Tegarlah, Kawan

Saya mengetuk pintu rumah salah satu sahabat kecil. Matanya sembab, suaranya lemah dan ia terlihat lelah. Semalam ia terbang dari Jakarta ke Solo kemudian menempuh perjalanan dua jam lebih ke Salatiga karena sebuah kabar yang menggelegar. Ayahnya telah tiada. Tanggal satu juli besok, ia sudah berjanji dalam hati bahwa ia akan pulang, dengan kejutan sepatu kulit untuk ayah tercinta. Sudah lama ia dan ayahnya juga akan merencanakan untuk pergi ke saudara saudaranya, bersilaturahmi. Tapi apa daya, Tuhan lebih menyayangi ayahnya. Satu hari sebelum ramadhan tiba, ayahnya berpulang ke pangkuan Yang Kuasa. Sahabat saya menangis di sepanjang jalan di bandara. Yang ia inginkan hanyalah pulang.

Baru sehari yang lalu tetangga samping rumah mengira ayahnya masih tertidur ketika matahari sudah bangun dari peraduan. Tapi hingga teriknya mentari yang meninggi, pintu tak jua dibuka. Pintu terpaksa didobrak dan ternyata ia sudah tiada.

Flashback ke masa bertahun tahun yang lalu. Jogja adalah salah satu serpihan kenangan saya. Suatu ketika di hari minggu pagi, saya diajak pergi ke Jogja oleh keluarga sahabat saya ini. Ayahnya yang begitu memercayai saya mengajak saya untuk ikut dalam trip keluarga ini. Perjalanan melewati Kopeng, Magelang, kemudian.. Jogja. Parangtritis, sebuah pantai pasir hitam nun jauh disana adalah tempat saya dan teman teman bermain air.

Belum lagi ketika saya berkunjung saat liburan atau lebaran. Ia menyalami, bercerita panjang lebar dan tersenyum dengan ramahnya. Sungguh sosok yang menyenangkan. Tapi kini ia telah tiada. Sakit komplikasi yang menyerang membuatnya harus meninggalkan dunia, lebih cepat dari seharusnya ia melihat putrinya tumbuh dewasa.

Saya benar benar miris dengan kondisi putrinya saat ini. Seorang pejuang kehidupan yang saya kenal betul sejak kecil. Ia adalah siswa berprestasi, tidak pernah neko neko dan sungguh menyayangi ayahnya karena sejak kecil ia dirawat oleh ayahnya sementara ibunya pergi.

Saya mengenal ayahnya sebagai seorang yang memperhatikan pendidikan putrinya. Segala akan ia lakukan sekalipun ia akan memberikan hidupnya sekalipun agar putrinya bisa lebih baik darinya. Ia tidak peduli untuk menjual apapun yang dimiliki agar ia bisa tetap sekolah. Pendidikan adalah nomer satu. Hingga putrinya lulus, ia bahkan yang menguruskan semua dokumen, mengaturkannya dan mendorong putrinya agar tidak berberat hati meninggalkannya sendirian di rumah. Putrinya melangkah dengan berat untuk meninggalkan rumah. Hanya karena ayahnya sendiri yang memohonnya untuk menjauh demi mengejar cita citanya, ia sebenarnya tak sudi untuk berpisah. Ia terlalu sayang ayah karena ayah adalah ayah sekaligus ibunya. Ia terlalu sayang, telalu cinta.

Ia kehilangan segalanya. Tentang cinta ayah yang terhenti di usia dua puluh dua akhir, hanya setengah bulan lagi sebelum umurnya bertambah setahun lagi. Tentang cinta salah seorang yang seharusnya paling tulus tapi ia tak pernah memberikannya dengan hangat, cinta seorang ibu. Dengan masalah yang membentang dan ia sendirian. Pahit. Iya. Dan saya membuang muka karena saya saya tidak sanggup menangis di depan sahabat saya ini. Terlalu banyak kenangan yang melintas tentang ayah-anak ini. Terlalu sedih memikirkan bahwa putri cantik ini akan jadi seorang single fighter untuk dirinya sendiri mulai hari ini.

Hey kawan, semoga ujian ini akan membawamu pada cerita lain yang sudah dirancang indah olehNya. Semoga ayahmu bahagia disana. Semoga diampuni dosanya dan ditempatkan di surga atas jasanya merawatmu dengan penuh kasih sayang hingga akhir hayatnya. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s