Antara Saya dan Sang Kuasa

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن

 يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

 “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

Sungguh tidak mudah untuk menentukan sikap. Apakah kamu seorang perempuan muslim? tentu kamu harus menutup dirimu. Seperti itulah Al Quran bercerita.

Menutup diri bukan berarti kamu harus menutup diri sepenuhnya. Pada akhirnya saya menutup diri karena hati, bukan karena keinginan siapapun. bukan juga orang tua saya. Mungkin saja pada akhirnya. Ketika ada perempuan belum mau menutup diri, mungkin saja karena dua hal. Pertama dia belum siap, kedua dia membutuhkan proses. Yang kedua, dia memang sulit untuk diberitahu. Untuk poin pertama, sekali lagi, urusan religi adalah hanya antara diri kita dan Yang Kuasa. Tidak lebih. Ketika kita sudah siap, maka akan kembali ke diri kita. Bukan karena fashion, style atau tekanan dari lingkungan. Ketika kita hanya melihat fashion, betapa bodohnya kita. fashion, mau kamu ikutin terus nggak akan pernah ada matinya. Kamu sendiri akan lelah untuk menjalani. Ketika banyak tekanan menyudutkan, bisa saja ada ketidakikhlasan yang tersimpan. Dan disinilah kita diuji, sanggupkah kita menjaga hati di tengah hantaman tekanan, atau kita hanya menyerah pada tekanan tanpa memikirkan banyak hal menurut berbagai sudut pandang? Hanya kita yang bisa mengambil keputusan.

Sahabat saya selama beberapa tahun mencoba membujuk saya untuk memakai hijab. Bahkan dia menantang saya dengan berbagai hal sampai saya lupa apa saja (ada ya orang yang sampai segitunya. haha). Dan secara tegas saya bilang ke dia bahwa saya tidak akan pernah berjanji kepada siapapun, menjanjikan sebuah hal yang seharusnya hanya antara saya dan Tuhan. Dia terdiam dan menarik nafas. Mungkin ia merasa jengah karena berkali kali dia tidak sanggup memecah batu karang kekeras kepalaan saya. Yang lain memasuki pikiran saya secara halus ketika kami mengobrol berdua. Dia tahu saya suka cerita, dia mendongengkan saya hal hal tentang dirinya tapi saya tahu kemana arah kata bermuara. Hanya senyuman yang terkesan tidak peduli, hanya dengarkan ucapannya. Di satu titik ia lelah. Saya tahu itu. Lelah karena saya seakan tidak merespon, lagi lagi keras kepala. Saya hanya tersenyum. Mereka begitu peduli, begitu menyayangi saya. Namun ada hal yang tidak mereka pahami bahwa waktu itu adalah obat. Waktu adalah hal yang saya butuhkan. Mengapa waktu? Karena banyak hal yang tidak bisa terjelaskan harus saya lalui hanya dengan waktu. Waktu itu adalah penyembuh. Saya paham mereka lelah karena kekeraskepalaan saya. Tapi saya tahu jika suatu saat saya memakai, maka mereka akan menjadi salah satu orang yang bahagia dan lega luar biasa. Saya tahu bahwa ada doa terselip agar saya, sahabat mereka, bisa segera menjalankan perintah agama ini. Terimakasih banyak.

Orang tua saya sendiri bahkan tidak memaksa saya. Bukan tanpa alasan. Mereka tidak ingin karena paksaan mereka, saya jadi terpaksa untuk menjalankan. Di suatu hari saya berdiskusi tentang hijab kepada mereka berdua. Mereka memberikan pandangan menurut sudut pandang mereka dan saya juga mengutarakan bahwa putri mereka ini belumlah siap dengan konsekuensi agama tersebut. Apa yang saya takutkan ternyata tidak terjadi. Saya pikir mereka bedua akan marah marah luar biasa, memaki, memaksa saya untuk hal ini. Tapi ternyata tidak. Mereka begitu bijak menghadapi saya, putrinya yang sedang mencari jalan untuk hatinya. Orang tua saya bahkan bilang bahwa jika saya memang tidak siap, tidak apa apa. Jalani saja dulu. Nanti pada saatnya kamu akan menemukan jalanmu. Saya belajar satu hal dari diskusi di sore tersebut. satu hal memang tidak bisa dipaksakan : antara kamu dan Penciptamu. Saya berbalik dan meninggalkan mereka. Air mata meluap hingga ke ujung. Saya lega luar biasa. Dan saya salut pada mereka bahwa mereka memberi saya waktu untuk memahami bahwa ada proses di setiap pengambilan keputusan. Mereka bilang : waktu, Nak. Saya berproses menuju dewasa dan mereka memberi kesempatan bahwa saya harus belajar sendiri dalam proses tersebut. Terimakasih.

