Wekas Kedua

Matahari masih belum terbenam ketika teman teman merencanakan pendakian tanggal 19 September. Kami, terutama Santika ingin sekali naik gunung. Entah dimanapun itu. setelah berbagai pertimbangan, didapatlah Merbabu sebagai tujuan pendakian kali ini.

Sampai hari H, saya kebingungan karena tidak sekalipun saya diajak koordinasi soal keberangkatan dan teknis ketika di atas. Sayangnya dalam pendakian ini tidak semuanya bisa ikut. Semua orang bisa naik, kecuali Mas Yayan. Ia tidak mau naik dengan alasan sudah tidak memiliki passion lagi. Fine.

Tim ini adalah tim yang sudah cukup berpengalaman. Kesemua orang minimal pernah naik walaupun hanya sekali, kecuali Santika dan Mbak Tari. Ternyata Mbak Tari belum pernah naik, tapi karena latar belakangnya adalah kehutanan, maka masuk keluar hutan sudah bukan hal aneh untuknya. Medan hutan, bukit dan gunung bukan hal yang baru. Niam mengajak tiga temannya, Hafie, Galih dan Rian. Mereka juga sudah bisa dibilang ekspert.

Dengan  sponsor penuh, kami naik. Seperti biasa, barang barang saya adalah barang barang paling imut karena paling sedikit. *tapi habis itu carrier saya jadi penuh banget habis ditata ulang.

Oleh karena orang orang ini adalah orang orang yang mengutamakan makanan sehat, kami tidak membawa sama sekali mi ke atas. *sialnya saya jadi kepengen makan mie waktu sampai di Pos II. Ngeliat tetangga pada bikin mi rebus di tengah angin malam yang dingin di bawah cahaya bintang, jadi ngiler sendiri.

Habis ketemu sama Bu Peni, Pak Eddy dan teman teman dari Bone Bolango, kami bersiap untuk ke kontrakan Mbak Tari. Tadinya kami jam 14.00 mau chao dari rumah makan tersebut tapi tidak jadi karena rupanya ada yang harus dibicarakan antara Mbak Tari, Mbak Mira, Pak Eddy dan Bu Penny. Pukul 15.30 kami baru berkumpul.

Satu jam kemudian kami berangkat. Saya bersama Rosi ada di barisan akhir, sebelum sweeper. Ketika sampai di daerah Magelang Atas, kami tidak melihat adanya gapura menuju Wekas. Sampai di daerah Ngablak, kami merasa curiga karena jalan yang ditempuh terlalu jauh. Setelah bertanya kesana kemari, kami akhirnya menemukan gapura yang dimaksud. Warga mengatakan plengkung padahal gapura tersebut bukan berbentuk lengkungan melainkan segi empat. Tiga kilometer kami berbalik arah. Kemudian menemukan jalan yang benar. Wooooo … pie je..

Jalanan ke Wekas cukup menanjak. Saya dan Rosi sudah sampai di gerbang hutan sebelum desa terakhir basecamp Wekas. Tiba tiba karena bobot yang dirasa terlalu membebani motor, Rosi oleng ke kanan. Untung saja hal tersebut berlangsung slow motion. Kami berdua terjatuh. Tapi syukur alhamdulilah sangat pelan dan kami tidak cidera. Hanya kaget saja. turunannya malah lebih sial lagi. Saya miring ke kanan dan hampir jatuh juga. Rosi harus menahan lebih berat lagi karena bobot saya dan carrier yang saya bawa memang berat.

Kami berbalik arah, sekitar satu kilometer menuju mushola kecil di tepi jalan desa Wekas. Setelah menunggu teman teman yang ternyata juga masih tertinggal di belakang, kami melanjutkan perjalanan. Oleh karena sempat terputus komunikasi dan jarak, teman teman menunggui kami di pasar. Mereka tidak melihat kami yang sudah duluan bahkan sampai nyasar. Lampu kendaraan dan riuhnya mobil motor yang melintas membuat kami tidak bisa saling mengontrol satu sama lain. Saya yang biasa untuk tengok belakang, tidak bisa berbuat apa apa karena carrier di pundak terlalu tinggi. Terlalu berbahaya jika saya sampai menengok ke belakang. Jika salah derajat, motor bisa oleng. Kami berdua bisa terlempar.

Molor dua jam dari jadwal seharusnya, kami baru sampai di basecamp pada pukul 20.00. Setelah parkir dan memesan makanan serta menjamak solat, kami bersiap untuk naik. Ah, jalanan yang sama lagi. Saya sempat bertanya tanya apakah saya sanggup untuk naik. Kemudian setelah mematut matut hati untuk lebih berani, saya membalut luka dan memasang kaos kaki. Kali ini saya hanya memakai sandal gunung. Tidak ada sepatu gunung karena tidak ada sponsor.

