New Perspective

New Perspective adalah salah satu lagu favorit saya, ya selain Turn It Off dari Paramore. Soundtrack sebuah judul film horor –yang saya nggak samasekali tertarik buat nonton- yang dinyanyikan oleh band barat, Panic at The Disco!.

I feel the salty waves come in
I feel them crash against my skin
And I smile as I respire because I know they’ll never win
There’s a haze above my TV
That changes everything I see
And maybe if I continue watching
I’ll lose the traits that worry me

Salty waves (ombak) dalam bait pertama bisa juga berarti masalah masalah dalam hidup. Bagai ombak di lautan yang konstan bergerak, hidup itu menguji kita dengan masalah yang juga datangnya konstan. Nggak mungkin hidup manusia mulus kan. Jalan tol yang mulus lurus aja masih ada kerikil tajam yang mungkin mengenai orang yang jalan di atasnya. Bukannya Tuhan tidak sayang. Justru lewat masalah masalah itu kita dikuatkan. Bukankah tanpa masalah, kita tak akan pernah belajar menjadi kuat?.

Baris kedua; Dan aku tersenyum sebanyak aku bernafas karena masalah masalah itu tidak akan pernah menghantamku hingga jatuh berkeping. Baris kedua ini ingin bercerita tentang cara kita menghadapi masalah. Dalam keadaan apapun, entah panas dingin, hujan badai, tetaplah tersenyum. Toh dalam hadits disebutkan bahwa Nabi berwasiat agar tetap sumeh; murah senyum. Senyum mungkin tidak akan serta merta menyelesaikan masalah. Akan tetapi, senyum setidaknya meringankan pikiran yang kalut. Yah, meskipun di dalam remuk redam. Haha. *tetap riang gembira meskipun atiku remuk.

Baris ketiga: Ada kabut yang menyelimuti pandangan yang membuatku mengubah arah penglihatan. Dan jika aku terus menerus memandangnya, mungkin saja kekhawatiranku berkurang. Harusnya kabut semakin membuat khawatir karena jarak pandang berkurang. Akan tetapi kabut itu mungkin saja adalah sesuatu yang bisa sedikit mengalihkan padangan kita sehingga kita bisa sedikit bernafas lega. Seperti sedikit ruang untuk bernafas dalam kesempitan yang bisa menghilangkan kekhawatiran.

Can we fast-forward to go down on me?
bisakah kita bergerak lebih cepat?. Bergerak lebih cepat, berlari untuk menemukan tempat yang baru yang memberikan pencerahan. Hijrah adalah salah satu jawabannya.

Stop there and let me correct it
I wanna live a life from a new perspective
You come along because I love your face
And I’ll admire your expensive taste
And who cares divine intervention
I wanna be praised from a new perspective
But leaving now would be a good idea
So catch me up on getting out of here

Berhentilah disana dan biarkan aku menilainya. Aku ingin hidup dari sebuah sudut pandang yang baru. Terkadang kita perlu berhenti sejenak untuk mengoreksi kembali diri kita. Mungkin dengan mengubah sudut pandang dalam melihat akan membuat kita menjadi sedikit lebih memahami hidup ini.

Kau ada disana karena aku menyukai dirimu dan caramu memandang sesuatu. Kita ada karena ada kesamaan dan kebahagiaan yang menyatukan. Dalam sebuah hubungan apakah itu persahabatan atau percintaan atau kemasyarakatan sekalipun, orang dikumpulkan karena sebuah tujuan dan niat. Menemukan kesamaan akan juga mempersatukan kebahagiaan yang ada. Si Aku menyukai cara pandang yang kau miliki –yang tentunya berbeda dariku-. Ya, karena perbedaan akan memberikan warna warni.

