Mirisnya Realita Nyetatus

Status itu kayak kita ngelempar belati ke udara terbuka. Kita tidak pernah tahu belati itu jatuh kemana. Bisa saja jatuh ke tanah, tapi salah salah ngenain orang lewat. Mungkin kita pikir cuma curahan hati untuk diri sendiri atau sekedar iseng, tapi lagi lagi kita nggak pernah tahu siapa yang akan kena

Itu adalah penggalan pesan yang saya kirimkan ke salah seorang sahabat saya. Sebuah pesan datang menyarankan agar saya bertanya pada dia sebelum mengejudge sesuatu. Itu intinya. Kemudian saya membalasnya dengan satu paragraph panjang kutipan diatas. Seringkali facebook, twitter atau apalah sosial media yang berjubel di dunia maya memang memberikan sebuah ruang untuk berekspresi. Bagaimana tidak, hanya karena sebuah kalimat membuat hati orang lain bertanya tanya. Inilah besarnya peranan media dalam mengubah citra seseorang.

Salah satu teman melakukan semacam protes terhadap saya yang dikira mengkepo dia. Well, ngapain saya harus kepo?. Saya hanya tidak sengaja mengklik teman teman saya dan tiba tiba muncul statusnya yang membingungkan. Kemudian ia mengira saya mengkepo. Well, I swear not. Lagi lagi sikap membingungkan muncul karena tidak ada kejelasan. Makanya kalau bikin status yang jelas jelas aja ya. Tapi syukurlah persoalan saya dengan salah satu teman saya ini, sudah berakhir. Kami berteman lagi seperti biasa. Tidak ada yang berubah.

Saya menganalisis bahwa ada beberapa tipe orang pengguna jejaring sosial itu di sekitar saya (di luar pengguna yang sudah menggunakan laman mereka dengan bijak). Pertama orang yang suka sharing masalahnya, lebih karena ia ingin diperhatikan orang lain. Statusnya melulu tentang kesedihan, seolah ingin menunjukkan bahwa ia patut untuk dikasihani. Hey, kayak hidupmu paling sedih aja. Nggak kamu aja kali yang banyak masalah. Masalah kok dipamerin. Buat saya cerita di facebook itu seringkali nggak solutif. Hanya solutif sesaat yang tentunya sesaat alias sementara. Paling paling habis nulis dia merasa sudah sedikit lega tapi toh ujung ujungnya solusi dari masalah yang ia hadapi tidak serta merta muncul dari facebook juga. Galau lagi deh habis itu. Apalagi kalau dikomentari dan pemilik status cuma bilang : tidak apa apa. Cuma bisa ngeluh doang yak. Itu ngeselin. Lagipula jengah nggak sih kalau terus menerus liat status temen di home. Pernah saya nge-mute temen karena statusnya hampir selalu ada. Ni orang apa nggak ada kerjaan lain ya selain nyetatus galau mulu. Nggak ngeremove kok, hanya membuat statusnya tak lagi muncul di homepage saya.

Kedua orang yang hobi banget pamer. Entah itu dia posting dia mengunjungi tempat yang cantik, pergi hang out sama temen, belanja ini itu, sampai memamerkan hal hal yang bersifat sedikit pribadi. Well, apakah kamu ingin menunjukkan kepada dunia betapa hidupmu sangat indah? Lalu apakah yang melihat juga akan terinspirasi dengan postingan orang orang  itu?. Nggak juga. Kalau memang postingan itu bermutu, mungkin juga bisa menginspirasi tapi kenyataannya lebih banyak yang tidak. Usaha sama nasib bro. Pamer biar dikatain keren? Hoho. Penting bingits yak?

