Secangkir Cinta di Gorontalo: Cerita dari Kemah Pramuka 2

Paginya saya menggosok gigi dan bersiap –tidak mandi tentunya. Haha. Jadi inget kalau di rumah Sukamakmur sana, sepertinya saya yang paling diingatkan untuk mandi. Pagi oleh Mas Yan, Santika kalau siang, Helmi kalau sore. Fine. Maacii teman teman sudah dengan baiknya mengingatkan saya mandi –yang hanya saya balas dengan cengengesan nggak jelas. *mereka ini gojekannya kok ya soal mandi ta. Hmmm..

Kami pergi ke rumah anak SD untuk mengecek dan membantu menyiapkan sarapan. Namun ada miskomunikasi rupanya. Kami sempat kebingungan karena yang disiapkan makanannya hanya untuk anak SD saja. Saya sempat tertegun ‘lhah kenapa bisa hanya anak SD yang disiapkan. Anak anak SMP juga perlu disiapkan. Apakah tega membiarkan mereka tidak makan padahal jadwal mereka hari ini menguras tenaga?’. Akhirnya saya, Mbak Tari dan Helmi berbagi tugas. Helmi mengurusi outbond dan koordinasi, sedangkan saya dan mba tari berkoordinasi dengan para ibu guru untuk menyiapkan makan untuk anak SMP. Saya paham bagaimana repotnya guru guru SD menyiapkan makan untuk anak SD mereka. Untuk itulah kami datang membantu meringankan tugas mereka.

Kami repot repot mengambil beras dan bahan makanan di ruangan yang ditempati oleh anak SMP tapi bahannya katanya sudah dibawa ke rumah guru SD. Di tempat guru SD, ternyata bahan makanan tidak ada. Rempong deh pokoknya. Saya, Mbak tari dan Mbak Aidah membagi diri untuk mengurus bahan makanan. Menanak nasi, membuatkan mereka telur goreng, menyiapkan bahan. Ketika semuanya siap, yang jadi masalah adalah tempat makan. Kami kembali ke SMP dan meminta mereka menyiapkan tempat makan mereka. “Hanya ada beberapa kakak. Tidak semua bawa piring.”. Duh adek-adekku sayang..  apa ya nggak mikir kalau ini kemah kalian juga setidaknya menyiapkan tempat makan. Kecuali kalau kalian siap dengan makan diatas daun –ini pun juga anak anak yang nggak takut kotor yang mau melakukan.

Kami pun harus memutar otak untuk menyiapkan makanan ini tersaji dengan baik untuk anak anak ini. Saya kemudian pergi ke kebun dan meminta ijin pemilik rumah untuk menebang barang satu dua daun pisang untuk alas makan mereka. Syukur pemilknya mengijinkan.

Baru saja saya menebang daun, muncul seseorang yang seenaknya sendiri menyuruh nyuruh kami mengurusi outbond. Saya mengikuti permainan orang ini. Awalnya saya masih mendengarkan dan menanggapi dengan seksama. Tapi kemudian di titik jengah, saya mulai malas. Kalimat kalimat halus saya kemudian berubah menjadi nada menyebalkan yang membuatnya mengerti bahwa saya bukan orang yang suka disuruh suruh. Titik dimana saya kesal adalah saya tidak suka bahwa ia menyuruh nyuruh saya tanpa memperhitungkan jika kami juga punya tanggungjawab yang tidak kalah urgent. Ia menyuruh nyuruh saya menyiapkan tanda panah untuk outbond sedangkan dia tahu kami sedang mengurusi anak anak kecil yang butuh energi. Dasar geblek. Nggak pernah punya anak apa. Waktu sudah setengah enam pagi, sedangkan anak anak setidaknya harus sudah siap makan pukul enam menurut jadwal. Ini saja jadwalnya juga sudah molor dari rundown panitia. Apa dia tidak bisa menyuruh orang lain untuk mengerjakan. Dasar nggak peka, saya sampai berpikiran apakah ini orang emang segitu capernya untuk show off di depan kami yang ia anggap bisa disuruh suruh. Kalau dia cerdas secara emosional dan spiritual, seharusnya dia bisa mengerti kerepotan orang lain dan berusaha untuk membagi tugas dan tidak ongkang ongkah seenak jidat main tunjuk tugas sana sini. Pemimpin yang baik harusnya mengerti tentang simpati dan empati. Bahkan pemimpin juga mau buat turun tangan masuk sawah belepotan lumpur sekiranya perlu –bukan untuk pencitraan tapi memang mau kerja keras. Duh.. saya kok nggak paham ya kenapa ini orang bisa dipilih jadi pemimpin. Negeri ini jelas bakalan bubar kalau pemimpinnya kayak dia semua. Di akhir saya bilang “Ogah. Saya sibuk masak. Kalau mau nyuruh, suruh saja orang lain. Mbak, ayo pulang.”. Saya menggamit Mba tari dan Helmi kemudian kami masuk kembali ke rumah SD. Ya, sejujurnya sambil menggerutu tentang kejadian tadi pagi –yang bahkan saya aja belum melek betul lho, kok udah direcoki sama urusan kampret. Hmm..