Siapa yang peduli tentang perbedaan, aku hanya ingin dihargai dari sudut pandang yang kugunakan. Perbedaan itu adalah sebuah keharusan yang menjadi anugerah. Dan lewat perbedaan itu akan muncul lebih banyak hal yang mungkin akan membuat kita menjauh (atau bahkan mendekat). Aku hanya ingin bertoleransi dari bias sudut pandang kita yang mungkin saja bisa jauh berbeda. Pergi saat ini mungkin adalah sebuah jawaban. Maka bawalah aku pergi untuk melihat dunia lebih luas lagi.

(Can we fast-forward to go down on me?)

Taking everything for granted but we still respect the time
We move along with some new passion knowing everything is fine
And I would wait and watch the hours fall in a hundred separate lines
But I regain repose and wonder how I ended up inside

Kita mengambil segalanya namun masih mencoba menepati janji pada waktu, kita terus bergerak dengan semangat yang mengharapkan semuanya akan baik baik saja. Segala sesuatu di dunia ini adalah pinjaman. Dan kita menggunakannya seolah hadiah dari Tuhan. Ya, memang hadiah (bekal) dari Tuhan. Setidaknya untuk sementara karena kita butuh lebih banyak untuk perjalanan ke alam selanjutnya. Kekhawatiran tentu ada dan yang bisa dilakukan adalah terus berusaha dan berharap dalam doa bahwa semua akan baik saja.

Dan aku akan menunggu serta melihat waktu terpecah dalam kepingan-kepingan. Tapi aku berpindah dan memikirkan bagaimana aku bisa tetap bertahan disana. Aku tetap menunggu dan tumbuh bersama waktu yang semakin menua. Dan aku bertanya bagaimana aku bisa bertahan hingga saat ini.

Can we fast-forward to go down on me?
Stop there and let me correct it
I wanna live a life from a new perspective
You come along because I love your face
And I’ll admire your expensive taste
And who cares divine intervention
I wanna be praised from a new perspective
But leaving now would be a good idea
So catch me up on getting out of here
(Getting out of here)

More to the point, I need to show
How much I can come and go
Other plans fell through
And put a heavy load on you
I know there’s no more that need be said
When I’m inching through your bed
Take a look around instead and watch me go

Lebih dari semua hal yang telah kuberikan. Bagaimana aku bisa datang dan pergi begitu saja tetap menjadi sebuah pertanyaan. Semua rencana yang telah terlewatkan, memberikan beban baru untuk kita. Aku tahu tidak ada lagi yang bisa dibicarakan ketika aku menunggumu disana dan hanya melihat kemudian kau melihatku berpaling pergi.

Stop there and let me correct it
I wanna live a life from a new perspective
You come along because I love your face
And I’ll admire your expensive taste
And who cares divine intervention
I wanna be praised from a new perspective
But leaving now would be a good idea
So catch me up on getting out of here

It’s not fair, just let me perfect it
Don’t wanna live a life that was comprehensive
‘Cause seeing clear would be a bad idea
Now catch me up I’m getting out of here
So catch me up I’m getting out of here

Terkadang memang hidup tak adil, maka biarkan aku menyelesaikannya. Ya, tentunya dengan caraku karena aku punya sudut pandang yang mungkin berbeda darimu. Aku tak ingin hidup dalam kesempurnaan karena yang seringkali yang terlihat jelas justru bukan hal yang mencerahkan. Maka, mari berhijrah. Temui aku di luar sana.

Kenapa lagu ini bermakna untuk saya? Karena lagu ini bercerita tentang sudut pandang. Entah apa sebenarnya cerita behind the scene lagu ini saya tidak begitu peduli. Buat saya, PatD! Sedang membicarakan tentang hidup. Bukan melulu cinta. Ini tentang bagaimana kita duduk bersama dan bertukar pikiran. Setiap manusia itu unik bukan? Nah, bukan sebuah dosa jika kita punya jawaban yang berbeda dalam menyikapi sebuah hal. Sekali lagi kita adalah orang yang unik yang memiliki sudut pandang tersendiri. Dan perbedaan itu adalah anugerah.