Ketiga hobi banget memaki. Terutama orang orang yang merasa tidak puas terhadap apa yang sudah mereka dapatkan atau rasakan. Entah itu memaki teman, pacar, keluarga sampai Negara. Saya pernah melihat dua teman saya berseteru di media sosial hanya karena persoalan status. Itu waktu jaman jaman alay sih. Tapi bisa dilihat bahwa curhatan seseorang bisa berujung rusaknya sebuah hubungan. Berawal dari perang status sampai perang terbuka. Kampret banget terjebak pada perang dingin sampai ke perang dunia. Dua orang berseteru, menyeret orang orang lain, dan kita terjebak pada perang mereka. kampret. Tapi sialnya orang orang kayak gini juga bukanlah orang yang solutif apalagi yang sering memaki negara bahwa negara tidak becus memelihara rakyatnya, yang pemerintahan bobrok atau apa. Bukannya saya terlalu memihak pemerintahan, tapi seiring saya tumbuh, saya bisa merasakan bagaimana sulitnya mengatur sebuah hal yang menjadi tanggung jawab kita. Manage sebuah tim kecil aja belum tentu becus apalagi ngurus sebuah negara. Tidak segampang itu. Jika mereka diberi tanggung jawab mengurus negara, belum tentu orang orang itu becus dan bijak.

Keempat alay alay bego yang tidak menuliskan kalimat dengan baik. Saya sempat ketawa ketika saya masuk ke sebuah forum dan ada seseorang yang membutuhkan seorang karyawan untuk tokonya. Seketika itu ada saeorang perempuan yang saya identifikasi sebagai alay alay yang mungkin baru saja lulus dari sekolah. Dengan bahasa yang kurang tertata, tulisan yang tidak jelas titik komanya, bisa dibilang struktur yang cukup mengganggu mata. Si pemilik status sempat kesal karena ketidakmutuan bahasa perempuan alay tersebut. Di akhir komentar saya ngakak nggak habis habis karena jawaban dari pemilik status : Mbak, sudah ya. Mohon jangan ngelamar di toko saya. Ngelamar di toko lain saja. Mungkin si pemilik toko sampai tobat kalau punya karyawan yang maaf maaf saja ni, sedikit kurang. Sekedar saran saja, jangan pernah bolos waktu pelajaran bahasa Indonesia. Tau sendiri kan akibatnya kalau nyusun kalimat sederhana aja nggak bener.

Kembali ke status saya diatas, saya sedikit berhati hati agar tidak semudah itu menjudge orang. Rasanya disindir lewat status itu, sakitnya disini bro. Lagi lagi status itu emang kayak belati yang kita lemparkan ke udara dimana kita tidak tahu apakah belati itu bakal jatuh ke tanah atau ngenain orang lewat. Saya pun juga bukan pertama kali kena belati. Berkali kali. Padahal mungkin juga pemilik status belum tentu untuk menuliskan dan menujukannya untuk saya. Tapi lagi lagi tulisan itu setajam pedang. Hati hati. Membingungkan memang. Saya pun sudah lama tidak membuat status yang aneh aneh. Alay? Pernah dong. Siapa sih yang nggak pernah alay. Yang pernah menjalani masa sebagai anak muda pasti pernah alay. Di masa itu bikin status aneh masih dianggap biasa karena kita anak alay. Belum mikir kayak orang beneran. Tapi lambat laun kita harus sadar. Hidup bukan melulu terus menerus remaja. Hidup itu menua. Semakin tua harus semakin bijak dan mikir panjang. Saya pun sebenarnya bukan orang yang suka bikin status. Hanya sesekali dalam rentang waktu yang tidak teratur. Kenapa? Karena saya menyadari bahwa mungkin saya tidak sengaja melukai orang lain dengan apa yang saya tulis di jejaring tersebut. Lagipula saya nggak tahan kalau cuma bisa nulis pendek. Saya lebih suka curhat panjang lebar ke orang atau menuangkannya pada tulisan biar lega sekalian. Bedanya medsos sama blog adalah medsos itu milik publik sedangkan blog itu udah kayak rumah kita, laman kita sendiri. Mau kita tanamin bunga, siramin tiap hari, atau mau ngerusuh disini juga rumah kita sendiri. Asal tetap mengikuti etika lho ya.

Bermedia sosial itu penting karena jadi anak gahol adalah bagian dari kehidupan. Tanpa medsos, hidup kurang lengkap juga di era globalisasi kayak gini. Tapi solusi kongkretnya adalah bermedia sosialah dengan bijak. Perhatikan porsi. Hati hati dalam memosting sesuatu entah itu tulisan, gambar maupun hal hal yang menyangkut pribadimu. Bikin status itu kadang lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya karena mungkin konten dari postingan itu setajam belati yang mungkin tidak kamu sadari ngenain orang lain. Miris cuy. Sakitnya tuh, disini… Makanya hati hati. Bijaklah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s