Secangkir Cinta di Gorontalo: Tombilotohe

Tombilotohe adalah sebuah perayaan pasang lampu yang diselenggarakan di tiga hari terakhir di bulan ramadhan untuk menyemarakkan bulan ramadhan. Prosesi dilakukan dengan menebas janur (helai kelapa muda) kemudian di rangkai dengan bebungaan dan dedaunan. Warga juga membuat senthir dari botol kratingdaeng bekas yang diisi minyak tanah dan dinyalakan sepanjang jalan bahkan di setiap rumah. Semarak banget pokoknya. Saya membayangkan Sukamakmur dari atas, pasti sangat cantik.

Maklumat di radio memberitakan bahwa pemerintah Bone Bolango menyediakan minyak tanah untuk kegiatan tombilotohe. Warga tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan minyak tanah di pasaran. Sore hari menjelang perayaan tombilotohe, anak anak muda  berkumpul untuk menyiapkan segalanya. Panggung kecil depan rumah Ayahanda menjadi basecamp untuk mengisi minyak di botol. Untuk pertama kalinya, rumah bisa diterangi nyala sepanjang malam. Lebih tepanya hingga sumbunya habis terbakar. Ya, setidaknya lebih lama daripada genset yang mati pada pukul 9.30 malam.

Cerita waktu itu kami diajak Te Oppa ke kota untuk melihat perayaan Tombilotohe. Tapi, undangan monga rua membuat kami harus memilih. Tadinya kami berpikir bahwa kami bisa pergi selepas menghadiri monga rua di rumah Eko, salah satu anak perempuan disana. Kami berusaha menghormati undangan jadi kami menyempatkan mampir ke rumah Eko. Pukul delapan malam acara baru saja selesai dan kami batal berangkat karena ditinggal rombongan. Yasudah mau bagaimana lagi. Kami menghabiskan malam dengan menontoni cahaya temaram dari sumbu botol di pekarangan. Tetap asik kok. Haha.

IMG_2343

Membuat jala nyala

IMG_2351

Inilah jalanya

Hari hari sebelum tombilotohe dihabiskan warga untuk mempercantik desa. Bak anak gadis yang akan dipinang, Sukamakmur berhias dengan jejanuran yang dirangkai sedemikian rupa di gerbang gerbangnya. Hampir setiap rumah membuat penyangga dari bambu untuk penahan botol botol kratingdaeng. Botol botol itulah yang akan dinyalakan selepas malam menjelang. Ada juga warga yang menata botol botol itu di sepanjang pekarangan mereka. Benar benar spot foto yang unik. Untung tidak ada anak alay yang mampir ke desa kami.

Desa yang biasanya gelap gulita mendadak bercahaya karena malam perayaan tombilotohe. Dari ujung hingga ke ujung, setiap rumah pasti akan membuat penerangan dari botol bekas tersebut. Orang tua Iki, salah satu tetangga kami, mereka membuat obor dari bambu dan kertas minyak berwarna warni. Lebih mirip senggek (galah) kelengkeng di desa saya. Tapi sungguh bagus. Berasa kayak obor olimpiade.

IMG_2431

Nyala cahaya

IMG_2386

Tombilotohe depan rumah warga Dusun 1

IMG_2417

Menuju jembatan cahaya

IMG_2389

Sepanjang jalan kenangan

Gerbang desa menjadi tempat favorit saya untuk menikmati pemandangan tombilotohe. Warna warni nyala api berkontras dengan gelap malam yang semakin pekat. Anak anak kecil akan bermain main di depan pondokan kami. Santika, Mbak Mira, Mbak Tari, Mbak Aidah dan saya mengajak mereka main ular naga panjangnya. Tombilotohe, sebuah tradisi setempat. Sungguh semarak dan mengeratkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s