yang tidak disangka adalah ibunya sendiri.

Saya melihat sebuah kawah raksasa membentang luas di depan saya. Ketika melihat struktur batuan yang ada di sekitar kawah, saya jadi teringat pada salah satu pelajar yang tewas akibat selfie di atas batu curam di atas Gunung Merapi. Dia terlalu ekstrim. Terlalu mengedepankan egonya dibandingkan nyawanya. Meskipun saya belum pernah ke Merapi, saya bisa membayangkan bahwa siapapun yang terjatuh hingga hampir ke kawah tentunya hanya tinggal menunggu maut menjemput. Batu batu curam yang mungkin melukai tubuh, membuat luka disana sini, belum kalau kena organ vital. Bau asap belerang yang jika terhirup terus menerus tentunya juka tidak baik bagi tubuh. Belum lagi keasamannya yang bisa merusak kulit. Belum kalau beneran jatuh ke dalamnya, bisa mateng beneran. Suhunya kan tinggi banget.

Bedanya dengan Gunung Merapi yang ada di dekat rumah saya, warga tidak menggunakan hasil alam (bebatuan dan pasir) yang sudah dimuntahkan oleh Tangkuban Perahu. Menurut warga setempat, sudah pernah dilakukan pemanfaatan batuan dan pasir gunung tersebut akan tetapi hasilnya tidak bagus. Maka mereka tidak pernah lagi menggunakannya untuk membangun rumah. Hmm.. ternyata tidak semua gunung bisa mengeluarkan materi yang sama. Berkah yang diberikanNya untuk Merapi ternyata tidak serta merta juga dihadiahkan untuk Tangkuban. Mungkin memang rejekinya berbeda beda. Kalau warga memanfaatkan ‘hadiah’ dari bencana Merapi berupa pasir dan bebatuan, Tangkuban sudah cukup untuk mendatangkan devisa berjuta juta tiap harinya dari para turis yang mengunjungi tempat ini. Tuhan sungguh tahu cara paling tepat memberikan hadiah untuk masing masing mahluknya dengan cara yang paling unik.

Pariwisata di daerah ini sudah sangat tertata dengan baik. bukit bukit terjal ditata dengan sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa naik ke atasnya dan melihat pemandangan dengan sudut lain. Angkutan yang disediakan dan jalan aspal yang mulus juga sangat membuat nyaman para penumpang. Pokoknya ini adalah gunung yang orang nggak perlu riweh dan susah untuk mendaki. Tapi panasnya, ampun dah. Banget nget.

Satu kata untuk perjalanan saya ketika di Bandung kemaren: asik. Perspektif lain soal tata kota dan lingkungan yang membangun di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s