Secangkir Cinta di Gorontalo: Ekspedisi Molomuayo

Sawah di tengah hutan!. Emejing! Itu pikiran norak yang terlintas di kepala saya ketika mendengar dari Mas Yan, Niam dan Helmi bahwa ada satu rumah di tengah hutan dengan sawah sawah dan kerbau. Mirip gambaran rumah asri ketika saya masih kecil. Haha.

Mantel biru dan tas krem setia menemani saya mblusuk ke hutan. Saya, mas Fadli, Azizah, Mbak Mira dan Rizal memulai perjalanan kami dalam rinai hujan yang turun perlahan lahan. Saya mengambil daun talas dan menutupinya ke kepala. Unyu. Haha. Berasa kayak film film animasi binatang yang kalo kehujanan payungnya pasti dedaunan. *baiklah. Sudahi imajinasi saya.

IMG-20141203-WA0005

Bersiap untuk perjalanan menantang. Molomuayo.. kami datang (pictaker: -kalau nggak salah sih- Rizal Paris)

Trek pertama masih sepanjang rumah rumah warga Dusun I dan II. Masih jalan datar lah. Trek kedua kami mblusuk, menembus sungai Bolango di sebelah dangau terluar Dusun II. Keluar dari sungai, kami harus melewati satu dua bukit yang menanjak dan berlumpur. Proyek pembangunan jalan rupanya telah melewati bagian desa terluar. Jalanan di bukit dilewati buldoser yang menghaluskan tanah dan membuatnya menjadi semacam cokelat leleh yang membuat kaki saya berkali kali terperosok jauh ke dalamnya. Trek selanjutnya, kami melewati bagian hutan yang entah tanahnya milik siapa, jalan setapak dan sungai kecil. Sepanjang perjalanan saya ngiler pengen banget nemui arbei hutan –padahal saya juga pernah makan arbei itu di gunung. Tapi beneran saya pengen banget. Sialnya kami tidak menemukan. Ya sudah.

Sungai berlumpur, hujan yang semakin deras, semak belukar dan banyak hal lainnya kami temukan sepanjang jalan menuju Molomuayo. Bulir hujan semakin besar dan kami pun berteduh di sebuah dangau yang sudah tidak dihuni. Sebuah rumah lebih tepatnya, berdinding dan beralaskan kayu yang diduga sempat dihuni beberapa lamanya hingga si pemilik rumah pergi. Tapi sayang ada banyak botol botol minuman keras berserakan. Mungkin para pemudanya juga diam-diam minum di dangau ini. Saya bisa membayangkan bila malam telah turun, pasti sangat mengerikan rumah ini. Gelap, tanpa penerangan, suasanan yang tenang namun hampir bikin tuli, ada orang orang nggak jelas mabuk di sana yang teler hingga matahari bahkan sudah tinggi. Rumput rumput liar tumbuh tak terkendali di sekitar rumah. Semakin mengukuhkan bahwa rumah itu menakutkan-setidaknya bagi saya. Tapi mungkin bagi pekerja kebun yang kemalaman, rumah itu bisa dijadikan tempat berteduh setidaknya semalaman. Saat hujan sudah agak reda, kami bergegas keluar dari dangau dan melanjutkan perjalanan. Fiuuuh..

Ya, kami benar benar melihat sawah kali pertama sejak tinggal di hutan Gorontalo. Hamparan sawah dengan bekas sabetan parang di batang damennya membuat kami yakin Molomuayo sudah di depan mata. Iklim hutan yang lembab mungkin yang membuat sawah ini bertahan. Kami menemukan dua ekor kuda sedang merumput di sawah lepas panen tersebut. Kuda yang berwarna cokelat sayangnya galak. Sayangnya saya tidak bisa menunggangi seperti halnya Mas Yan dan Niam. Hanya bisa berfoto bersama mereka saja. Hiks.

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah yang kami maksud. Kami bersorak ketika sudah sampai di rumah Molomuayo. Sebuah keluarga nampaknya menjadi pemelihara bulir bulir nasi yang mungkin juga dikonsumsi oleh warga satu desa. Sawah dengan titik titik air sehabis hujan nampak sangat menyegarkan. Satu ekor kerbau hitam tampak hidup tenang di samping persawahan.

Pemilik rumah begitu ramah. Segelas teh panas menjadi penghangat badan setelah lelah berhujan hujanan. Sembari menyeruput teh panas, beliau menjelaskan tentang seluk beluk persawahan sementara saya terkagum kagum norak dan bahagia karena menemukan hal kecil yang menurut saya sungguh luar biasa indah. Tuhan, terimakasih sudah mengirim saya kesini. Mereka yang menyadari pentingnya nasi dalam kehidupan sehari hari berusaha untuk mengembangkan sendiri persawahan mereka.

Pulangnya tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. sudah saatnya para lelaki solat jumat. Kami pun yang perempuan bergegas menyiapkan makan siang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s