Secangkir Cinta di Gorontalo: Pelajaran Dua Bulan

IMG_3041

KKN itu Ketemu Keluarga Nyata. Buat yang mau belajar berumah tangga, KKN bisa direkomendasikan sebagai tempat utama buat belajar. Haha. Seriusan. Saya merasakan sendiri bagaimana memenej sebuah rumah tangga. Benar benar saya dihadapkan pada situasi dimana saya dan teman teman bermain roleplay di kehidupan sebuah keluarga kecil. Ada ayah, ibu, anak. Ada masalah, ada pembicaraan untuk mencari solusi, dan jalan keluar dari masalah itu sendiri.

Ok, flashback dulu ke ingatan saya mengenai pondokan kami waktu itu. Pertama kali tiba di Sukamakmur, kami tidak menyangka akan mendapatkan sebuah rumah dengan peralatan dapur yang bisa dibilang mewah karena cukup lengkap. Bisa dibilang mewah karena kami tidak harus membeli peralatan tersebut –yang kami pikir harus beli dengan harga cukup mahal-. Bahkan ibu kepala desa memberikan kami satu set panci yang masih baru. Duh.. baik banget. Bahkan warga yang membersihkan rumah kosong milik Te Oppa sekamar kamarnya tersebut. Betapa saya mensyukuri nikmatNya. Satu rumah lengkap, tanpa induk semang, membuat kami bisa leluasa mengatur diri kami untuk belajar menata peran dalam rumah. Belajar memahami bahwa suatu saat kita akan kembali ke sebuah nama: keluarga.

Rumah pondokan kami punya teras kecil, ruang tamu yang cukup luas dengan dua kamar dan satu kamar mandi yang menjadi satu dengan ruang tamu. Helmi, Rosi, Mas Yan dan Niam tidur bersama di kamar tersebut. Saya pernah sekali tidur di kamar mereka karena kamar saya digunakan tamu dari Mongiilo. Saya dan Santika merasa sangat lapang tidur di kasur mereka. Hanya saja, kami penasaran siapa yang tidur di bawah dan siapa tidur di atas. Apakah cepet cepetan? Apakah mereka menjadwal siapa tidur dimana? Haha. Yasudah. Pertanyaan iseng yang tidak penting.

IMG_4148

Kamar tengah; saya, Mbak Mira dan Santika

Ruang tengahnya tidak cukup luas tapi cukup untuk dua kamar, satu ruang tengah untuk menggelar tikar dan ada sebuah meja besar yang biasa kami isi dengan berbagai macam makanan serta ada ruangan kecil yang hanya bisa dibuka pemilknya untuk mengambil keperluan tokonya. Dua kamar tidur ini dibagi untuk berlima. ‘anak anak’ menempati kamar yang menempel dengan kamar anak laki laki di depan. Saya, mbak Mira dan Santika tidur di ruang ini. Sedangkan Mbak Aidah dan Mbak Tari tidur di kamar satunya. Saya selalu ingat, kami menggelar rapat di awal awal kami KKN di ruang tengah ini. Rosi sebagai kepala keluarga membuat briefing singkat sebelum kami tidur. Tak jarang pula kami nyampah nggak jelas di tikar ruang tengah sambil saya menulis diary setiap harinya. (hanya saya dan Niam yang konsisten punya catatan harian. Tapi masih lebih konsisten dia daripada saya). Setiap pagi, kami memasak air dan dimasukkan ke semua botol air yang kami punya agar malam harinya kami tidak kebingungan kehausan mencari air. Mengamankan sumber air. Begitulah. Haha. Meja besar itu juga dijadikan tempat lauk pauk ketika makan tiba. Ada kalanya anak anak mengambili makanan itu. Saya tahu tapi saya membiarkan. Saya ingin sekali membuatkan makanan dalam jumlah banyak, tapi imposibel karena tidak ada cukup waktu dan bahan. Jadi kalau mereka icip icip biarlah. Yah, walaupun icip icipnya kadang ngga tata juga. Asal comot dan nggak bilang. Tapi yah, selama masih ada cukup sisa untuk teman teman saya, its okay.

Di bagian paling belakang, ada sebuah ruangan yang besarnya hampir seperti ruang tamu. Sebuah ruang luas untuk bereksperimen memanjakan perut anak anak kosan yang nggak keurus makannya. Ruang ini adalah ruang terpenting untuk kami. Disinilah kami belajar untuk memasak Ada pawon kecil di sebelah dapur. Ketika kami kehabisan gas, maka kami berinisiatif untuk mengambil kayu dan menggunakan tungku agar kami cepat bisa makan. Lepas dari pawon, halaman luas dengan bukit –yang bisa saja longsor di musim penghujan-. Di bukit itulah biasanya saya ngopi dan makan kue di sore atau pagi hari sambil menontoni kabut turun dari hutan Gorontalo. Indah. Kadang sendirian, kadang sama mbak Mira, kadang sama Santika. Tapi saya lebih sering sendirian. Yang paling asik itu waktu nontonin aliran sungai sambil segelas kopi di tangan dan kukisi di wadah kecil.

