Secangkir Cinta di Gorontalo: Hari Raya Ketupat

Ti Yayu

Hari raya Ketupat adalah hari raya yang berlangsung sekitar H+7 pasca lebaran di Gorontalo. Tidak seperti di tempat saya, pesta dan silaturahmi (badan: berkeliling) baru dimulai seminggu seusai hari iedul fitri. Ketupat-ketupat dan berbagai macam panganan bermunculan untuk dibagi bersama keluarga dan orang orang yang datang berkunjung.

Kami diundang oleh Ti Yayu untuk turun ke Lomaya. Harusnya kami diminta untuk memasak masakan Jawa, tapi beliaunya tidak jadi meminta kami untuk memasak karena posisi kami sebagai tamu seharusnya tidak direpotkan dengan masak memasak. Padahal kami fine fine saja jika diminta. Asal ada bahan aja.

Di tengah terik siang yang menjerang, akhirnya kami sampai Lomaya. Dengan otto yang sudah dipesan oleh ayahanda, kami menempuh perjalanan dua jam menuju rumah Ti Yayu. Ti Yayu adalah salah seorang cucu Te Oppa, pemilik rumah yang kami tempati selama KKN. Sambutan Ti Yayu sangat meriah; apalagi orangnya heboh pula. Haha. Sangat sangat ramah dan penuh dengan aneka rupa makanan dimana kami bisa makan empat sampai lima kali dalam sehari-belum makanan ringannya.

Tidak ada agenda khusus untuk melakukan hal hal spesifik. Kami bahkan sempat berdebat satu sama lain karena Mbak Aidah terlalu terburu buru untuk mengkonfirmasi kedatangan kami ke Dokter Ana. Bahkan ia sempat bilang bahwa kami pandai membuat ketupat padahal kami baru saja bisa semalam. Itupun saya harus didampingi dalam pembuatannya. Debat diakhiri dengan kami ada yang tidak setuju dengan kepergian kami ke unit sore ini. Saya sendiri beralasan bahwa tidak bisa begitu saja pergi dari rumah orang yang sudah mengundang kami. Masak kita mau seenaknya pergi pergi begitu saja. Saya masih bisa melihat raut Mbak Aidah yang sebenarnya kecewa berat karena tidak jadi pergi. Dia bilang bahwa lebih baik tidak pergi tapi saya tahu dia kecewa berat.

Keputusan berubah. Malamnya kami tetap pergi untuk memenuhi undangan ke rumah pacar Mas Fadli, salah satu anggota KKN kami yang tinggal di Desa Owata. Perjalanan selama setengah jam dihabiskan hanya untuk berputar putar karena masalah ancer ancer. Kami tidak terlalu paham yang mana rumah mbak Ayin. Menurut salah seorang kawan rumah Mbak Ayin berpagar putih. Padahal ada belasan rumah yang berpagar putih. Nah lhoh.. pie jal.. sing ndi omahe. Setelah mengonfirmasi ulang, akhirnya kami menemukan rumah Mbak Ayin –yang ternyata bertetangga dengan Ayahanda Owata.

Silaturahmi di rumah Mbak Ayin berjalan meriah. Tapi sayangnya kami baru pulang pukul 11 malam dan ternyata Ti Yayu masih menunggu kami. Jadi tidak enak dengan beliau.

Selamat ulang tahun Kak

Pagi dimulai dengan mandi dengan riang. Hari ini hari ulang tahun saya. Tidak ada yang spesial karena memang saya tidak punya kebiasaan merayakan ulang tahun. Tapi, bisa mendengar suara ibu, bapak dan kedua adik saya benar benar hadiah spesial hari ini. Hampir sebulan di pedalaman Gorontalo dimana sinyal tidak bisa sampai ke Sukamakmur jelaslah sudah bahwa saya tidak bisa menghubungi mereka. Momen di rumah Ti Yayu digunakan untuk melepas kangen walapupun hanya beberapa menit, empat menit kurang lebihnya. Santika berbaik hati meminjamkan ponselnya untuk saya gunakan menghubungi rumah. Ponsel rusak dan saya harus bisa tahu diri memakai ponsel orang. Si pemilik ponsel juga memiliki urusan sehingga saya harus menyelesaikan sambungan saya. Kami hanya bertukar kabar kemudian saya menutup telepon karena si pemilik sudah meminta kembali ponselnya. Sepuluh menit kemudian ada pesan masuk. “Selamat ulang tahun kak”. Ya, itu adik-adik saya. Saya bahagia tak terkira.

