Secangkir Cinta di Gorontalo: Potensi Alam

Hal favorit yang saya lakukan selama KKN  adalah memuaskan diri memandang alam hutan Gorontalo yang masih asri. Kabut turun dengan anggunnya dalam pandangan. Sungguh angkuh tapi menentramkan. Saya masih saja menyeruput kopi panas yang saya buat hampir setiap pagi disana sambil menikmati suara suara tenang yang hampir tidak bisa saya dapatkan di Jogja yang hiruk pikuk modernitasnya luar biasa nyaring. Nun di sebelah sana, buah jagung menelungkup berwarna kuning minta banget dipanen. Saya jadi ingat pada iklan cococrunch di minggu pagi masa kecil saya. Saya membayangkan alien turun menghujani ladang gandum ini dan.. jadilah cococrunch. Hmm.. sudahi imaginasi bodoh saya. Bukan gandum yang menjadi cococrunch, tapi jagung. Iya, jagung memang tumbuh subur di Gorontalo. *Mungkin memang tidak jadi cococrunch tapi jadi popcorn rasa cokelat.

IMG_1908

Awas, invasi alien menyerang ladang jagung!

Potensi jagung di Gorontalo begitu luar biasa. Seharusnya. Ya, seharusnya jika lebih dioptimalkan lagi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mbak Mira dan Rosi, jumlah hasil panennya bisa dibilang ‘tidak seberapa’. Hasil yang hanya beberapa ton saja itu seharusnya bisa dimaksimalkan lagi hingga beberapa ton lagi. Ah, sayangnya saya lupa berapa jumlah nominal saat itu. Tapi menurut para calon ahli pertanian tersebut, jumlahnya jauh dari kata memadai. Salah satu faktornya yakni pengairan. Dan salah satu untuk mengantisipasi hal tersebut pemerintah berencana membendung hulu Bulango sehingga airnya bisa dialirkan untuk mengairi sawah sawah baru di hutan. Well.. sawah baru di hutan.. berarti akan ada berapa banyak hutan ditebangi untuk membuat sawah baru itu? ah, entahlah.

Tidak hanya jagung, disini bohulo (duku) adalah buah yang nge-hits. Pohonnya tumbuh bebas merdeka dimanapun ia berada. Entah di pinggir sungai, pinggir jalan, belakang rumah, di hutan, di pekarangan bahkan di makam. Candaan salah satu teman saya tentang orang luar Jawa yang menunjukkan bukitnya yang jauh tapi dibilangnya dekat memang bukan sekedar candaan. “Ta putri, sa mo ambil bohulo di gunung bapak saya”. Dan.. tara.. memang bener bener bukit yang cukup tinggi miliki orang tua Perlin, salah satu murid saya. Benar benar bukit. Maka, memang tidak salah bila mereka menyebutnya gunung karena literally memang sebuah gunung. Hmm.. ya gini nih asiknya jadi orang yang tinggal di hutan adalah mereka bisa menanam apapun di ladang mau dengan kontur apapun, hajarrr. Gunung gunung mereka tanami jagung –yang sungguh menakutkan untuk membayangkan bagaimana memanen jagung jagung itu dengan kemiringan lereng yang cukup membuat deg degan tiap kali menanam atau memanen.

Potensi yang cukup luar biasa lainnya adalah pohon nira yang tumbuh sehat dan bahagia di pinggiran hutan Sukamakmur-Pilolaheya. Selalu setiap pagi dan sore hari, warga akan menoreh batang nira dan menunggu tetesan nira memenuhi bumbung bambu. Delapan hingga dua belas jam kemudian mereka akan datang dan mengambil hasil usahanya. Proses selanjutnya, memasak nira dalam bumbungan itu pada sebuah kuali besar. Jangan lupa memasukkan seikat-serut kecil kayu kayuan jenis tertentu (sialnya saya lupa nama kayunya). Warga percaya, nira akan lebih ‘terikat’ (padat) dan lebih enak jika dimasukkan kayu jenis tersebut. Butuh berjam-jam untuk memproses nira cair segar berwarna keruh itu menjadi benda coklat kehitaman serupa batu yang lunak bernama pahangga atau gula aren. Setelah nira aren mengental seperti dodol, pembuatnya akan menuangkan cairan kental tersebut ke dalam setengah batok kelapa dan menunggu si aren dingin.

IMG_20140725_110246

Memasak nira segar di dangau pinggir hutan

IMG_20140725_111107

Menuang pahangga dalam batok kelapa

IMG_20140725_111132

Pahangga

Tak hanya sampai disana. Pengemasan pahangga-pahangga ini juga sangat ciamik. Kalau di Jawa, gula jawa teronggong begitu saja dalam plastik plastik -yang terkadang sudah buruk rupa tercongkel congkel dan terbentur bentur dalam perjalanan. Beda dengan pahangga. Warga menggunakan daun lontar kering untuk membungkus pahangga ini. Hasilnya: sangat cantik dan awet. Daun lontar itu berfungsi untuk menjaga si pahangga agar tidak mudah rusak.

