Secangkir Cinta di Gorontalo: Ekspedisi Pilolaheya

Saya yang sedang sibuk menekuri hujan bingung karena tetiba Niam yang terlihat kuyu berlari lari sepanjang ruang tamu. Setahu saya, dia sedang sakit sudah beberapa hari. Harusnya ia istirahat tapi malah berlari lari kecil. Dia bilang “kalau lagi masuk angin, lebih baik dibuat berkeringat biar cepet sembuh”. Saya yang bengong membiarkannya sibuk berkeringat. Hmm.. baiklah.

Saya yang sedang bermain main dengan kamera saya membidikkan jepretan kamera berkali kali ke beberapa arah. Salah satunya menjepret mereka yang sedang membuat papan dan menjepret hujan yang saya hapus. Dua orang lainnya, Mas Yan dan Helmi sedang di depan membuat papan skor untuk perlombaan sepak takraw yang akan diselenggarakan mendekati hari 17 an nanti.

Niam malah dengan isengnya mau keluar rumah. Helmi yang sudah selesai, mengikutinya keluar. Ketika saya tanya mau kemana, mereka bilang mau hujan hujanan. Saya juga yang pada saat itu kurang kerjaan mengikuti saja perginya dia kemana. “ikut ikut”. Saya mengenakan mantel biru dan payung. Sejujurnya saya ingin sekali hujan hujanan tapi apa daya. Saya harus melindungi kamera pinjaman Nur –dimana ia dengan baik hatinya membiarkan saya membawa pergi kamera yang baru ia beli dua bulan. *Huaaaa… kamu baik banget nuuur.. – yang dengan sangat hati hati sekali saya berusaha jaga agar tidak rusak seperti corriander saya.

Kami melewati jalan depan rumah ayahanda hingga ke Pilolaheya. Kami bertiga berhenti dekat rumah Iam, dekat gorong gorong. Dasarnya memang mereka berdua anak teknik, mereka berhenti untuk menganalisis gorong gorong tersebut. (Helmi anak jembatan, Niam anak sungai). Saya mengambil video dan beberapa foto mereka.

Inspeksi gorong-gorong

Perjalanan kedua kami teruskan hingga ke jembatan kedua. Masih sama, kami berhenti untuk menganalisis. Jalan lagi, kami berbelok ke kanan menuju sungai yang memiliki gethek kecil untuk menyeberang. Arus air jika tidak hujan harusnya tidaklah terlalu deras. Namun saat itu hujan turun dengan derasnya dan kami cukup tertatih tatih untuk berjalan di tengah air yang tingginya hampir selutut saya.

Rakit yang hampir tersapu banjir di Pilolaheya

Rakit yang hampir tersapu banjir di Pilolaheya

Naik ke pinggir sungai, kami melewati pematang jagung dengan jalan yang sudah dibeton. Tetiba saya melihat sebuah umbi talas yang teronggok begitu saja. Tentu saja kami membawa umbi tersebut pulang. Sayang untuk dilewatkan. Kami berjalan hingga ke rumah Ka Ati dan disana kami mampir sebentar. Oleh karena hujan tak kunjung reda,kami pikir kami bisa lewat sungai. Tapi sungai pun arusnya luar biasa deras. Lebar sungai yang biasanya hanya delapan meter meleber hingga dua kali lipatnya. Dapat dipastikan kedalamannya pun juga membengkak dengan kekuatan yang besar pula.

Melihat sungai yang deras seperti itu, kami berpikiran untuk kembali ke rakit yang ada di Pilolaheya. Maka, jalanlah kami hingga ke rakit. Apa daya, untuk sampai ke rakit, kami harus menyeberang. Dan arusnya naudzubilah derasnya. Sungai Bulango yang terlihat imut menyegarkan berubah menjadi kejam. Helmi mencoba untuk menaiki dua tali kekang rakit yang digunakan untuk berpegangan warga apabila menggunakan rakit. Hasilnya? Duh ngeri. Baru tiga langkah jalan, ia hampir terseret arus yang sudah sedemikian kencangnya. Kami tidak mau bertaruh nyawa untuk hal konyol seperti itu. Maka, kembalilah kami ke perhentian Dusun II dan berteduh di rumah Ka Ati barang sebentar.

Berteduhkan dahan pisang dan keceriaan

Berteduhkan dahan pisang dan keceriaan

Kami mengobrol sebentar dengan Ka Ati. Dan ketika hujan sudah sedikit mereda, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Kondisi sungai juga tidak berubah walaupun hujan sudah agak mereda. Arusnya tetap luar biasa mengerikan. Kami yang akan menyeberang cukup kebingungan apakah bisa melewati arus seperti itu. Beberapa anak mencoba memberitahu kami bahwa kami harus menyeberang secara diagonal. Tapi sayangnya kami tidak paham bagaimana caranya waktu itu. Hehe.

Seseorang ibu- Ibunya Nindi-seingat saya. Beliau mungkin merasa kasihan kepada kami karena tidak bisa menyeberang. Beliau kemudian menggandeng tangan saya dan kemudian kami berempat menyeberang secara diagonal kurang lebih sepanjang 75 meter mengikuti arus air. Kamera benar benar saya ikatkan pada leher sehingga air tidak berani menyentuh kamera. Adrenalin saat itu benar benar terpacu karena kami seperti ditahan oleh alam dan harus benar benar hati hati untuk mengikuti arus alam. Tekanan air sungai begitu besar. Melenceng sedikit, kami akan oleng dan hanyut terbawa arus sungai. Rasanya kayak mau terbang. Sumpah. Menakutkan. Korbannya adalah payung Mas Yayan yang saya bawa untuk melindungi kamera di sepanjang perjalanan. Hanyut.

Pulang ke rumah dengan pakaian basah kuyup, payung yang tidak terselamatkan. Kami mengagetkan orang serumah yang mereka pikir kami hanya mengunjungi tetangga ternyata malah menyabung nyawa di tengah banjir sungai. Yang saya ingat waktu itu adalah Mbak Mira “kok nggak ngajak ngajak sih”. Lhah.. mana saya tau mbak perjalanan kami tadi bakal seekstrim itu. Kami taunya hanya berjalan jalan, ngecekin jembatan udah terus pulang. Eh, ternyata malah merasakan pengalaman mendebarkan itu. Foto dulu, ganti baju dan kemudian kami membantu orang rumah mengurus rumah. Waktu itu rumah bocor dimana mana dan makan malam belum kelar. Talas goreng nampaknya bukan ide yang buruk. Hehe.

Akhirnya dengan detik detik ekstrim itu, kami berhasil sampai di tepian. Ucapan terimakasih tak henti kami ucapkan pada Ibunya Nindi. Sangat membekas dan tidak akan terlupakan. Kami bengong satu sama lain. Ih, sumpah, gitu toh ternyata warga sini menyeberang sewaktu hujan. Keceeee… Ya Allah, kami mendapat pengalaman yang tak akan terlupakan. Pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Gimana warga disini care banget sama kita, gimana mereka mengajarkan cara bertahan hidup yang nggak mungkin semua orang akan ambil resiko seperti it. Dan.. Tuhan menyelamatkan nyawa kita di hari itu. Alhamdulilah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s