Pameran Etnofotografi

Foto adalah aspek lain yang menjadi tanda kekinian di jaman sekarang. Taruhlah, kalau dulu kita akan berdoa sebelum makan, sekarang tidak akan lengkap rasanya tanpa poto poto dulu, hehe. Oleh karena saya menyukai dunia fotografi, saya sedikit sedikit belajar mengenai fotografi. Salah satu cara saya menimba ilmu fotografi adalah dengan berguru pada Profesor P.M Laksono yang mengajar mengenai etnofotografi di kelas antropologi. (psst.. saya tertarik dengan antropologi, arkeologi dan pariwisata).

Tidak lengkap rasanya sebuah foto tanpa ada cerita di dalamnya. Untuk itu saya ingin belajar mengenai etnografi dan fotografi. Saya suka mengamati lingkungan sosial saya dan mengabadikannya melalui jepretan kamera, setidaknya ponsel saya. Saya ingin lebih mengenal bagaimana saya bisa mengenali fenomena sosial tersebut dan peka terhadapnya.

Melalui kelas yang diberikan Pak Laksono di kelas Antropologi, saya jadi mengetahui gambaran fotografi yang sangat penting untuk menunjukkan fenomena sosial di sekitar kita. Fungsi foto tidak hanya sebagai penangkap momen maupun gaya gayaan. Fungsi terpentingnya adalah untuk mengabadikan situasi dan kondisi yang berbeda dari kebanyakan. Terlepas dari teknis teknis fotografi seperti pencahayaan, eksposure, angle, editing akhir dan berbagai macam lainnya, saya sejujurnya belum terlalu menguasai teknis teknis yang dapat menghasilkan foto yang dianggap bagus. Fokus saya masih bagaimana cara menangkap momen etno dari sebuah kondisi sosial.

Sebagai sarana praktek etnofotografi yang telah kami pelajari selama satu semester, satu kelas kurang lebih empat puluhan orang melakukan hunting foto dan mengadakan pameran fotografi di Rumah Seni Sidoarum selama tiga hari di bulan November 2015.

Satu kelas mengadakan musyawarah untuk menentukan tema. Dari berbagai usulan tema, dipilihlah satu tema besar yakni Sekaten karena di saat yang sama, Jogja sedang semarak dengan perayaan Sekaten di Alun Alun. Kami membagi tugas menjadi sebuah panitia yang mengurus macam macam seperti koordinator pengumpul karya, koordinator pameran, konsumsi, humas dan sebagainya. Panitia pengumpul foto juga sudah membagi kami menjadi beberapa bagian tema besar seperti transportasi, perekonomian, sosial dll.

Saya hunting foto di sekitar alun alun. Dari sekian banyak foto yang ambil dengan menggunakan kamera digital, saya memilih becak dan sepeda sebagai tema utama saya. Saat itu saat itu saya berdiri di sebelah tenggara alun alun. Saya melihat ada anak yang naik becak bersama ibunya. Baru sayasadari becak yang ditumpangi ibu anak tersebut bukanlah becak biasa melainkan bentor. Becak saat ini tidak lagi dikayuh dengan tenaga manusia seperti lazimnya becak tradisional. Becak dimasa sekarang menggunakan motor penggerak untuk menambah tenaga pada laju si becak. Biasanya para pengendara becak menggunakan motor bekas yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa disambungkan dengan bodi becak. Saya melihat fenomena ini sebagai perubahan gaya transportasi dari yang awalnya tradisional menjadi lebih modern. Terlebih, penggunaan motor dimaksudkan agar energi yang dikeluarkan Pak becak menjadi lebih irit dan lebih cepat sampai. Selain itu, bentor lebih diminati karena lebih cepat sampai dibandingkan becak tradisional. Akan tetapi bentor sempat menjadi masalah di kota Jogja karena identitas becak yang tidak jelas. Becak yang seharusnya digolongkan menjadi alat transportasi non-motor berubah fungsi menjadi kendaraan bermotor. Hal ini dianggap menyalahi tata aturan. Selain itu, perubahan dari non-motor menjadi motor juga menghilangkan identitas kendaraan tersebut.

Jpeg

Ayo ke Sekaten

Saya cukup tercengang ketika karya saya ini menjadi karya pertama pembuka pameran. Karya saya adalah karya pertama yang akan dilihat pengunjung ketika memasuki pameran. Sungguh suatu yang mengharukan bagi saya. Saya pikir foto saya tersebut hanya foto biasa yang entah akan diletakkan dimana oleh kawan kawan tim dekorasi. Padahal kalau dipikir pikir masih banyak karya teman lain yang lebih menang teknis dan editingnya cukup oke. Ternyata konsep pemilihan foto yang dikemas dengan konsep fotonovela membuat panitia bekerja ekstra keras untuk menyeleksi karya yang masuk. Tidak hanya melalui pemilihan foto berdasarkan kecocokan tema, pemilihan juga berdasarkan cerita yang ingin disampaikan oleh kami para fotografer sehingga sayang sekali tidak semua hasil foto teman teman bisa masuk ke dalam pameran ini. Jadi.. saya termasuk satu yang beruntung bisa masuk ke dalam pameran ini. *mewek*

Sambutan audiens cukup meriah. Mereka senang dengan hasil foto kami. Ada beberapa pengunjung mengatakan apresiasinya terhadap karya yang kami hasilkan. Sangat memotret fenomena sosial tersebut. Tiga hari berpameran cukup membuat kami belajar bagaimana proses menuangkan ide dan mengabadikannya melalui jepretan yang tidak boleh hanya sekedar memotret namun harus memiliki arti. Ya, fotografi itu seperti seni. Abstrak tapi memiliki arti. Setiap orang bisa memiliki interpretasinya sendiri tapi si pemilik karya bisa memberikan latar belakang mengapa ia mempersembahkan karya tersebut. Pameran pertama saya ini tidak membuat saya berpuas diri. Bahkan dari kelas etnofotografi ini saya belajar untuk memberikan arti pada setiap foto yang saya ambil. Tidak hanya dalam bidang fotografi namun juga seni rupa. Saya menyukai dunia seni rupa dan melalui etnofotografi, saya menjepret imaji yang ada di sektar saya kemudian saya tuangkan pada sebentuk gambar yang tidak hanya berupa garis namun sarat dengan makna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s