Secangkir Cinta di Gorontalo: Saya, Kita dan Dapur

Pekerjaan utama bersama teman teman selain mengerjakan program adalah mengolah bahan mentah yang telah kami beli di Tapa. Kami semua suka memasak. tidak terkecuali. Laki laki pun juga tidak segan segan turun ke dapur untuk membuat adonan masakan.

Pagi pagi kami sudah bangun, sembahyang berjamaah dan yang perempuan menyiapkan masakan untuk sarapan. Kami memasak sarapan sebelum beraktifitas pagi. Pulang dari beraktifitas, sudah tersedia makanan lengkap yang siap ditata di ruang keluarga. Satu hal yang pasti: saat keluarga adalah ketika kami makan bersama. Duduk melingkar dan menghabiskan makanan di depan mata.

Jangan tanyakan soal piket memasak. Siapa peduli? Siapapun tidak akan berkeberatan untuk menyiapkan makanan. Beberapa orang yang tadinya tidak suka berurusan dengan dapur, mendadak jadi suka memasak. Kami pun sebenarnya tidak tahu bagaimana memasak itu sebenarnya. Tapi karena kekuatan kreatifitas, kami menyulap bahan yang tertata di dapur menjadi masakan layak saji untuk keluarga. Tidak ada vitsin, tidak ada pengawet, dimasak segar, semua makanan 100 % sehat. Lebih sering, masakan yang jadi adalah hasil dari imajinasi. Asal masukin bumbu, tapi semuanya jadi. Bolehlah orang bilang kami tidak bisa masak tapi nyatanya kami memang perempuan.

Hal yang paling melegakan adalah semua makanan habis tak bersisa.  Memasak adalah proses. Proses yagn membutuhkan banyak pengorbanan. Lelahnya mengolah bahan seolah hilang ketika orang yang mencicipi mengapresiasi kerja keras tersebut.

IMG_6124

Mengantarkan si ayam hadiah dari Pirman ke surga (photo by Yayan Bastian)

IMG_1899

Meski laki laki, jangan ragukan kami

Bahkan sampai program berakhir, kami masih sering makan bersama. Membeli bahan mentah di pasar dan mengolahnya menjadi masakan untuk semua. Lewat pesan, kami saling memanggil. Mungkin jika proyek ini diteruskan, kami bisa membuat sebuah catering lengkap dengan struktur keanggotaan.

Ngomong ngomong soal makanan khas daerah Gorontalo, saya akan bilang : cukup enak. Lidah saya bisa menyesuaikan dengan cita rasa setempat. Saya terbiasa dengan rempah yang kuat. Awalnya saya pikir mereka akan masak dengan bumbu penuh alias banyak menggunakan rempah rempah. Memang. Tapi tidak semua. Satu dua masakan saja menurut saya.

Pertama kali saya makan makanan Gorontalo adalah di rumah Bapak Camat di Tilongkabila ketika berbuka puasa. Waktu itu masakan yang dibuat untuk kami adalah rica rica ayam dengan cabai luar biasa banyak (mungkin cabai yang digunakan sebanyak secangkir), sayur bayam muda dengan rasa gurih dan kue lumpur serta kue agar agar nangka.

Kemudian waktu saya sampai di Desa Suka Makmur, saat itu kami diajak ke sebuah acara adat yaitu Monga Rua yang dilaksanakan di rumah Ka Ati, kadus II. Makanan untuk Monga Rua terdiri dari delapan macam olahan ayam dan ikan, kue sagu, kue telur dan berbagai macam lainnya. satu satunya sayur yang berempah kuat hanyalah kuah bugis. Jika di rasakan dengan benar, masakan tersebut tidak menggunakan banyak rempah. Hanya rempah tertentu dengan perbandingan yang tidak besar.

Di kesempatan lainnya, Ibunda dan Ayahanda di desa kami mengirimi kami nasi milu dengan lauk ikan ikanan. Dari sekian makanan yang sudah saya rasakan, saya bisa menyimpulkan satu hal : makanan Sulawesi identik dengan penggunaan bumbu non cabai yang tidak terlalu kentara. Cabai menjadi rasa dominan untuk bumbunya. Sedangkan bumbu lain tidak terlalu signifikan.

Menurut pendapat saya, makanan daerah tersebut sungguh enak. Hanya saja, pada beberapa orang, saya merasa kurang sreg karena penggunaan vitsin yang begitu luar biasa banyak. Kadang kami menemui masakaan yang terlihat enak tapi setelah dirasakan, rasa gurih vitsin menyengat di pangkal lidah. Teknis masakan sudah cukup menghasilkan rasa enak, tapi sayang karena vitsin yang dibubuhkan malah merusak cita rasa. Udah vitsinan, banyak lagi. Sial.

Penggunaan vitsin dalam kehidupan sehari hari tidak bisa dihindari karena ada beberapa bahan yang memang dimasuki vitsin, contohnya : tepung bumbu dan kecap. Tapi, tetaplah saya tidak terlalu suka vitsin, apalagi jika terlalu over. Rasanya begitu melekat di tenggorokan. Keluarga saya adalah salah satu yang benar benar mengurangi penggunaan vitsin dalam memasak. Sebagai gantinya kami lebih suka menambahkan bumbu lebih kuat dalam masakan. Suatu ketika ayah saya pernah bilang : belumlah bisa dikatakan bisa memasak jika kamu tidak bisa bikin masakan yang layak dari bumbu bumbu alami. Kalau rasa masakan enak tapi dikarenakan penggunaan vitsin, maka kamu belum layak. Saya setuju.

IMG_20140714_130645

Membelah ikan siang siang (photo by: Sukamakmur)

Kembali ke dapur, saya dan teman teman memutuskan untuk hidup lebih sehat. Sebungkus besar vitsin yang diberikan oleh Ibunda desa teronggok begitu saja di atas meja. Bahkan ada beberapa bumbu kalengan yang dibawa oleh salah seorang teman tidak digunakan. Tidak enak. Kami lebih suka yang alami. Pada akhirnya saya hanya bisa bilang bahwa kadang untuk menilai sebuah masakan cocok di lidah kita, bukan hanya perkara budaya saja. Tapi perkara sejauh mana kita bisa menilai bahwa makanan itu sehat.

Siapa sangka dari keterbatasan di tanah rantau, jauh dari orang tua malah membuat kami bermain kreativitas. Ingat dengan slogan ‘We are, what we eat’. Kita adalah apa yang kita makan. Kenangan di dapur selama kurang lebih hampir dua bulan benar benar akan melekat dalam ingatan. Disinilah saya benar benar bebas mengksplorasi skill saya di dapur. Tiga tahun di rantau, di kosan, tapi karena ketiadaan dapur membuat saya hampir tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya memasak dengan tangan saya sendiri. Dan diberikan kesempatan selama dua bulan untuk tahu bahwa ternyata saya pun punya bakat, rasanya sungguh luar biasa. Saya belum bisa memasak dengan benar. Tetaplah tidak tahu apa apa soal dapur. Tapi, pengalaman kemarin membuktikan bahwa dengan belajar, kita bisa. Resep resep yang kami masak sudah membuktikan bahwa saya sudah layak menjadi perempuan. Saya bisa memasak. Setidaknya sedikit bisa. hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s