Cerpen : Elegi Patah Hati

Patah hati? Hampir semua orang akan bilang iya, entah bagaimana macam ceritanya. Satya sedang patah hati. Iya, patah hati. Berkali kali selama beberapa bulan ini. Satya, gadis muda yang kelelahan, dininabobokkan gelap hingga tidak sempat untuk membuka pesan di ponselnya. Di tengah tidur, ada telepon masuk dan karena lelahnya Satya mengabaikan panggilan itu. Esok pagi, Satya buka dan Satya ternganga tidak percaya. Salah seorang sahabat Satya bercerita bahwa pacarnya menangis semalaman tak berhenti. Satya segera mandi dan kemudian segera datang ke rumahnya.

Arina menyambut Satya dengan muka bengkak bekas menangis semalaman. Satya yang lebih bingung, tidak tahu harus memulai dari apa karena ia sama sekali tidak memahami titik permasalahan yang dilontarkan Angga. Satya duduk dan membuka laptop. Ia kerjakan tugas yang masih harus diselesaikan untuk hari nanti sambil tetap tersenyum meski hatinya kecut. Terlebih dengan melihat kondisi Arina yang terlihat tidak bersemangat sama sekali dengan muka sedihnya yang selalu seperti itu. Tak berhenti ia mengecek ponselnya, menunggu Angga datang. Tidak sabar ia untuk mendengarkan mereka berdua.

Sampai satu jam, Angga tak juga datang. Tinggalah mereka berdua terdiam dalam situasi kelabu. Nenek Arina datang dan tatapannya yang membunuh benar benar membuat Satya kebingungan. “jika bermusuhan, segeralah untuk berbaikan kembali”. Satya hanya terdiam, bengong. Neneknya gelisah seolah olah ingin sekali mencampuri urusan yang belum jelas ini akan tetapi ia sedikit tidak enak hati dengan Satya. “Kamu sudah berapa tahun berteman dengan arina” kata kata tajam neneknya benar benar menusuk hati. Satya semakin ditarik masuk dalam pusaran kebingungan.

Pukul 08.00, Angga datang. Mulailah Satya membuka percakapan. Ia ingin tahu apa yang terjadi, mengapa Angga begitu panik dan Arina yang muncul dengan muka bengkak. Ia hanya ingin pengakuan jujur ada apa dan mengapa serta bagaimana sebuah hal yang membingungkan terjadi. Dimulailah pengakuan yang membingungkan. Selama ini mereka bertiga adalah sahabat, hinga tibalah kemudian baru Satya tahu jika ada kecemburuan diantara mereka bertiga. Kekhawatiran Satya terhadap kecemburuan Arina terjadi.

Kecemburuan Arina dimulai sejak dahulu. Angga baru satu tahun menjadi orang spesial bagi Arina. Tapi karena Satya adalah sahabat dari Arina, Angga pun menjadi sahabat dari Satya. Perjalanan, mereka bertiga bersahabat. Bahkan meskipun pertemanan mereka terhitung baru, Angga dan Satya bisa berteman layanya teman lama. Tanpa satya pernah menyadari bahwa kecemburuan Arina dipendam lama karena melihat perlakuan yang lebih dari Angga ke Satya. Seringkali mereka berdua saling mengejek, bercerita satu sama lain. Pernah satu kali ketika Satya dan Angga mendengarkan musik berdua, Arina merasa panas. Tanpa pernah berbicara jujur pada Satya tentang perasaannya.

Satya sebenarnya sudah menduga hal ini sejak lama. Sejak pertama kali Satya menyadari bahwa kedua sahabatnya ini saling mencintai, ia pelan pelan menjauh. Ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka sekaligus mengantisipasi perasaan cemburu yang mungkin Arina bisa rasakan. Mereka masih berteman baik, tapi ada banyak hal yang Satya berusaha untuk batasi hanya agar Arina tidak cemburu.

Arina pernah menegur Angga dan Satya ketika mereka sedang bercanda. “Angga, kamu jangan kasar ke Satya”. Pertama kali teguran, Satya hanya menganggap Arina membela dirinya. Tapi ketika Arina menegur Angga hingga beberapa kali, disitulah Satya sebenarnya merasa teguran itu ditujukan untuknya. Kemudian ia menjaga jarak. Ia berusaha untuk menanggapi candaan Angga dengan candaan yang lebih ringan. Ia hanya akan menanggapinya ketika orang lain juga ikut bercanda.

Suatu ketika, Satya mengajak Angga dan Arina pergi piknik bersama teman-teman lainnya. Disinilah Satya terlalu jauh melangkah. Karena ia merasa bahwa mereka bertiga adalah sahabat, ia merasa tidak masalah untuk selfie bertiga. Sampai kemudian “aku nggak mauuuuu kamu selfie sama Angga”. Satya yang selanjutnya langsung kikuk, menjauh. Diiringi oleh cekikikan dan muka bingung teman teman lainnya.

Selanjutnya, tanpa Satya ketahui, Angga mengira bahwa Satya menyukainya lebih dari seorang sahabat. Ia mengasumsikan bahwa segala yang Satya lakukan adalah untuk menarik perhatian Angga. Ketika ada pertemuan dalam sebuah kelas, Angga mendengarnya menyanyikan lagu. Akan tetapi Satya merasa menyanyikannya benar benar karena suka, bukan untuk Angga. Berkebalikan dengan Satya, Angga merasa lagu lagu yang dinyanyikan oleh Satya adalah untuknya. Angga mengira ejekan Satya adalah kalimat sayang untuk Angga.