Lahan kosong di antara rumah Te Oppa dan rumah kami waktu itu adalah ladang bayam liar. Saya sering sekali menyiangi daun bayam bayaman itu dan kemudian dimasak bening menjadi sayur untuk makan siang dan makan malam. Lahan depan teras adalah tempat anak anak biasa bermain di sore hari. Kadang kala Alia dan genknya akan mampir ke tempat kami dan bermain di depan. Di akhir akhir ketika kami akan berpisah malah beberapa anak ada yang mendadak rajin. Mereka mau nyapuin halaman kami.

Pembagian tugas adalah hal penting tiap harinya. Ada yang menyapu, ada yang memasak ada yang mengurus hal hal lainnya. Tugas menyapu adalah yang paling membosankan bagi saya. Hampir sering saya menyapu bagian depan rumah dan belakang rumah. Saya pernah sekali mengerjai Mas Yan. Waktu itu ia mau pergi turun ke Mongiilo dan saya tidak mengijinkannya pergi jika ia tidak menyapu halaman depan rumah. Dan ia mau menyapu. Haha. Itu momen lucu. Sungguh.

Memasak? Tiap hari. Rutin. Kami memasak dengan tangan kami sendiri. Kreativitas yang muncul, bumbu sembarang asal masukin, nggak pakai micin, ide nggak jelas yang tidak pernah membiarkan ada bahan yang mubadzir, bahan bahan seadanya. Tapi kok ya alhamdulilahnya hasilnya enak. Tidak cuma perempuan. Laki laki di tempat kami pun mau mengotori tangannya di dapur. Kami juga cuek mau pada bikin apa. Silakan bikin sekenamu, semaumu, sepengenmu, secaramu, sebahagiamu. Jadi, kami tidak ada yang saling mengajari. Silakan pokoknya sakkreatifmu. Kamu sudah besar, sudah bisa berkembang dan kami percaya pada apa yang kamu buat. Kepercayaan itulah yang mungkin membuat kami betah makan mulu. Haha.

Setiap kali makan, kami akan menunggui satu sama lain. Jika ada seorang saja yang belum muncul, maka kami akan mencarinya dan menyuruhnya untuk makan dulu sebelum beraktifitas. “pulang, makan dulu”. Begitulah kami. Piring, gelas, makanan di tata lesehan di ruang tamu. Kami akan mengambil makanan dan menyantapnya hingga tandas tak tersisa. Bagaimana jika ada sisa? Ah, masihlah bisa dimakan untuk nanti malam. Tak ada yang mubadzir disini. Helmi biasanya akan mengambil kesempatan terakhir karena ia akan menghabiskan makanannya. Yang paling gampang ditebak adalah saya dan Santika. Kami berdua adalah yang makannya paling lambat. Tapi kalau masalah kerja, saya tidak mau disebut lambat. Makan boleh lambat karena saya menikmati prosesnya dan mengunyah dengan pelan. Ya, meskipun kunyahannya tidaklah mencapai tiga puluh tiga seperti yang orang bilang bahwa makanan harus dikunyah sebanyak itu. yang saya ingat adalah, biasanya ada kontes. “sing mangane keri dewe dadi bojoku”. Seperti itu mas yan bilang. Dan saat itu saya menyegerakan makan saya agar saya tidak menjadi yang terakhir. Saya lebih senang jika Santika saja yang jadi istrinya mas yan. Haha. Santika menyukai piring biru.

IMG_3801

Sesi melingkar

Yang saya sadari dari sesi makan adalah semua orang saling menyesuaikan. Saya baru menyadari bahwa teman teman saya bukanlah orang yang menyukai pedas. Maksud saya tidak sefreak saya dengan cabai. Level saya sudah parah. Bahkan ibu saya pernah mewejangi agar saya mengurangi cabai cabaian.Satu satunya orang di KKN yang sama kacaunya kalau makan cabai hanya Niam. Santika dan Helmi bukan orang yang tahan pedas sebenarnya. Bahkan Helmi sebenarnya tidak suka pedas. Mbak Tari ada masalah dengan organ dalamnya sehingga tidak bisa pedas. Agak berbahaya jika terlalu banyak cabai. Tapi disini, semua suka pedas. Haha. Rosi yang tipenya anak rumahan, mau tidak mau harus mengikuti style anak kosan kami semua yang serba hidup apa adanya.

Tidak hanya masalah perut yang harus menyesuaikan satu sama lain. Ada banyak hal krusial lain yang juga harus disatukan. Kami sudah seperti keluarga. Satu sama lainnya saling memahami. Jika ada yang kerepotan maka yang lain akan turun tangan membantu. Tidak ada rasa gengsi yang muncul. Bahkan saya menangkap mereka adalah orang orang gila yang apa adanya. Saya bangetlah pokoknya. Yowes, iki aku. Nampa ra nampa iki aku, ayo padha sinau mangerteni siji liyane. *Apapun itu, inilah saya. Terima atau tidak, ya beginilah saya. Poin yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menghargai dan bertoleransi satu sama lain.

