Langgar

Ada yang tahu apa itu langgar? Langgar adalah nama lain masjid. Langgar adalah sebutan masjid di kampung kampung di jawa. Langgar identik dengan musola kecil, tidak sebesar masjid memang. Namun cukup untuk memberikan ruang untuk menyembahNya. Dindingnya terbuat dari kayu, bambu atau sedikit beton jaman bahulak. Identik dengan kesederhanaan.

Langgar tidak hanya dijadikan tempat sembahyang namun juga berkumpul dengan teman sebaya. Banyak hal yang saya lakukan ketika saya pergi ke langgar. Main betengan, main oyak oyakan, main lompat tali, main jilumpet (petak umpet), main pasaran, drama dramaan dan main main lainnya. masa kecil yang sangat indah tanpa diselingi dengan gadget yang memisahkan dunia nyata dengan dunia virtual.

Ada satu kejahatan yang pernah saya lakukan di langgar. Yakni bermain bola. Saya, Anis, Ika dan adik perempuan saya saat itu pulang sekolah dan ingin bermain bersama. Tadinya saya hanya iseng mengambil bola milik adik laki laki saya. Kemudian kami pergi ke langgar. Bola yang tergeletak bergulir kesana kemari. Ketika mengenai saya, saya akan lempar, ketika kena Anis, maka akan dia lempar. Tanpa berpikir panjang kami main bola di dalam langgar. Iya, di bagian dalam langgar kecil belakang rumah saya itu. Ibu saya yang mendengar suara ribut kami mendatangi langgar dan mendelik ketika melihat kami dengan jumawanya main bola di dalam rumah Tuhan. “Pulang!!!” teriaknya menggelegar. Saya dan adik saya menunduk ketakutan.

Sampai di rumah saya dimarahi benar benar. Galak betul ibu saya waktu itu. diambilnya pedang plastik milik adik saya dan saya disabet berkali kali. Uggghhh.. rasanya perih. Kulit saya bilur bilur kemerahan tanda habis disabet. Tapi mau bagaimana lagi. Memang kelakuan saya waktu itu tidak dapat dibenarkan baik secara moral maupun agama.

Waktu itu hanya saya dan adik perempuan saya yang dimaki maki. Saya protes mengapa Anis dan Ika –sepupu saya- tidak dimarahi seperti halnya saya habis habisan dihajar. Anis adalah sepupu saya yang lebih tua kalau tidak salah satu atau dua tahun di atas saya, sedangkan Ika sekitar empat tahun di bawah saya. saya merasa ibu saya tidak adil karena Anis yang lebih tua tidak dimarahi. Jawaban ibu saya membuat saya tercengang “Kamu itu lebih tahu (norma kesopanan) daripada dek Anis –waktu itu ibu membiasakan saya memanggil orang orang sesuai dengan umurnya. Membiasakan saya agar bersikap sopan. Anis yang notabene keponakan ibu saya, walaupun ia lebih tua, ia harus memanggil saya dengan sebutan kaka tau mbak-”. Kamu itu anak saya. yang namanya ibu itu sayang dengan anaknya. Mana bisa saya marahin anak orang, walaupun itu anak sepupu saya sendiri. kamu itu sudah besar. Harusnya sudah tahu bagaimana kesusilaan”. Dyaaarrr… kemarahan ibu saya benar benar awet hingga berjam jam kemudian.

Sekarang langgar itu sudah lenyap. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih SMP, langgar dirobohkan untuk dibangun langgar yang lebih besar. Hingga saat ini, sebuah masjid yang tidak terlalu besar –namun cukup untuk menampung orang sekampung- berdiri dengan kokoh. Tanah itu saksi sejarah saya menghabiskan waktu sore saya yang indah tanpa gadget. Di jaman itu.. iya.. jaman itu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s