Wediombo

Pagi pagi kami sudah bangun Pukul 5.30 menjadi acuan poin bagi kami orang orang utara yang akan menuju ke selatan. Tempat selanjutnya tentu saja Pom Bensin Semanu. Disana sudah ada Husein Endah, Ratna dan Dani.

Pukul 7 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Wediombo sebuah pantai yang terletak jauh di ujung tenggara Gunung Kidul. Dua jam lebih perjalanan kami habiskan untuk menempuh sebuah pantai yang terletak di ujung tersebut.

Selamat datang di Wedi Ombo

Selamat datang di Wedi Ombo

Saya berteriak kegirangan melihat pantai dari jauh. Tidak lama kemudian kami sampai ke pantai. pantai dengan jalan yang parah, tapi cukup indah. Untuk bisa sampai ke pantai, kami tetap harus menuruni jalan ke bawah sepanjang 100 m. Sayang, langit mendung menggelayut sepanjang hari. Meskipun begitu kami berenang sepenuh hati.

Pantai Wedi Ombo adalah pantai yang cukup luas dengan beberapa bagian pantai yang sedikit berkarang. Ada sih pantai yang berpasir bersih dari karang, dan area itu terletak di bagian timur pantai, cukup jauh. Banyak sekali sampah kayu kayu di tepi pantai, karena sedang musim hujan. Beberapa nelayan juga menambatkan perahunya di pinggir pantai. cuaca yang sedang buruk membuat mereka enggan melaut.

Kami menghentikan acara berenang indah kami karena hujan turun dengan deras. Sambil berteduh di bawah gubug pedagang yang sudah tidak digunakan, kami menunggu reda hujan. Saya sendiri tidak peduli dengan hujan. Hujan tidak menjadi soal, berenang di pinggir pantai tetaplah hal yang menyenangkan. Tapi saya tetap mencari bagian yang aman. Saya tidak ingin mati konyol terseret ombak sampai ke lautan lepas Hindia.

IMG_4968

Kami baru beranjak setelah kami memutuskan untuk keluar dari area Wediombo untuk mencari masjid di perkampungan. Kami singgah disana selama beberapa waktu. Yang unik dari masjid ini, terdapat plang yang bertuliskan huruf arab jawi yang artinya nama masjid daerah ini, nama wilayah dan sedikit keterangan dari masjid ini.

Arab Jawi pada sebuah masjid di daerah Jepitu

Arab Jawi pada sebuah masjid di daerah Jepitu

Kami turun mencari makanan setelah hujan mereda. Di salah satu tikungan, ada warung mi ayam dan kami memlilihnya sebagai tempat makan sekaligus  checkpoint istirahat. Dengan harga 7000, mi ayam ceker dengan kuah sempurna mengusir lapar di perut.

Kami pulang, melewati Bukit Bintang. Seperti biasa cahayanya selalu memukau. Saatnya pulang, magriban, isyaan dan selamat tepar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s