Secangkir Cinta di Gorontalo #8 : Sapi Bali

Pernah lihat sapi berkaos kaki dan berpantat putih? Pertama kalinya saya lihat sapi jenis itu hanya ketika saya mengunjungi Gorontalo. Dengar dengar sih sapi ini jenis unggulan dimana dagingnya hampir menyerupai wagyu. Sapi Bali berasal dari Bali dan ada rumor bahwa disana sapi tidak bisa keluar pulau kecuali dengan ijin khusus. Weewww.. spesial.

IMG_20140725_092409

Menggembala ternak di kaki bukit.. laaa.. laa.. laa..la la la laaa..

Lahan Gorontalo yang masih subur dipilih untuk membudidayakan ternak ini. Termasuk hingga ke pedalaman, kami bisa menemui sapi ini hidup makmur di Desa Sukamakmur. Sama seperti kambing yang pernah saya temui di Tapa, ternak di sini rata rata kayak peliharaan rumahan. Seenak jidat nyeberang jalan nggak jelas. Haha. Saya sampai nggak bisa mbedain mana kucing mana ternak. Haha.

Salah satu agenda yang kami lakukan tentu saja melakukan penyuntikan sapi. Mbak Aidah menjadi PJ utama program ini. Saya yang bukan dari kedokteran hewan juga asik aja ngikut kemana mana Mbak Aidah nyuntikin vaksin ke anjing, kucing dan ternak. Kami berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, mencari mangsa mangsa yang harus divaksin. Kami berkelana dari satu ladang ke ladang lain, dari satu dusun ke dusun sebelahnya, dari satu ujung hutan ke ujung lainnya untuk menemukan sapi mana yang bisa disuntik. Tidak semua pemilik akan mencencang sapinya di rumah. Ada yang di lepas di ladang kemudian si pemilik akan datang di sore harinya untuk membawa si sapi pulang ke rumah.

IMG_2108

Anak sapi harus disuntik biar sehat

Hal yang sangat disayangkan adalah dokter hewan nggak biasa naik. Dokter hewan lebih sering mengunjungi tempat tempat yang mudah untuk dikunjungi saja (desa yang masih dekat dengan kota tentunya). Ini yang miris. Duh.. semoga ada salah satu anak desa yang bisa menjadi dokter hewan kemudian suatu saat nanti bisa jadi dokter di desa mereka sendiri.

IMG_20140725_094803

Hey Anti, semoga kamu penerus dokter hewan disini

Tidak hanya kambing atau sapi, kucing dan anjing juga menjadi sasaran vaksin Bu Dokter Aidah. Hampir setiap rumah memilki anjing dan kucing. Tapi mereka tidaklah galak seperti yang saya pikirkan setiap harinya. Tau cara mengusir anjing? Jika di Jawa kita nggusah (mengusir) dengan menggertak mereka ‘hushh husshhh’ sedangkan di Sukamakmur kita akan mengatakan ‘ce’e.. ce’e’. Ada cerita lucu tentang kata gertakan ini. Iki, anak kepala adat desa yang nakal diteriaki ce’e oleh Mas Yan. Dia dengan tersinggungnya menjawab “saya bukan anjing”. Lalu kami semua tertegun sebentar untuk mencerna adegan itu dan kemudian mau tidak mau tertawa. Sumpah ekspresi dari Iki sungguh sungguh tidak suka jika diteriaki anjing. Saya sendiri lalu berpikir bahwa teman teman saya dan adik saya mungkin akan seenaknya sendiri untuk meneriaki teman temannya ‘kamu anjing’. Tapi anak sekecil Iki sudah merasa tersinggung untuk dikatakan ce’e. Ya.. ya.. tentu saja. Kita manusia, bukan seekor anjing. Pelajarannya: hati hati menjaga lidah agar orang yang mendengarkan kita tidak tersinggung.

IMG_2104

Chicko, Putih, ah entah siapa namamu. Saatnya vaksin

Selama penyuntikan, saya belajar bagaimana memperlakukan hewan dari kakak saya ini. Mbak Aidah bilang bahwa hewan juga punya perasaan. Maka, ia selalu berusaha mendekati (menenangkan) si hewan secara psikologis. Sebelum ia bisa menyuntikkan vaksin, ia akan mengelus elus si sapi dan kemudian memukul mukul pantat si sapi agar ia terbiasa dengan rasa sakit. Kemudian baru ia menyuntikkan vaksin melalui jarum. Respon pemilik hewan? Mereka justru sangat terbuka dan menerima vaksin gratis ini. Mereka rupanya sadar bahwa hewan mereka memerlukan vaksin. Sapi sapi itulah harta mereka dan tentunya menjaga mereka tetap hidup akan menjaga hidup anak anak mereka.

Apakah mereka melakukan penyembelihan sapi?. Menurut wawancara dengan beberapa warga, mereka tidak menyembelih sapi mereka. Harga sapi yang mahal membuat mereka lebih baik menyembelih ayam dibandingkan dengan mengorbankan sapi mereka sendiri. Mungkin hanya orang orang yang kaya saja yang akan menyembelih sapinya.

Well.. sungguh desa di pinggir hutan ini seharusnya bisa dijadikan percontohan untuk ternak Sapi Bali. Semoga benar benar bisa terwujud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s