Pukul 7 pagi kami sudah diajak makan spesial. Mengapa spesial? Tentu saja spesial karena ini pertama kalinya kami makan daging sapi bali. Kuah daging yang berwarna gelap kehitaman benar benar enak. Mungkin ini kuah bugis.

Kami memutuskan untuk mampir ke pasar. Hanya saya, Helmi, Mbak Mira dan Mbak Tari. Pasar sepi sekali karena masih dalam suasana hari lebaran ketupat. Kami membeli banyak barang kebutuhan yang akan kami gunakan setelah tiba di sukamakmur.

Pukul 10, kami diajak makan pagi (lagi) dengan lauk yang lebih lengkap (lagi). Sumpah, disini makan mulu kerjaannya. Satu jam kemudian, kami keluar dijemput oleh Qodar, anak KKN Desa Owata untuk melanjutkan perjalanan menuju Pemda untuk bersilaturahmi. Hanya lima belas menit perjalanan hingga sampai di tempat Pak Kris, kami dipecah menjadi dua bagian. Satu bagian di tempat Pak Kris, satu lainnya menuju Mbak Enci, kolega dari Mbak Ayin.

Silaturahmi dibuka dengan makan (lagi). Ya, seperti kebiasaan silaturahmi, masuk rumah satu pasti disuruh makan, keluar makan lagi dan masuk rumah makan lagi. Usai makan dan sedikit ngobrol sana sini, kami pergi ke pantai. Setiap SubUnit mendapatkan satu buah mobil untuk mengangkut sepasukan desanya masing masing. Sukamakmur mendapat mobil sendiri, dengan Helmi dan Rosi yang menyetir bergantian. Ada cerita soal Helmi menyetir. Mungkin karena style nya menyetir yang terlalu cepat, satu mobil pada berisik banget bikin panik. Jujur saya ikutan sebel, duh.. apa nggak bisa pada tenang toh. Kalau direcokin kan ya bikin panik. Sesekali saya melontarkan komentar bahwa tidak perlu untuk terlalu mengomentari gayanya menyetir. Biar dia tenang dan berkonstentrasi, toh kita juga harus ngasih kesempatan buat dia bisa konsentrasi. Oleh karena pada berisik banget, pada akhirnya Rosi yang menggantikan. Selesai sudah. Okey, fine. Jangan ada yang berisik lagi. Mari tenang dan menikmati pemandangan juga.

Perjalanan menuju pantai begitu cerah. Saya sempat memoto dan memvideokan beberapa moment yang saya dapatkan di jalan. Kanan kiri saya adalah rumah penduduk, tebing karang yang kokoh, dermaga dan pantai pelabuhan dengan hiasan kapal nelayan yang sedang sandar.

Cukup jauh untuk menuju lorong enam, sebuah kawasan pantai yang akan kami datangi. Butuh waktu sekitar kurang lebih satu jam untuk menuju Pantai Botutonuo. Saya menatap luasnya lautan dengan sunset yang menjadi suguhan pemandangan pada sore itu. Sunsetan itu diakhiri dengan makan (lagi.. iya.. lagi). Entah sudah ke berapa hari ini.

IMG_3156

Dermaga Botutonuo dan pantainya

IMG_3176

Sunset indah di pada Lebaran Ketupat 2014

Pulangnya, kami seharusnya menuju rumah bupati Bone Bolango. Tapi apa daya, kami terlambat sehingga bupati sudah pergi ke acara lain. Salah kami juga sih agak terlambat. Kemudian kami mampir ke ayahanda Owata. Baru pukul sepuluh malam kami meninggalkan rumah Ayahanda. Dan ternyata Ti Yayu masih juga menunggu kami pulang.

Sesi sebelum tidur ditutup dengan debat saling marah satu sama lain. Santika berdebat dengan Niam dan Mbak aidah seperti biasa ngeyel setengah mati hal hal yang masih bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Saya bisa lihat bagaimana kesalnya Rossi, Niam dan Helmi saling menanggapi satu sama lain. Poin yang ditekankan Rossi adalah pada mannernya sedangkan Mbak Aidah lebih melihat ke konteks isinya. Mbak Mira punya pendapatnya dan Mas Yan juga punya pendapatnya sendiri. Perempuan dan laki laki sudah berbeda sudut pandang. Tadinya Rossi ingin kami pulang hari rabu pagi tapi keputusan terakhir adalah kami pulang besok pagi bersama sama dengan unit pada pukul tujuh pagi. Oke, fine, apapun keputusan, kita tetaplah satu. Saya sendiri hanya memain mainkan jam tangan saya, naik ke atas, solat, tidur.