Bertahun tahun lalu  salah satu kawan lama berdiskusi dengan saya tentang kata favoritnya: existence. Yang dalam segi sempitnya mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa eksistensi dapat diwujudkan dalam berfile file foto foto selfie, status status yang mengharapkan seribu like dari peselancar dunia maya, atau kalimat kalimat galau yang didengar orang. Kesemuanya yang dianggap menunjukkan eksistensi. Padahal tidak. Lebih luas dari itu. Eksistensi adalah sebuah penghargaan dari orang orang disekitar. Dianggap ada. Begitulah definisi dari kawan lama saya tersebut. Sebenarnya eksistensi itu cuma masalah kita bisa membawa diri dalam hidup. Kuncinya adaptasi dan jadi supel. Sesimpel itu maka kita akan dapat eksistensi. Eksistensi juga bisa berarti bagaimana kita bisa istiqomah menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi. Ya, tiap manusia adalah pemimpin minimal untuk dirinya. Maka, ia butuh eksistensi sebagai umat Muhammad yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak, apakah ia sudah menjadi manusia yang baik ataukah manusia yang tak berguna. Kembali ke teman saya yang ingin existence, saya memahami bahwa ia adalah seorang yang sangat introvert. Ia haus perhatian. Dan wajar ketika ia membutuhkan sebuah eksistensi untuk bisa dihargai.

Sebuah eksistensi memang penting namun bukan yang saya harapkan. Meskipun saya orang behind the scene, buat saya eksistensi dengan mudahnya bisa saya dapatkan.

Dalam diskusi itu saya menimpali: new perspective. Mengapa new perspective? Karena saya merasa hidup adalah berproses. Jika tugas manusia adalah belajar memimpin, maka berproses di dalamnya adalah sebuah keharusan. Termasuk dalam menghadapi sebuah masalah. Butuh banyak sudut pandang untuk bisa menelaah tentang masalah yang dihadapi. Existence? Tentu saja dibutuhkan. Tapi itu bukan untuk saya. Saya mudah untuk dapat eksistensi. Sangat mudahnya jika dibandingkan dengan teman itu. Saya sudah tidak membutuhkan eksistensi. Eksistensi sangat membosankan. Populer? Banyak teman? Main kesana kemari? Ada orang yang mendengarkan keluh kesah? Kemudian apa?. Bisakah dengan eksistensi itu memberikan sudut pandang baru yang diharapkan?. Tidak juga. Dalam beberapa kasus tidak. Justru eksistensi itu terkadang membunuh. Ah sudahlah, topiknya meleber. Tak perlu dibahas jauh.

Sebuah hubungan, entah itu pertemanan, persahabatan, persaudaraan, atau percintaan entah itu apa, akan membuat kita berdinamika. Sangat mudah untuk mendapatkan lingkaran. Sangat mudah. Namun apakah lingkaran itu membawa pendewasaan, itu bergantung pada kita sendiri. Flashback, saya berdinamika dengan banyak hal dan kesemuanya memberi saya pelajaran pelajaran baru yang saya serap dan membuat saya bisa menjadi seperti ini. New perspective adalah sebuah titik dimana kita akan belajar untuk melihat, mempelajari cara pandang orang lain dan berproses di dalamnya. Akan ada banyak gejolak entah itu penerimaan, penolakan, bertasawuf, perenungan, penimbangan yang pada akhirnya berujung pada nilai nilai yang bisa saja terinternalisasi dalam diri kita. Nah lho.. bahasa teori yang cukup rumit. Hehe. Pusing?. Ok, sederhananya adalah: new perspective itu belajar memahami dari banyak sudut pandang. Kita tak harus sama dengan orang lain. Tak harus juga membenarkan atau menyalahkan mereka. Tidak perlu menyamai mereka. Saya belajar sesuatu dari perspektif yakni: be yourself. Jadilah apa adanya kamu. Semakin kamu belajar mengenai banyak hal (termasuk sudut pandang), semakin kamu merasa bodoh. Semakin merasa tolol dan semakin tak mengerti kenapa ada banyak sudut yang ternyata membuat perbedaan itu semakin indah. Dan menjadi apa adanya kita adalah salah satu cara kita belajar mengenal kearifan sudut pandang. Cara kita menundukkan gejolak kebodohan  dalam diri. Sinau a amarga awakdewe iseh bodho.

