Secangkir Cinta di Gorontalo: Medan dan Transportasi

Tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh saya bahwa saya akan tinggal di Desa Sukamakmur selama kurang lebih dua bulan lamanya. Saya hanya pernah mendengar dari beberapa teman bahwa medan yang akan kami hadapi adalah medan yang sulit. Sampai sampai kakak angkatan saya waktu itu yang nekat membawa koper harus berganti dengan carrier. Saya jadi mikir, yasudahlah. Saya mah siap siap saja dengan medan apapun.

Pada awalnya saya harusnya ditempatkan di Desa Owata, desa pertama yang terdekat dengan kota. Lalu kemudian skema berganti menjadi saya yang dipindahkan karena ada dua orang berasal dari jurusan yang sama di satu desa Owata. Pada awalnya sebenarnya yang akan dipindahkan adalah Dani, akan tetapi jumlah laki laki anak KKN di desa Sukamakmur terlalu banyak sehingga mau tidak mau saya lah yang harus dipindah ke Sukamakmur. Saya sih siap saja. hehe.

Tempat KKN kami dibedakan menjadi tiga desa. Awalnya empat desa (terdekat hingga terjauh) yakni Owata, Mongiilo, Pilolaheya dan Sukamakmur. Owata adalah desa terdekat dengan kota Tapa. Berjarak kurang lebih satu setengah kilometer kemudian, sembilan orang teman kami ditempatkan di Mongiilo yang merupakan desa kecamatan. Kurang lebih sepuluh kilometer kemudian, tujuh orang di Desa Pilolaheya dan sisa tujuh orang terakhir di Desa Sukamakmur yang dulunya merupakan pecahan dari Desa Pilolaheya akibat pemekaran wilayah.

Sebuah insiden terjadi di Desa Pilolaheya yang menyebabkan di hari itu juga, saya ingat waktu itu hari jumat, semua teman kami di Pilolaheya harus dimekarkan juga ke tiga desa lainnya. Ceritanya Helmi sih, waktu itu dia dan Mbak Tari mengajukan diri untuk naik ke Sukamakmur, desa yang aksesnya terjauh. Sisa lima orang lainnya turun ke Mongiilo dan Owata. Entah siapa saja yang waktu itu dipindah. Saya, Rosi, Santika, Mbak Tari, Mbak Aida, Mbak Mira dan Niam baru saja selesai sembahyang ashar ketika kami melihat mereka berdua datang. Kami menyambut dengan gembira sekaligus kaget karena penambahan ini tidak direncanakan sebelumnya (yang nggak bingung kayaknya cuma saya deh. Hehe. Habisnya waktu itu saya nggak ngedong apa apa. hehe). Ternyata ada masalah miskomunikasi dengan ayahanda setempat. Entah bagaimana ceritanya, ayahanda waktu itu sedang turun ke kota dan tidak tahu bahwa Bu Peni mengantar anak anak didiknya tingal disana. Padahal penyambutan oleh tuan rumah sangat penting karena kami semua tidak tahu mengenai hal hal disana. Oleh karena Bu Peni tidak tega meninggalkan Helmi dan teman teman Pilolaheya sendirian tanpa kepastian, beliau saat itu juga memberikan wejangan untuk segera membagi diri ke tiga desa yang sudah pasti.

Kondisi di tiga desa ini tidak jauh berbeda. Hanya saja, semakin ke kota semakin lebih modern. Owata, tentunya, merupakan desa dengan tingkat perekonomian warga yang dianggap lebih kota karena aksesnya lebih dekat ke kota. Warganya pun juga menggunakan bahasa Indonesia lebih lancar. Mongiilo, juga sebelas dua belas dengan Owata. Apalagi predikatnya sebagai kota kecamatan membuatnya bersinar sebagai pusat perhatian. Hanya Pilolaheya dan terlebih Sukamakmur yang sangat dekat dengan kata memprihatinkan, apalagi kalau bukan masalah jalan. Owata dan Mongiilo jalannya sudah agak baik katakanlah. Tapi, Pilolaheya dan Sukamakmur? Kebalikan dari Owata dan Mongiilo yang pasti. Jarak owata dengan Mongiilo mungkin hanya sekilo dua kilo yang bisa dijangkau dengan jalan kaki atau menggunakan otto (mobil) yang seringkali naik untuk mengantar ibu ibu yang tinggal di kota untuk mengajar di sekolah setempat. Bagaimana dengan Pilolaheya dan Sukamakmur?. Kedua nya juga berdekatan, hanya sekilo dua kilo. Apalagi Sukamakmur adalah desa baru hasil pemekaran Pilolaheya. Yang ekstrim adalah jalan dari Mongiilo hingga Pilolaheya. Hutan di kanan, jurang dan sungai di kiri. Jalan hanya selebar dua mobil dimana kalau ada mobil atau truk lewat, satunya harus mengalah dengan posisi yang juga sama sama riskan. Belum lagi kalau hujan, jalan becek semua tapi kalau kering debunya terbang kemana mana. Hmmm..