Sampai suatu malam, ketika Angga dan Arina bertemu di rumah Arina “Arina, mungkinkah Satya menyukaiku?. Ah entahlah, aku hanya merasa dia seperti memendam perasaan suka padaku”. Air mata mengalir deras di pipi Arina tanpa bisa dibendung. Angga tidak berhasil meredam kekecewaan sekaligus amarah Arina. Orang tua Arina, adiknya dan nenek Arina datang untuk mendinginkan hati cucunya itu. Yang mereka dapat adalah Arina yang tidak berhenti menangis, tidak menjawab dengan jelas dan menolak untuk makan dan aktivitas lainnya. Yang ia lakukan hanyalah tenggelam dalam kesedihan. Nenek Arina begitu marah luar biasa melihat cucunya itu terpuruk. Beliau menyalahkan Satya yang dianggap sudah merusak kebahagiaan.

Satya kecewa. Begitu kecewanya ia karena dua sahabatnya ini tidak pernah terbuka dan terlalu emosional dalam menyikapi sebuah masalah. Andaikan ia tahu bahwa ada praduga diantara dua sahabatnya ini, ia akan memastikan bahwa ia akan segera menyelesaikan tanpa harus membuat Arina berjam jam membuang energy dengan tangisan percumanya. Ia akan membuat Angga sadar bahwa praduga Angga soal perasaan cinta satya bukanlah hal yang nyata. Ia tidak akan menjadi korban.

Satya kecewa pada keduanya. Kecewa pada keputusan yang terlalu dianggap gegabah. Kecewa pada Arina yang telah lama merasakan sakitnya kecemburuan tapi tidak pernah berusaha untuk menghadapi Satya secara gamblang untuk mengutarakan sakitnya. Hanya mengkode dalam diam. Harusnya Arina mengerti bahwa sahabatnya bukanlah seseorang yang suka mengenali kode. Ia akan lebih suka jika seseorang berterus terang dan segera menyelesaikan masalahnya. Jika Arina merasa semua bermasalah, harusnya Arina segera berbicara.  Diam memang emas, tapi diam, diam-diam membunuh.

Satya tidak pernah sama sekali memiliki perasaan yang lebih dari seorang teman terhadap Angga. Tidak pernah lebih. Angga bukanlah orang yang menarik perhatian satya. Angga bukan orang yang mampu mengalihkan dunia satya. Angga bukan orang yang diinginkan satya. Tidak pernah terukir nama Angga di hari saya. Tapi Satya sadar bahwa ia terlalu jauh berjalan. Sikapnya yang selama ini menurutnya hanya candaan dan perhatian seperti layaknya teman akrab lainnya malah menjadi bencana. Bencana karena Satya lah yang pada akhirnya harus hancur hanya karena sebuah praduga yang jauh dari benar.

Tapi Satya pun kemudian terdiam dan menutup mata. Dalam helaan nafas, ia sadar. Ini pun juga kesalahannya. Ia sudah berhati hati sejak lama. Tapi lagi lagi, tidak ada jalan yang lurus, kadang kamu menemui kerikil di antaranya. Satya yang sudah berhati hati pun akhirnya tersandung di jalan itu. Ia menyadari bahwa mungkin ada sikap dan perkataan yang salah. Meskipun lagi lagi hatinya merasa tidak bisa menerima karena ia tetap merasa ini semua tidak adil baginya. Bukan kesalahannya hingga semua sampai begini. Tapi, ia menyadari bahwa ia tetaplah seorang manusia biasa dimana tetaplah ada kesalahan meskipun Satya tidak sempat menyadarinya.

Pada akhirnya mereka bertiga belajar banyak hal. Satya belajar bahwa ia harus lebih berhati hati lagi. Arina harusnya juga harus bisa menempatkan diri. Selama ini dia adalah orang yang terlalu polos, terlalu sedih dan terlalu datar. Ia seperti mengukur sesuatu dari dirinya. Ia harus belajar bahwa setiap orang diciptakan berbeda. Dari perbedaan itu, masalah akan muncul sangat banyak. Jika ia tidak bisa menempatkan dirinya, ia gagal untuk memahami orang lain. Ia harus memahami bahwa orang lain juga punya perasaan yang harus dijaga. Diam bukan berarti menjaga perasaan. Karena diam terkadang malah lebih menyakiti. Angga, ia harus belajar untuk tidak terlalu jauh membuat praduga. Ia harus belajar untuk menata lidahnya. Kapan harus diam dan kapan harus berbicara dengan kalimat yang lebih tertata. Ia harus paham bahwa kondisi orang berbeda antara satu sama lain. Jika ia salah melempar, ia akan melukai orang lain yang mungkin tidak harus terlibat. Ia juga harus menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikait kaitkan pada sesuatu. Nggak semua orang suka mengode atau dikode. Pahami.

Bukan masalah mereka bertiga yang menjadi hal yang ditakutkan oleh Satya. Tapi hubungan keluarga yang selama ini sudah satya coba untuk bangun, sudah hancur menjadi remahan tak berbentuk. Satya begitu kecewa. Patah hati yang memerlukan waktu untuk sembuh. Kepercayaan yang ia dapatkan selama ini terlanjur runtuh. Ia canggung menatap mata nenek Arina, ia kikuk melihat ayah Arina dan ia sedih melihat adik Arina. Semuanya. Iya, semuanya. Ia merasa bersalah terhadap semua hal. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia telah lalai pada beberapa hal. Satya tersandung dan jatuh di jalan yang ia kira akan lurus lurus saja. Ia lupa bahwa tidak pernah ada aspal yang mulus.

Satya hanya butuh waktu. Waktu untuk sembuh dari luka yang ditimbulkan oleh praduga yang hampir membunuh banyak hubungan di dalam sebuah lingkaran. Ia hanya butuh segera sembuh. Tidak lebih. Ia belajar lagi. Bahwa cinta, adalah hal yang tak nampak tapi mampu membunuh dalam diam.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s