Secangkir Cinta di Gorontalo: Lebaran Hulondalo #1

Tidak seperti lebaran di Jawa, hari H lebaran di Sukamakmur berjalan biasa saja. Tidak heboh seperti di kampung kampung Jawa. Pagi itu kami memasak mi rebus dan habis tandas pukul tujuh pagi sebelum kami pergi ke surau. Sebelum kami makan, saya sempat ingin mencari cabai di depan surau. Baru saja mendapat beberapa biji cabai, saya melihat ada potensi untuk memanfaatkan anak anak bertakbir di masjid. Daripada mereka hanya menabuh bedug dengan berisik, mending mereka sekalian untuk bertakbir dengan menggunakan mikrofon sehingga ada sayub sayub suara takbir terdengar hingga pelosok agar suasana lebaran lebih terasa. Takbir yang mengalun terdengar adem di hati.

Usai makan saya ingin mandi. Tapi tidak ada air mengalir di jam jam pagi seperti itu. Satu satunya solusi hanyalah pergi ke koala. Kami bertiga, saya, Mbak Mira dan Santika pergi ke koala untuk mandi. Koala sudah ramai. Ada sekian orang yang menggunakan koala untuk mandi dan mencuci pakaian sebelum mereka pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah solat Ied bersama sama. Kami berpindah lokasi dan memilih spot tertutup. Sudah mandi, kami pulang, berganti pakaian dan bersiap siap ke surau.

Orang berbaju rapih, anak anak terlihat bersih, surau ramai dengan ratusan orang yang datang dari dua kampung besar untuk bersembahyang ied. Bedug dibunyikan bertalu talu sebagai pengiring imam datang ke surau. Kami mendapat tempat di sela sela kerumunan warga. Mereka begitu baik dengan memberikan space kepada kami. Sungguh spesial.

Sesi solat ied bersama ditutup dengan bermaaf maafan bersama. Sayangnya kerumunan di surau kurang tertib. Bukannya berjalan melingkar tapi mereka regrudugan bersalaman satu sama lain tidak teratur. Kami jadi susah untuk bersalaman dengan seluruh warga dua kampung. Setelah bermaaf maafan, kerumunan tidak langsung pulang ke rumah masing masing. Ada sesi doa oleh bapak imam dan makan kueh kuehan bersama –serupa dengan monga rua- yang sudah disediakan di depan kami. Sesi ini benar benar dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan mengenal satu sama lain. Sungguh setidaknya sedikit mengurangi rasa kangen dengan kampung halaman- Atau bahkan memperparah rasa kangen itu sendiri.

Pulang, kami makan sedikit dan bersiap siap packing karena kami harus turun ke Mongiilo dan Owata untuk berlebaran bersama. Sedikit makanan sisa semalam menjadi menu makan bakda lebaran yang cukup unik. Bedanya dengan di Jawa, jika di rumah kami akan tersedia makanan beraneka rupa, disini sebaliknya. Tidak ada perayaan khusus atau masak masak heboh seperti di Jawa. Masak masak heboh justru ketika lebaran ketupat, yakni tujuh hari sesudah solat ied. Usai makan bersama, kami bersalaman satu sama lain dan bermaaf maafan. Aaaaakkk.. kangen rumah. Hiks. Tapi mereka yang baru saya kenal selama kurang dari satu bulan ini sudah saya anggap seperti keluarga sendiri.

Angkutan yang harusnya datang pukul 1 siang tidak jadi datang karena Ka Anci turun ke desa bawah untuk melayat dan tidak tahu jam berapa bisa kembali lagi ke Sukamakmur. Terlalu lama menunggu membuat kami memutuskan untuk tidur siang setelah solat dhuhur berjamaah. Namun, baru saja mau masuk ke tidur beneran, angkutan datang.