IMG_1716

Latihan membungkus

IMG_1724

Dua pahangga dalam bungkusan manis daun lontar

Tidak hanya potensi jagung jagungan (dan bohulo dan pahangga), Bolango Ulu rupanya menyimpan potensi persawahan yang cukup menjanjikan. Satu dua lahan saja masih tidak apa apa. Namun apa jadinya jika satu luasan hutan dibabat untuk dijadikan persawahan. Semoga saja tidak seperti itu. Bicara soal perlahanan, warga memiliki lahan yang bisa dikatakan cukup luas –dan turun temurun diwariskan ke anak cucu. Lahan lahan mereka itulah yang ditanami tidak hanya tanaman namun juga rumah semakam makamnya. Kadang kala saya tidak menyadari bahwa saya sedang melewati sebuah makam entah milik siapa. Makam betebaran dimana mana dan biasanya terletak di tanah si keluarga tersebut.

Sayur sayuran tumbuh dengan merdekanya di lahan Sukamakmur. Tapi jangan dibayangkan sayur sayuran dataran tinggi seperti yang biasa kita lihat di pasar. Tidak semua sayur bisa tumbuh disini. Hanya sayur sayur yang berdaya tahan tinggi dan liar. Tentunya tidaklah lengkap karena sayur sayuran macam sawi, pakcoy, lettuce dan sayur lainnya adalah tanaman budidaya dan bukan tanaman yang dibiarkan tumbuh liar seperti yang kami temukan di hutan. Sungai Bolango yang masih jernih menjadi tempat tumbuh terbaik untuk kangkung kangkung air yang gendut gendut lagi renyah. Kadang kala kami memetik metik kangkung itu untuk kami jadikan santapan siang. Belum lagi kami masuk ke hutan, ada nangka ambil nangka, ada daun singkong ambil bawa pulang, ada daun cincau jadi jadian, kami ambil pula untuk dieksperimenkan. Bayam bayaman, daun pepaya, daun katuk, kelapa dan berbagai macam sayur sayuran. Kadangkala untuk menyiasati kebosanan makan, kami akan membeli sayur pada tukang sayur yang lewat di depan rumah.

Hal yang menyedihkan adalah bumbu dapur hampir bisa dibilang sangat sulit dicari. Sejak dari Jogja saya sempat berpikiran untuk mampir ke Bering untuk membeli bumbu pawon beberapa kilogram. Namun karena pertimbangan bagasi dan medan kami di hutan –sehingga menurut saya akan banyak tumbuh bumbu dapur- perhitungan saya meleset jauh. Ya, sayangnya saya salah besar. Kunyit kunyitan, jahe, kunyit putih, dingo bengle, dan banyak tanaman lain tidak tumbuh dengan bebasnya di alam Sukamakmur. Mereka harus dibeli di pasar yang jauhnya Kaliurang-Parangtritis dengan medan berbelak belok kanan hutan kiri jurang. *dan kemudian saya menarik napas panjang. Saya masih gagal paham mengapa warga tidak banyak menanam tumbuhan tersebut secara sporadis. Padahal sangat bermanfaat. Kalau dibilang mereka tidak tahu apa apa mengenai tumbuh tumbuhan tersebut sih, nggak juga. Saya menemukan sepetak kecil pekarangan kampung yang ditanami timbu ale dan berbagai macam tanaman obat lain sebagai program PKK desa setempat. Cuma ya itu tadi, nggak kerawat. Berasa kayak ada program, LPJ an, njuk udahan. Nas, tit, bar. Alang alang setinggi betis dengan merdekanya menari nari diantara tanaman obat yang mati segan hidup tak mau.

Sungai Bolango adalah sungai yang sangat jernih. Batu batuan berwarna warni sanggup terlihat dibawah warnanya yang transparan. Ikan ikan, apabila kita jeli, mereka bersembunyi dengan anggun di balik warna warna batuan yang bersih. Indah sungguh. Tapi masih ada saja sampah sampah hasil mencuci dan mandi seperti detergen dan pasta gigi melayang layang. Rupanya kesadaran membuang sampah pada tempatnya –atau menyimpan sampah dan membuangnya di saat yang sudah tepat belum begitu membudaya. Di sepanjang jalan di kampung kami pun belum begitu bersih. Kotor banyak sekali sampah sampah bungkus ciki, makanan ringan dan botol botol bekas rumah tangga tergeletak begitu saja di jalanan. Sayang sekali budaya untuk cuci tangan dengan baik dan benar juga bukan hal yang dianggap penting. Anak anak yang bermain dengan tanah, tangan kotor kemudian asal mengambil makanan. Ini nih mulainya dari penyakit.

Kondisi hutan Gorontalo masih cukup cantik –dan mungkin- masih bisa dikatakan sehat. Hutannya masih berisi pohon pohonan yang asri, paku pakuan -dari yang bisa disayur sampe yang hanya bisa dipandangi saja, bahkan sampe To Ayua (orang hutan legenda mistik setempat). Ah, ini hanya asumsi saya saja. Entah bagaimana di dalamnya. Apakah ada pembalakan liar, kongkalikong antara mahluk mahluk yang menginginkan uang masuk ke rekening gendut mereka, saya tidak tahu. Biarlah kebenaran berbicara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s