Kami menaruh daun pisang ke lantai yang longgar tak berbarang barang. Kami meminta beberapa anak untuk menyiapkan ruangan kemudian membantu kami menata nasi dan lauk. “dek, bawa sambal kah?” kemudian beberapa anak memberikan sambal mereka untuk dimakan bersama.

Apa yang saya pikirkan mengenai anak yang tidak suka jorok, terjadi. Hanya ada sedikit anak yang mau menyentuh sarapan paginya. Beberapa anak terlihat tidak suka dan menolak untuk makan. Ada yang menolak mentah mentah karena merasa tidak biasa lah, ada yang tidak mau, ada yang malu malu, ada yang ikut ikutan temannya yang tidak mau makan. Lhah. Manja benar. Mbak Tari dan Helmi berusaha membujuk mereka untuk mau makan. Satu persatu mulai berusaha makan seadanya. Saya kemudian berkata “Nanti kalian mau outbon. Jaraknya jauh, kalau nggak makan siapa yang mau nanggung kalau pingsan di tengah jalan. Isi perut dulu baru nanti bisa jalan.”. Setelah diberitahu beberapa kali akhirnya satu demi satu anak mau juga makan. Mungkin mereka pikir makan ala ala seperti itu dianggap cara makan gelandangan. Tapi mereka yang masih ingusan itu memang harus diajari bahwa pada situasi genting tertentu, kita harus menggunakan segala hal untuk bisa survive. “Ta putri, Ta Tari sama Te Helmi dulu pramukanya lebih parah. Tinggalnya di tenda dekat hutan, kalian tinggal di ruangan, dekat dengan ibu guru, masih bisa ditengok orang tua, masih bisa jajan di warung. Kami dulu harus menyiapkan makan sendiri, masak sendiri, tidak ada yang memasakkan buat kami. Lapar tanggung sendiri. Kami dulu sangat terbatas sampai sampai makan harus di atas daun pisang macam begini. Kalau kalian tetap tidak mau makan ya sudah, silakan tanggung sendiri kalau nanti pingsan di tengah jalan”.

Seingat saya waktu itu ada anak yang sempat bilang ke saya “ngapain kamu mau repot repot ngurusin kayak gituan. Kurang kerjaan banget sih Put. Toh juga udah banyak yang bantuin”. Well, mungkin kita beda sudut pandang. Ini masalah care. Ini sebenarnya bukan acara kami. Kalau mau bodo amat sih, sebenarnya itu hak kami. Apalagi ditambah dengan hal hal merepotkan seperti orang yang tadi pagi pagi sekali merecoki pikiran dan koordinasi yang kacau setengah mati. Tapi rasa rasanya kami masih punya hati. Rasa rasanya kami kasihan ke anak anak itu, Kami pernah jadi anak anak dan apa yang kami lakukan adalah kami membalas kebaikan orang orang yang pernah mengurusi kami waktu itu. Kami menekan ego sedalam dalamnya karena merasa iba dengan anak anak sekolah ini. Mereka punya masa depan, dan ada baiknya pengalaman ketika mereka sekolah bisa memberikan kesan yang baik pada ingatan mereka. Kami benar benar pure mau membantu dan tidak begitu saja berpangku tangan. Kalau tidak ada yang mau mengalahi repot repot, si anak anak itu juga akan kapiran -kerepotan. Biarlah kami repot sedikit. Kami percaya bahwa hal sekecil biji sawi pun akan dibalasNya. Maka, kami percaya bahwa Tuhan tidak tidur. Akan ada hadiah untuk kami entah apapun itu di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s