Bukankah orang dikumpulkan berdasarkan niat?. Sekumpulan orang bisa disatukan jika memiliki persamaan persepsi. Satu niatan. Kami merasa disatukan karena niat mengabdi dan satu sama lain cocok dengan hal ini. Oleh karenanya, kami memiliki keterikatan perasaan karena menjadikan satu sama lain sandaran. Layaknya keluarga, kami akan bercerita satu sama lain (yang biasanya hobi curhat sih, Santika). Seringkali kami, kamar tengah baru akan tidur selepas pukul 11 malam karena kami curhat satu sama lain. Dua sleeping bag dijadikan selimut untuk tiga orang. Mbak Mira di ujung dekat tembok, Santika tengah dan saya harus selalu di pinggir. Kami berbagi cerita cerita tentang kami untuk lebih mengenal bagaimana hidup berjalan. Berisik memang. Tapi ngangeni. Tidak hanya kami bertiga, terkadang kami membuat forum besar untuk bertukar pikiran dan semuar orang bebas bercerita. Entah siapa yang terlibat dalam forum besar itu, biasanya banyak sekali hal mengalir yang bisa diceritakan bahkan ditertawakan satu sama lain. Menertawakan hidup, bukankah itu adalah salah satu cara menikmati hidup?.

Yang namanya keseimbangan membutuhkan dua hal yang kontras. Jika ada hitam, maka ada warna putih. Jika ada terang, ada gelap. Ada merah ada biru. *emang kerokan?. Haha. Ya begitulah hidup. Selalu harus membutuhkan keseimbangan. Jika dalam dua bulan itu semua hal manis terus, ya jelas sangat membosankan. Terkadang perlu ada riak riak kecil dalam kehidupan untuk mengajarkan bahwa kita harus belajar untuk memahami satu sama lain. Crash? Tentu saja pernah. Marahan? Pasti sekali dua kali ada waktunya. Ada hal yang nggak cocok? Merasa nggak sreg dengan sebuah keputusan yang diambil orang lain? Sebel? Kecewa? Dan banyak hal lain yang berhubungan dengan emosi negatif. Nggak mungkin dalam dua bulan itu kami terbawa dengan hal hal manis dan indah. Di sebuah sore di bukit belakang rumah, saya merenungi tentang keseimbangan. Hal keren yang bisa saya ambil dari perjalanan dua bulan ini adalah setiap orang mampu menempatkan diri dengan baik. Kami berbeda, ya tentu saja sangat berbeda. Tidak ada di dunia ini manusia yang sama. Tapi titik kerennya adalah kami bisa menempatkan diri di tengah perbedaan yang sangat besar. Bisa saja kami crash berkepanjangan satu sama lain hanya karena tidak mau mengalah. Tapi orang orang ini sungguh luar biasa. Mereka mau stalemate, menahan diri untuk tidak maju mengalahkan tapi juga tidak begitu saja mundur. Kami, bersembilan disatukan karena sebuah tujuan: tinggal di daerah terujung dan entah bagaimana caranya bisa survive untuk belajar hidup. Mungkin, inilah yang membuat kami bisa bertahan satu sama lain, bisa menurunkan ego untuk orang lain. Satu dengan lainnya tidak semena mena. Kami menjaga satu sama lain karena kami merasa senasib sepenanggungan. Saya sendiri cukup merasa kagum dengan orang orang ini. Nggak peduli cewek apa cowok, mereka mau berkorban satu sama lain. Yang cewek sadar diri dengan posisinya bisa menempatkan diri menjadi ibu yang baik, yang cowok pun juga nggak risih kalau dimintain bantuan buat nyuci piring. Yang cewek tidak ragu untuk memahami perannya sebagai perempuan dan terkadang bisa juga menjadi pemimpin jika dibutuhkan. Yang cowok selalu bisa mengayomi dan menempatkan dirinya benar benar sebagai laki-laki yang diamanahi untuk menjadi pemimpin. Hal hal sesimple itu sebenarnya yang membuat saya sadar bahwa pada akhirnya semua hal tidak akan bisa jika dikerjakan sendirian. Ada hal yang membuat kita bisa bersatu: masalah. Dan masalah kita adalah bagaimana bisa bertahan dan bekerjasama satu sama lain di tengah tengah perbedaan yang sebenarnya besar. Hasilnya: damn..  ingatan tentang dua bulan di Gorontalo begitu melekat kuat. Bukan soal kami bisa menyelesaikan tugas yang diberikan sekolah. Tapi tentang ikatan emosi yang tidak bisa saya lepaskan dari perasaan saya. Tapi benar benar dua bulan pembelajaran yang memberi penerangan batin. Haaaaah.. Banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Tentang pelajaran pelajaran yang saya berusaha untuk resapi. Mungkin lain kesempatan akan ada lagi sesi untuk itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s