Perjalanan terhenti sementara karena kami mampir ke rumah ayahanda Desa Pilolaheya. Kami tidak menyangka bahwa ternyata cerita yang sesungguhnya begitu menyedihkan. Beliau begitu kecewa karena miskomunikasi yang terjadi membuat Desa Pilolaheya tidak mendapatkan anak anak desa KKN. Beliau sebenarnya sangat bangga dan bahagia mendapatkan anak anak KKN karena ini pertama kalinya desa ini kedatangan anak anak dari daerah lain yang ingin mengabdi sementara disini. Tapi kemudian karena Pak Camat keburu malu dengan tidak adanya yang menyambut anak anak KKN, anak anak dipecah ke tiga desa. Bukan berarti kepala desa piolaheya tidak ingin menyambut anak anak KKN. Tapi karena beliau sedang sakit, turun ke kota dan bahkan membelikan kursi dan lemari baru untuk anak anak KKN tahun ini. spesial. Tapi karena miskomunikasi, jarak, waktu dan jaringan membuat semuanya buyar. Sedih. Kami pulang dengan hati yang ikut sedih.

Kami sampai di Mongiilo pukul 2.30 siang. Tidak ada agenda khusus hari ini kecuali menunda rapat dan turun ke Owata. Barang bawaan di carrier cukup berat karena barang tersebut untuk tiga orang. yang membuat berat adalah cewek cewek yang barang barangnya ada di di carrier saya, ternyata membawa alat mandi dan make up yang cukup berat.

Sinyal

Mencari sinyal di desa agak pelosok sungguh susah. Termasuk provider terkece sekalipun. T***komsel yang digadang gadang memiliki jaringan paling luas pun juga tidak ada gaungnya. Di Owata masih mending. Setidaknya ada spot khusus disana yang memungkinkan kita menerima sinyal. Ya, di sebuah gardu kecil dengan sinyal yang ilang muncul ilang. Kita harus menelepon dengan memperhitungkan jarak dan lokasi duduk kita di gardu itu. Itupun sinyal juga suma satu. Paling bagus dua lah. Bergeser lima sentimeter saja, mari ucapkan selamat tinggal pada sinyal telepon. Yah, setidaknya lebih baik daripada tidak mendapatkan sinyal samasekali. Benar benar membuat gundah untuk orang orang yang sudah homesick.

Setelah berjam jam kesulitan mencari sinyal, akhirnya saya bisa terhubung dengan rumah. Setengah jam berbicara dengan orang tua dan adik adik membuat saya sedikit lega karena bisa mengabarkan ke rumah bahwa saya baik baik saja. Yang menyebalkan adalah musik dugem dari rumah seratus meter dari tempat saya menelepon. Musik dugem di hari lebaran diputar keras keras oleh cabe cabean alay. Pie perasaanmu cobak?. Lagi kangen-kangennya sama rumah, di hari nan fitri dan ingin sekali terhubung dengan mereka namun ada orang orang norak yang merusak suasana sakral dengan musik musik dugem yang sangat keras. Sudahlah, yang penting saya sudah bisa ketemu dengan keluarga dan mengobati rasa kangen jauh dari rumah.

Saya tidur pukul 1 malam. Sebelumnya saya menemani mbak tari menyusun rundown untuk festival anak soleh. Pukul 3 kami dibangunkan oleh widya. Kemudian kami mencuci piring dan memasak. saya, mbak mira, santika, mbak tari, azizah, mas yayan, qodar, dani, hamdani, mas fadli, helmi berpuasa pada hari itu. Kami ramai ramai puasa syawal. Senang banyak anak yang ternyata berusaha untuk belajar memahami agama. Seneng banyak temennya. Adem.

Cinta cintaan ala anak SD

Paginya, kami ditemani dengan anak anak Owata pergi ke Desa Trans. Saya, Santika, Mbak Mira, Azizah, Helmi dan Dani berjalan kurang lebih tiga kilometer menyusuri jalan setapak menuju desa tersebut. Desa Owata dan Trans dipisahkan oleh sungai dengan jembatan berkabel yang mirip banget dengan jembatan Kali Oyo di Jogjakarta. Indah.