Rumah rumah di daerah Owata Mongiilo sudah banyak yang menggunakan batu bata akan tetapi di Pilolaheya dan Sukamakmur sebagaian besar menggunakan papan sebagai bahan baku utama rumah. Ada satu dua yang menggunakan batu bata, tapi hanya orang orang tertentu yang biasanya perekonomian mereka diatas rata rata. Bahkan ketika survey, kami menemukan ada warga yang tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah yang hampir bisa dikatakan sebagai gubug saking kecilnya. Sangat tidak layak bila dikatakan rumah. ‘rumah’ tersebut terbuat dari bambu bambu yang dipotong sekenanya dan ditutup dengan daun aren yang mulai melapuk. Mereka tinggal di dekat hutan dengan keadaan perekonomian yang memprihatinkan. Saya tidak bisa membayangkan jika anaknya sakit dan rewel, ia harus melewati hutan dan jalan tanpa penerangan untuk sampai ke bidan desa terdekat. Itupun jika bu bidan tidak sedang ke kota. Sedih.

Transportasi

Hanya ada dua transportasi utama untuk lalu lalang ke kota dan sebaliknya yakni otto dan motor. Tadinya sih tiga, jika ditambah dengan kuda. Pada jaman dahulu, orang Sukamakmur memiliki kuda sebagai alat transportasi utama, akan tetapi sebagai dampak dari perkembangan jaman, mereka memilih untuk mengganti kuda mereka menjadi kuda besi berbagai merk yang sedang ngehits di pasaran. Memang lebih efisien karena lebih cepat dalam menempuh perjalanan. Akan tetapi motor tentu saja tidak dapat masuk hutan dan mengangkut banyak hasil hutan seperti halnya kuda. Hingga saat ini hanya tersisa kurang dari sepuluh ekor di Desa Sukmakmur. Sangat disayangkan karena kuda adalah sarana yang paling tepat di meda hutan yang cukup ekstrim ini. Saya, Mbak Mira, dan Helmi sangat beruntung untuk bisa mencoba mengendarai kuda di jalan baru dekat sungai. kuda terakhir. Hmm..

Bicara soal kendaraan bermotor, sayang sekali mobil besar sebesar truk TNI yang dijalankan Oppa (Bapak) untuk mengangkut warga hingga ke Mongiilo. Sayang sekali truk tersebut tidak sampai hingga ke Sukamakmur padahal warga disana sangat membutuhkan. Oppa tidak berani mengambil resiko hingga ke Sukamakmur karena medannya yang cukup mengerikan. Jika mobilnya ada masalah di tengah jalan, tidak mudah untuk mengatasinya karena bisa saja ia mogok di tengah hutan yang jaraknya masih jauh dari desa terdekat. Maka, untuk mengatasi maslaah transportasi ini, warga membeli otto, kata untuk menunjukkan bak mobil terbuka. Di Desa Sukamakmur terdapat beberapa pemilik otto, kalau tidak salah ada tiga orang; Te oppa, Ka Anci dan Ka Enci. Duh namanya mirip mirip pula. Seingat saya Ka Anci itu yang rumahnya paling timur Dusun 1 sedangkan Ka Enci itu yang kudanya pernah kami coba naiki. Sedangkan Te Oppa adalah saudagar terkaya di desa ini. Kami mengandalkan otto untuk pergi ke Mongiilo atau ke Tapa.