Ketika kita dihajar sebuah masalah, maka kita akan belajar bagaimana diri kita menciptakan benteng atau bahkan meruntuhkan pertahanan itu sendiri. Tapi jika kita belajar untuk melihat dengan sudut pandang burung yang terbang, kita mungkin akan coba memahami bahwa ada orang orang dan lingkungan kita yang mencoba untuk bertahan dengan cara mereka sendiri dan kemudian justru bentrok dengan diri kita. Jika kita coba untuk jongkok seperti kodok, mungkin kita akan melihat masalah itu dengan berbeda juga. Perbedaan pandangan itu akan memunculkan berbagai macam warna warni. Seperti prisma yang warna warninya adalah pembiasan dari cahaya yang masuk ke dalam kaca yang memiliki kerapatan tertentu –yang mungkin saja berbeda satu dengan lainnya-. Yang tak akan dengan mudahnya menyalahkan satu sudut pandang.

Ketika kita tidak bermasalah namun melihat orang lain yang punya masalah, disitulah Tuhan mengajar kita untuk menjadi bijak. Mendengar cerita cerita orang orang tua, sahabat, karib lama, atau orang yang tak kita kenal yang menjadi teman seperjalanan di kereta, mungkin saja memberikan pencerahan baru. Woh.. jebul urip ki abot tenan dan kamu dianugerahi kesempatan untuk berbuat lebih baik. Maka fabiayyi aaala irobbikuma tukadziban. Seperti itulah.

Ketika kita berdiskusi, dan menemui titik buntu maka kita belajar bahwa setiap orang akan melihat dari ujung yang berbeda. Atau ketika ternyata ia memiliki pendapat yang sama dengan kita, bisa jadi ada penguatan nilai nilai dalam pembahasan diskusi itu. Jika kasusnya hingga menemui perdebatan, maka jalan tengahnya adalah tahanlah emosi. Debat hanya akan meninggalkan dua hal: menang jadi arang, kalah jadi abu. Tak terselesaikan dan berakhir tak membahagiakan. Jika pun terselesaikan, tetap tak baik. Disanalah titik bertoleransi diuji. Akankah kita turut emosi atau akan ada jalan tengah yang melegakan untuk semua orang. Sekali lagi, jangan menyalahkan karena setiap dari kita melihat masalah dari sudut yang berbeda meski hanya setengah derajat saja.

Berdinamika, ya entah selama apapun itu, saya bersyukur sudah diturunkan ke dunia ini. Panjang jalan cerita dan saya adalah wayang yang dimainkan olehNya dalam lakon cerita hidup saya. Saya adalah pemeran utama dan saya sudah berjalan jauh. Tapi terkadang saya adalah penonton dari lakon wayang lain. Atau saya adalah seorang rewang yang membantu pementasan wayang lain. Kita belajar menjadi pemain utama dan terkadang bukan siapa siapa. Maka bijaklah dalam bersikap. Ah, sungguh hidup ini selalu berjalan. Seperti lautan yang tak pernah berhenti bergejolak meski riaknya tenang. Sungguh beruntunglah kau yang hidupnya tak hanya baik baik saja -yang penuh petualangan dan perjalanan yang mencerahkan-. Ya, karena kita kita ditempa bagaikan sebilah keris oleh Mpu yang bertirakat. Selalu ada pergolakan dan kita terbentuk dari tempaan kerasnya hidup. Hidup adalah tentang sudut pandang. Mbaka mung mampir ngombe, nanging pelajarane kanggo tekan mengkone ning alam kana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s