Becak, tolong (jangan bawa) saya

Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki

melihat dengan jelas keramaian yang ada

kami panggilkan becak 

kereta tak berkuda

becak .. becak..

tolong bawa saya..

Ini adalah penggalan lagu anak anak yang saya dengarkan ketika saya kecil dulu. Bahkan Jubing Kristianto sudah mengalunkan iramanya lewat petikan gitar kontemporer yang caemnya minta ampun. awwww.. kece banget dah lagunya. Oke, ini hanya sekedar pengantar. hehe.

Becak dan tik tok (sebutan saya untuk delman) adalah transportasi masa kecil yang saya sukai karena saya suka melihat lihat jalan dengan perlahan. Tapi sekarang saya mau cerita salah satu pengalaman saya menggunakan becak.

Becak, sudah lama sekali sejak terakhir saya menggunakan becak. Bukan apa apa, saya memang tidak mau (lagi) menggunakan becak. Bukan karena membenci hal hal tradisional dan lebih memilih menjadi anak yang sok modern, tapi karena saya marah. Saya malas menggunakan becak.

Suatu ketika saya turun dari bis dan baru saja menata tas saya, datanglah seorang bapak tua menanyakan pada saya apakah saya ingin menggunakan jasanya. “Murah mbak, terserah mbaknya mau bayar berapa”. Melihat jam di tangan yang hampir menunjukkan waktu kereta berangkat yang tinggal 20 menit lagi, saya mengiyakan tawaran bapak itu. dalam hati, karena jarak antara saya turun dari bis sampai perhentian kereta tidaklah terlalu jauh, maka saya pikir semahal mahalnya hanya sepuluh ribuan. Saya juga berpikir untuk menambah bapak itu dengan keripik kering yang dibawakan ibu saya. Lumayan, bisa digoreng buat tambahan cemilan di rumah bapaknya. Nemenin ngopi atau ngeteh gitu.

Tidak sampai lima menit saya dibawa oleh becak tersebut hingga ke parkiran. Ketika saya ingin mengulurkan uang, tiba tiba ia berkata “dua puluh ribu mbak”. Saya tercengang. “haaaa.. tureen wau sak saged e kula bayaripun, Pak. Kok dados mencla-mencle kados niki”. Terjemahan bebasnya “tadi bukannya Bapak bilang bahwa saya bisa bayar semampu saya? Kok omongan bapak tidak sesuai”. Bapak tua itu tadi menjawab “jajal takok karo liyane mbak. Ning ndi ndi pada wae”. Saya marah. Saya ulurkan dua lembar dua puluh ribuan lagi. Bukan masalah untuk saya uang sebesar itu. Saya anggap itu sedekah karena ia lebih membutuhkan. Yang membuat saya marah adalah ucapan bapak itu tadi. Bukan karena engkau adalah seorang wong cilik, lantas tidak bisa berperilaku berkelas bukan?. Ketika engkau bisa menjaga apa yang kau katakan, itu adalah suatu hal yang luar biasa indah untuk manusia lain yang mendengar dan merasakannya.

Ah, gara gara perilaku bapak itu, saya jadi tidak mau lagi menggunakan becak (kalau nggak kepepet bener). Nggak mau ketipu lagi. Mending jalan kaki daripada uring uringan gara gara omongan. Becak.. becak.. mending (nggak usah bawa) saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s