Secangkir Cinta di Gorontalo: Cerita dari Kemah Pramuka

Kemah tiga hari di Mongiilo menjadi hari besar untuk anak anak Sukamakmur dan Pilolaheya turun ke kecamatan untuk mengikuti serangkaian kemah bakti pramuka. Kemah tersebut rutin dilakukan tahunan untuk memperingati Hari Pramuka sekaligus menyemarakkan pelaksanaan tujuhbelas agustusan di Gorontalo.

Saya, mbak tari dan Helmi membantu perayaan tersebut. Hari pertama, dua buah mobil diturunkan untuk mengangkut sekumpulan siswa SD dan SMP ke kecamatan. Semua terlihat riang gembira mengikuti kegiatan kemah tersebut. Satu jam perjalanan, kami berhenti di rumah salah satu ibu guru disana. Anak anak SD akan tidur di rumah ibu guru dan anak anak SMP tidur di gedung SD Mongiilo.

Tradisi pasang memasang tenda dilaksanakan pada sore hari menjelang apel sore. Ya, bisa jadi nostalgia saya waktu saya masih SMP dulu. Tenda yang cukup apik berhasil didirikan dengan bantuan semua guru dan juga murid. Begitu juga tenda milik SMP. Jadi inget dulu waktu bantuin mendirikan tenda, secara tidak sengaja saya melukai tangan Ardha hingga berdarah. Haaa.. maap daa.. nggak sengaja. Sumpah. Dan apa kabar teman teman seregu saya yang pada nggak jelas itu. semoga mereka sehat selalu.

Pada malam hari, diadakan nobar film –entah apa itu judulnya saya lupa. Pokoknya film yang mengangkat tema kebangsaan lah. Ya sejenis itu, fungsinya untuk memupuk rasa cinta tanah air pada anak anak.

Entah bagaimana pengelolaan dan koordinasi semua pihak, banyak sekali masalah terjadi. Mulai dari kurangnya kabel, tidak siapnya personil guru untuk mengamankan masa, siswa siswa yang berkeliaran seenaknya tanpa mematuhi guru dan banyak hal lainnya. Kami dan teman teman Mongiilo berusaha kesana kemari mencari rol kabel dan entah bagaimana Helmi dengan susah payah berhasil menemukannya.

Film berhasil diputar. Itupun setelah salah seorang yang mengaku ngaku sebagai atasan pimpinan mengubah seenaknya skema jalannya kegiatan dan mengubah patok tiang yang mengakibatkan kami harus berusaha sebaik mungkin menyetel ulang proyektornya. Duh.. gini nih produk caper. Bener bener ampun deh.. males kalau ketemu yang beginian. Saya menguap bosan melihatnya.

Saya sendiri tidak terlalu menyimak film yang berlangsung. Saya fokus pada anak anak yang berkeliaran kesana kemari. Malah saya dan mbak tari pulang ke Mongiilo. Saya yang sudah sangat mengantuk mengambil rukuh dan memang berniat tiduran sebentar di masjid. Mbak tari yang menunggui saya solat malah ikut ketiduran juga. Teman teman Mongiilo mencari cari kami hingga ke tenda tapi tidak menemukan. Baru setelah beberapa anak masuk masjid dan solat, kami terbangun karena langkah kaki dan suara mereka. Wooo.. dari tadi lho dicariin.. pantesan nggak ketemu” begitu komentar dari teman teman. Ya maap pak.. namanya juga ketiduran. Hehe.

Pukul 9 malam, kami kembali ke area tenda yang memang tidak seberapa jauhnya dari masjid tempat kami ketiduran. Acara nyanyi nyanyi belum selesai diselenggarakan. Bahkan saya sempat terpukau oleh beberapa anak yang emang punya suara emas. Gilaaa.. ini orang orang Gorontalo apa nggak ada yang suaranya jelek yak.. semua orang bisa nyanyi dan emang nggak semua bagus sih tapi.. didenger tuh nggak fals. Kece sumpah. Lirik lagu yang paling saya ingat adalah “sungguh sayang.. beta mati rasa nona.. cinta yang beta kase cuma pelarian semata.. ” –yang kemudian saya googling, pasha sudah menyanyikan lagu itu dengan apiknya. Tapi ada juga yang nggak karuan. Anak SD dengan goyangnya yang super parah membuat saya ternganga dengan bingungnya. Dia menyanyi dangdut dengan goyangan yang cukup aduhai. Duh dek.. ya gini nih generasi kebanyakan micin.

Pukul 10.00 ibu guru menyuruh anak anak itu untuk tidur. Kami harus menggiring anak anak itu agar bisa masuk ruangan. Ya, tentu ada satu dua anak bawel yang ngeyel banget kalau disuruh tidur. Tapi pada akhirnya semua terkendali. Saya, Helmi, Mba tari keluar ruangan setelah memastikan semua anak bisa tidur. Kami menemani ibu guru yang sendirian berjaga di depan pintu. Matanya sayu kelelahan. Tentu tidak hanya lelah fisik, ia juga lelah pikiran. Saya bisa merasakan bagaimana ia sendirian mati matian menghandle segalanya tanpa bantuan yang berarti. Banyak di antara rekan rekannya yang pulang duluan meninggalkannya termenung sendirian menjaga ratusan anak yang seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawabnya semata. Bahkan atasannya malah enak enakan tidur di rumah warga sementara ia sendirian menjaga anak anak. Ada satu dua lainnya yang membantu, tapi malah ikut mabuk. Duh Gusti.. paringana sabar..

Kami mengobrol hingga pukul tiga pagi. Bertukar pikiran, bercerita tentang hal hal yang membuat beban di hati hingga kami larut dalam perasaan. Ibu guru itu memang butuh sandaran. Meski ia sosok yang kuat, namun ia juga manusia yang rapuh. Seorang mabuk sempat mendatangi kami dan menantang berkelahi. Ibu guru mendatangi tempat mereka mabuk dan mengingatkan bahwa mereka tidak boleh berisik karena sudah jam anak anak untuk tidur malam. Tapi orang orang itu tidak mendengarkan. Memang dasarnya orang mabuk ya mau gimana. Dibilangin dengan cara apa juga nggak bakalan mempan. Orang orang itu malah mengira ibu guru mau menantang mereka berkelahi. Maka ia datangi tempat kami duduk duduk dan menantang balik berkelahi. Ibu guru dengan sabarnya menenangkan keadaan. Kami seketika merasa terancam. Helmi, Mba Tari dan saya bersikap waspada jangan sampai orang ini membuat kericuhan. Saya tidak merasa panik waktu itu. Berasa tenang aja sih, tapi feels like alert. Keberadaan teman teman saya membuat saya tidak perlu merasa buang buang energi takut dan panik. Akhirnya dengan sedikit pengertian, orang mabuk itu tadi berhasil dihalau kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 pagi. Kami masuk ke ruangan dan memilih spot untuk tidur. Saya, ibu guru dan Mba Tari tidur di ruangan anak perempuan dan Helmi tidur di ruangan laki laki. Kami menutup malam dengan memberikan hak istirahat bagi tubuh yang merengek minta dininabobokkan.

Jeng jeng jeng.. Dan secara bodohnya saya baru bangun pukul 5.30. Kesiangan, bodoh. Ibu guru malah sudah bangun dari jam 4 pagi tadi. Ia bilang kasihan kalau membangunkan kami. Terlihat capai katanya. Padahal kalau dipikir pikir ibu gurulah yang benar benar seperti lelah segalanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s