Kendaraan kedua adalah motor. Hampir setiap warga memiliki motor-yang kebanyakan kondisinya bikin kita tarik napas- karena mirip dengan motor cabe cabean di Jawa. Pretelan dan ada bagian yang di modifikasi. Seperti itulah kondisinya. Tpai wajar juga sih kalau sampai pretelan. Motor ini merupakan satu satunya kendaraan yang lincah di segala medan –masih tetep lincahan kuda sih-, apalagi dengan medan yang mengerikan seperti itu, pastinya membuat motor gampang rusak. Entah ada bagian yang nggak beres, mereka mempreteli. Buka ahass disini sangat prospektif nampaknya. Hehe.

Pengalaman kami pertama kali ke pasar adalah ketika kami ingin berbelanja di hari kamis pertama kami di minggu pertama kami tinggal di desa Sukamakmur. Kami harus bangun sangat pagi, pukul 2.30 kemudian bersiap siap untuk pergi ke pasar. Pukul 3.30 angkutan siap berangkat. Windbreaker saya tidak cukup menahan dingin pagi buta apalagi saya menggunakan jeans. Duh anginnya berasa meresap hingga ke sum sum. Saya berkali kali menyentuh hidung saya, dingin. Tapi saya mungkin yang paling banyak tersenyum riang di tengah empet empetan orang dan barang di otto tersebut. Sambil menahan gemeletuk gigi, saya berkali kali menatap angkasa sembari menghitung berapa bintang jatuh yang melintas diantara jutaan bintang yang terlihat dari mata normal saya di langit cerah tanpa polusi –sesuatu yang tidak akan saya dapatkan di Jogja kecuali kalau mau rempong nginep di pantainya-. Pagi pagi orang sudah membawa pahangga (gula aren) ke pasar untuk dijual dan ditukarkan dengan barang kebutuhan sehari hari. Kami harus rela berdesak desakan dalam angkutan.

Dua jam kemudian kami sampai di pasar Tapa. Satu jam digunakan teman teman saya untuk terhubung dengan peradaban, sementara saya hanya tiduran nggak jelas akibat ponsel rusak. Ya nasib. Terima saja. hehe. Saya bahkan memutuskan tidak menghubungi orang tua saya karena saya pikir rindu saya akan tambah menyiksa jika saya hanya terputus pada sms. Saya tidak ingin mengganggu teman teman saya karena mereka terlihat sangat excited seperti baru terpisah dengan peradaban pertama kali. Biar mereka menikmati masa teleponnya dan biar saya bersabar untuk lebaran nanti. *balik guling guling tiduran nggak jelas*

Setelah dua jam di pasar, pukul sepuluh siang kami bersiap meninggalkan pasar setelah mendapatkan barang barang yang kami butuhkan. Beras, bumbu dapur, telur, sabun, udah kayak beli bahan rumah tangga untuk sebulan. Kembali berdesak desakan di otto, membuat kami harus kuat untuk menahan panas matahari yang menyengat. Topi yang saya pakai, saya pinjamkan ke satu anak kecil yang dibiarkan ibunya terjerang panas matahari. Duh.. saya jadi ingat orang rumah. Topi menjadi salah satu kenangan masa kecil saya karena dulu bapak membelikan topi agar saya tidak kepanasan.

Sampai di rumah, kami langsung tepar. Tapi karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 13.30, kami bergegas untuk menyiapkan bahan makanan sebelum kami mengajar TPA.

Pengalaman menggunakan motor di desa saya dapat ketika saya mengiringi adik adik SD dan SMP untuk ikut kemah bakti Pramuka di Mongiilo. Saya diboncengkan oleh Pak Kepala SD sampai ke Mongiilo. Pengalaman yang tak terlupakan karena medannya bisa dibilang sangat mengerikan. Tak heran mereka adalah penyetir handal. Hmm.. transportasi sungguh menjadi PR besar pemerintah dalam mengatasi masalah perekonomian desa desa kecil semacar Sukamakmur. Hingga kami selesai KKN, sudah ada jalur baru dibangun di timur desa dekat sungai. Diharapkan jalur baru tersebut memberikan kemudahan bagi warga untuk kelancaran perekonomian mereka. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s