Banyak orang, bisa dibilang memaksa saya untuk memakai. Saya melakukan rebellion. Entah siapapun itu, meskipun ia adalah orang yang saya sayang, terkadang mereka tidak memahami bahwa saya tetaplah saya. Saya bukan mereka. saya hanya ingin proses saya sendiri. Saya tidak suka melakukan sesuatu karena paksaan. Diantara semua saudara saudara saya, hanya saya dan adik adik saya yang belum menggunakan. Tidak ada rasa kebanggaan sama sekali terhadap hal ini. Saya tahu, saya terlalu keluar dari jalur. Tapi mereka tidak paham bahwa lagi lagi mereka tidak memahami kami. Mereka terlalu memukul rata sebuah kondisi yang harusnya mereka pandang bahwa kami membutuhkan bimbingan : lewat cara yang mengena. Percuma ketika hanya bisa banyak cakap tapi tidak bisa mendekati hati lewat cara yang bisa merasuk dengan halus. Percuma ketika hanya bicara tentang  syariat sedangkan mereka sendiri tidak menjalankan dengan benar.

Ketika berjalan dan semua mata memandang, saya tahu mereka mencibir saya. Tapi apa yang mereka dapat? Saya hanya melenggang kangkung, tutup mata, tutup telinga. Beberapa orang sialan malah memandang miring. Saya tidak pernah mempedulikan omongan orang yang macam macam. Siapa mereka? haruskah saya berkomentar terhadap mereka yang hanya bisa banyak cakap. Ini bukan tentang menjadi muslimah yang syar’I atau apalah. Hijab bukan soal menghijabi hati. Lagi lagi semua adalah soal proses. Semua hal butuh waktu. Mereka lupa bahwa setiap hal yang terjadi tentunya memiliki latar belakang. Mereka lupa bahwa menyadarkan seseorang bukanlah dari bentakan, sindiran, kata kata keras, ataupun tatapan sinis. Damn ya. Islam mengajarkan kelembutan bukan? Dan kalimat kasar nan menyindir tidak akan pernah melunakkan hati yang paling lembut sekalipun. Jikalau air yang menetes dengan lembut sanggup untuk memecah batu sekeras karang, maka analoginya kalimat yang santun justru akan merasuk ke dalam sanubari manusia yang kerasnya luar biasa.

Di sebuah makan siang, seperti biasa kami nongkrong di sebuah tempat makan lesehan. Sebuah kotak merah marun berbunga bunga, diberikan kepada saya sebagai kado ulang tahun yang terlambat diserahkan –atau lebih tepatnya tergesa gesa untuk diserahkan- karena kami baru saja pulang dari mengabdi di tanah seberang. Saya menerka nerka, palingan teman teman saya akan memberikan saya sebuah rok karena mereka pernah suatu ketika menantang saya memakai rok. *mereka sih nggak tahu, saya pun bahkan juga punya gaun.-.-.

Ketika saya buka di rumah, saya tercengang. Sehelai sifon abu abu cantik dengan dua bros *cieeee lupa ngilangin label harganya- diberikan beserta selembar surat pendek. Tidak ada paksaan, hanya sebuah doa yang berisi semoga saya segera memakai kado ini. Saya tersenyum melipat kembali surat tersebut. Sungguh perhatian mereka luar biasa.

Di lain hari, sebuah surat teruntuk saya, diberikan oleh salah seorang sahabat yang baru saya kenal sebentar. Surat yang berisi harapan agar saya segera menjalani syariat. Saya tersenyum, menutupnya dan kemudian meyimpannya. Lagi.

Saya bersembahyang isya di sebuah masjid. Ada anak laki laki berusia 10 tahun yang menyapa saya. Dia tiba tiba berkata “kenapa tidak pakai ini – sambil menunjuk penutup kepala”. Saya terenyuh. Anak kecil itu begitu manis. Mungkin ia dikirim oleh Tuhan untuk mengingatkan saya bahwa perempuan adalah mahluk yang luar biasa maka ia harus dilindungi. Sekedar sehelai kain yang biasa tapi maknanya sungguh luar biasa. Saya tidak tahu siapa nama anak itu, tapi dia kemudian membuat jantung saya berdetak lebih keras karena perdebatan yang semakin panas di dalam pikiran. Dia mengingatkan saya bahwa saya adalah perempuan.

Kini, keputusan akhir sudah saya ambil. Bukan karena paksaan atau keinginan dari siapapun, entah itu keluarga maupun sahabat. Ini adalah ingin dari dalam diri. Saya sudah berproses sangat lama, bertahun tahun. Puncak dari proses ini adalah enam bulan, dimulai sejak bulan Mei. Hampir setiap waktu saya memikirkan bahwa inilah saatnya, namun di masa labil, saya merasa saya masih harus menahan diri. Naik turun emosi membuat saya baru bulan November mengambil keputusan penuh. Saya siap untuk itu, karena ini adalah tentang saya dan Tuhan. Mungkin saya memang berdosa di tahun tahun saya belum memakai. Tapi saya tidak peduli, bukankah Tuhanlah yang paling tahu tentang diri kita? dia pasti paham bahwa setiap hal adalah berproses. Gejolak apapun di hati adalah proses yang harus dilalui. Bukankah maaf Tuhan sangat lapang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s