Pulangnya kami menonton masterchef di laptop dani. Tapi karena saya mengantuk, saya hampir tertidur. Karena suasana yang panas dan berisik, saya pindah tidur di kamar. Baru saja mau tidur ada anak anak kecil asal masuk kamar. Saya lalu menggiring mereka untuk keluar dari kamar. Kami lalu keluar dan bercengkerama.

Owata memang desa yang lebih maju dibandingkan dengan desa lainnya. sehingga siaran televisi ditangkap lebih lancar dibandingkan dengan desa lain. Sayang sekali pikiran mereka sudah terpapar cinta cintaan ala sinetron di tivi jakarta sana. Mereka kebanyakan menonton drama di tivi. Ya kali, masa saya disuruh menulis puisi cinta untuk cowok saya karena saya lagi patah hati. Duh dek.. saya jomblo. Mau patah hati sama siapa cobak. Haha. *ketawa miris. Belum lagi mereka menulis surat untuk Dani dan Hamdani, dan mereka menulis nama saya dibawahnya. Untuk keluar dari situasi tidak sehat ini, kemudian saya mengubah keadaan menjadi permainan anak. Mereka memainkan permainan ular naga panjangnya dan permainan oyak patung yang entah namanya apa disini. Yah, cukup untuk sedikit mengalihkan perhatian mereka dari hal hal berbau cinta cintaan yang belum seharusnya mereka pikirkan.

Pulang kembali ke Sukamakmur

Siangnya, pukul 11, kami anak anak Sukamakmur ditambah dengan Widya, Iha dan Tya pergi ke Mongiilo untuk rapat yang baru dimulai pukul 2 siang. Saya dan Mbak Mira bertemu dengan otto yang membawa kami turun kemarin tapi beliau si pemilik otto harus naik dan kami pun juga belum mulai rapat. Rapat berlangsung selama dua jam. Sisa jam, pukul empat lebih kami habiskan untuk menunggu otto diluar. Barang barang yang sudah kami packing belum juga naik ke otto karena sampai malam sekali tidak ada otto yang lewat. Sembari menunggu, kami berbuka puasa dan mengobrol sampai kemana mana. Kami sudah mau menginap di Mongiilo saja sampai pukul 8.30 malam, Mas Yayan melambaikan tangannnya dan menyetop otto yang lewat. Sayang sekali yang pulang ke Sukamakmur hanya kami berempat. Saya, Mbak Mira, Santika dan Rossi. Kami harus pulang ke Sukamakmur karena ada banyak kegiatan yang harus kami lakukan. Kalau kami baru besok naik ke Sukamakmur, maka akan terlalu capai dan program tidak jadi terlaksana. Sisanya, harus tinggal di Mongiilo karena harus rapat tentang program besar.

Di gelap malam  saya tetap tersenyum. Bahagia menatap jutaan bintang yang seolah berjalan di atas saya. Tidak peduli bahwa kami ada di desa yang terpencil dimana tidak ada fasilitas selengkap ketika saya di Jogja. Tidak ada sinyal, makan harus nyari di pinggir hutan atau pergi ke kota yang jauh banget dengan medan kanan hutan kiri jurang, harus belajar super adaptif di tempat yang tidak pernah saya injakkan kaki sebelumnya. Saya merasa begitu kecil. Fabiayyi aala irobbikuma tukadziban. Begitu sedihnya karena ternyata Tuhan begitu baik. jika suatu saat saya menjadi orang yang sukses dan saya tidak peka pada orang orang di sekitar saya, maka saya merasa akan menjadi orang paling menyedihkan di dunia karena tidak mensyukuri bahwa saya adalah satu dari sekian orang beruntung yang mendapatkan kesempatan untuk mengenyam peradaban dan pendidikan yang lebih baik.

Kami sampai di depan pondokan pukul 9 lebih. Kami tidak langsung tidur. Kami bertiga melanjutkan agenda dengan memasak. Rosi yang sakit tidur terlebih dahulu dan kami para perempuan masak untuk sahur kami esok fajar. Kami ingin melanjutkan puasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s