Pulang

Pagi hari dibuka dengan suasana tidak enak. Masih terbawa debat semalam, dan saya bisa dengan jelas merasakan suasana itu. Tapi tidak lama, semua orang bersikap seolah tidak ada yang terjadi.

Saya tidak mandi. Langsung packing dan menunggu oppa, anak anak Mongiilo dan Owata lewat. Ti Yayu yang baru bangun pukul 7 lewat cukup kaget mendengar berita kepulangan kami. Kami bisa melihat raut wajah sangat kecewa dari Ti Yayu karena sebenarnya ia dan keluarganya ingin mengajak kami ke pantai. Namun apa daya, kami kami harus pulang.

Mobil oppa mengangkut anak anak Owata dan guru guru yang ingin mengajar di SD Owata. Guru guru ini tinggal di bawah (kota) dan hanya ke atas jika mengajar. Mereka berangkat pada pukul tujuh pagi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak anak yang tinggal di pedalaman begini jika guru saja baru berangkat pada pukul tujuh lewat dan saya yakin mereka pun tidak akan tinggal di desa lebih dari siang hari. Lalu berapa jam anak anak bisa sekolah. Tapi ada guru saja sudah bagus. Saya jadi sadar bahwa profesi guru apalagi di tempat terpencil macam ini, tentu butuh keikhlasan yang luar biasa besar.

Saya berhenti berpikir, menarik napas dan bergantung pada besi di tengah tengah truk. Melihat alam dan tak henti hentinya bersyukur. Betapa skenario Tuhan begitu manis, saya bisa merasakan sebuah pengabdian di desa terpencil, begitu jauh dari rumah, bertemu dengan teman teman yang memiliki semangat hebat, mendapatkan pelajaran yang sangat sangat berharga, dan akan kembali ke Jawa dengan pengalaman baru. Truk naik turun di jalan, menakutkan tapi saya tersenyum sambil berdoa agar kami tetap selamat.

Kami turun di Owata untuk menunggu sejenak anak anak Mongiilo dan sebagian Owata bisa naik. Dan menunggu opa juga naik untuk mengantar kami ke Sukamakmur. Sungguh sangat beruntung, kali ini Oppa mau mengantar kami ke atas padahal biasanya Oppa tidak mau mengantar sampai atas.

Sementara menunggu, kami membantu teman teman Owata membuat makan siang. Teman teman Owata pulang dari kota membawa sebungkusan besar makanan ringan yang dibeli dari hypermart. Bahkan mereka pun membeli sayuran dari hypermart yang tentunya jauh lebih mahal daripada beli di pasar. Setelah membantu masak, saya malah main kartu, ngobrol tidak jelas dan membaca buku. Dan lebih tepatnya dibulli habis habisan sama satu rumah. Parah.

Dua jam kemudian baru Oppa datang. Ada anak anak Mongiilo minus beberapa orang dan kami pun pulang. Kami tinggal bertujuh. Mas Yayan di depan dan kami di belakang. Saya menghadap ke belakang. Air mata saya hampir jatuh. Hari ini saya berulang tahun. Sudah begitu banyak yang saya lewati untuk jadi saya yang seperti ini. Saya flashback ke bertahun tahun yang lalu. Saya mengalami begitu banyak proses dan saya bersyukur lahir di keluarga saya yang begitu mengajarkan bahwa ilmu tanpa agama berarti buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Saya ingin menangis karena bahagia bahwa pagi ini keluarga saya, yang saya yakin adik saya yang menginisiasi, mengucapkan selamat ulangtahun. Saya terharu. Ada yang mengingat hari penting saya. Keluarga, begitu berharga setiap hal dari mereka. Saya kangen rumah. Hiks.

Kami berhenti di tempat bunda Sukamakmur. Kami pulang untuk meletakkan tas dan kemudian satu jam kemudian kembali lagi ke tempat bunda. Sebenarnya kami ingin ke SMP untuk menemui gurunya dan kemudian ternyata secara kebetulan guru guru sebagian ada di tempat bunda. Saya bahkan sempat berbincang dengan Om dari Delia, salah satu teman saya yang dulunya satu kelompok KKN di Papua. Setelah berbincang dan mengutarakan maksud kami, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk membantu mengajar di SMP. Sayangnya kami tidak bertemu dengan kepala sekolah SD padahal kami juga ingin membantu mereka untuk mengajar di SD.

Agenda hari itu diakhiri dengan tidur siang, memasak dan malamnya mengajar mengaji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s