Pukul 21.30, kami berdoa dan memulai perjalanan. Saya berada di belakang bersama Rian, Niam, Galih, Mbak Mira dan Mbak Tari. Santika yang begitu bersemangat berjalan lebih dahulu dan lebih cepat. Saya sendiri ingin perjalanan ini santai saja. Seperti biasa, satu jam pertama, saya mengalami adaptasi yang cukup membuat tubuh kaget. Nafas tersengal sengal, pusing dan saya mual. Ingin muntah tapi tertahan di lambung. Niam menuntun saya untuk mengatur napas. Tapi rasanya tambah mual. Huft.

Di paruh perjalanan pertama, tinggalah kami berlima, saya, Mbak Mira, Mbak Tari, Helmi dan Quthub. Helmi harusnya adalah leader tapi akhirnya ia ikut barisan yang belakang. Niam, Galih dan Rian sudah duluan. Mungkin mereka juga merasa bosan karena langkah kami terlalu santai. Hehe. Maap kakaak.

Perjalanan sempat terhenti karena Mbak Tari harus memenuhi panggilan alam. Setelah itu langkah kami yang pelan, lima langkah sekali terhenti karena capai. Kami sempat melihat ke belakang, melihat kumpulan lampu dari sorot kendaraan dan lampu rumah kota Magelang, Jogja, Temanggung hingga kota kota sekitarnya. Sungguh indah. Bahkan saking selonya, sampai menghabiskan satu lagu baru beranjak dari jalan kami. “sik sik, tunggu sak lagu dulu”. Haha. Payah. Dengan alasan alias faktor ‘U’  alias ‘sudah tua’, kami berjalan pelan pelan. Quthub dan Helmi sebenarnya sudah tidak sabar atas kelakuan kami. Hehe. Maap yak.

Pukul 00.30, kami sampai di Pos I. Angin berhembus dingin. Cahaya bulan dan cerahnya langit berbintang menyinari puluhan tenda warna warni yang tegak di bawahnya. Laki laki dengan cekatan mendirikan tenda. Saya pun juga membantu.

Sementara teman teman memasak air, saya hampir tertidur. Dingin yang menusuk tulang membuat saya malas untuk keluar lagi.  Pukul 02.30, teman teman bangun dan bersiap untuk summit attack. Saya memutuskan untuk tidak ikut. Mbak Tari mimisan dan dia tidak ingin melanjutkan perjalanan. Sebenarnya tidak apa apa mimisan tetap naik, tapi kondisinya memang sedang tidak baik. Lebih baik jika istirahat menunggu mereka saja. Saya sama sekali tidak menyesal tidak ikut ke puncak. Saya toh sudah pernah mendaki lewat jalur ini, setahun yang lalu. Puncak bukanlah tujuan utama saya.

Saya dan Mbak Tari tertidur dalam gigilan pagi. Masih sayup sayup tertidur ketika tiba tiba suara Rosi muncul di tenda kami. Rupanya dia sudah bangun. Dia mengajak kami untuk sembahyang subuh dan tiba tiba dia bilang ‘saya mau menyusul ke atas’. Heddeh. Sekarang banget nih?. Rupanya dia tadinya tidur dan ketika teman teman mengajak untuk naik, ia secara tidak sadar menampik ajakan mereka. Usai solat subuh, dia bersiap siap. Oleh karena baru pertama kali melewati jalur ini, ia ikut dengan kelompok tenda lain yang juga ingin naik ke atas. Tinggalah saya dan Mbak Tari seorang diri di Pos II.

Seperempat jam sesudah Rosi naik, datanglah Helmi. saya yang sedang menikmati pemandangan Pos II kaget dibuatnya. Ternyata ia baru naik satu bukit tapi mundur lagi karena tidak membawa logistik terutama air. Heddeh.. ini juga songong. Udah tau mau naik tapi nggak bawa air. Akhirnya ia memutuskan untuk turun dan menunggu di tenda saja.

Sesi menunggu anak anak yang naik ke puncak sungguh membosankan. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berjalan tidak tentu arah. Seperti orang bodoh. Sesekali saya mengobrol dengan Mbak Tari serta Helmi. Sisanya saya menghabiskan waktu di pinggir jurang menikmati keindahan alam Pos II. Ada air terjun kecil yang mengalir di jurang di bawah saya. Aliran air tersebut mungkin menjadi salah satu sumber air utama bagi penduduk desa di bawahnya. Pipa pralon dipasang untuk mengalirkan air hingga bukit bukit selanjutnya. Saya terbayang segarnya air asli pegunungan. Hamparan kota di ujung sana semakin menambah damainya suasana pagi saya. Hanya saja sayang tidak ada sama sekali kamera yang tertinggal padahal pemandangannya kece setengah mati. Nggak kalah sama yang di puncak.

Pukul 10.00 kami memasak. teman teman membawa lontong dan sayuran. Sialnya kami lupa membawa garam. Akhirnya kami meminta garam pada pendaki lain yang memasak di tendanya. Sialnya lagi garam tersebut adalah garam gurih alias garam micin yang rasanya menurut saya sungguh tidak enak. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah bilang bahwa garam micin adalah solusi pas untuk memasak. Iyuh, rasanya sungguh memuakkan. Kami meminta kepada tenda lainnya. Sialnya masih garam yang sama. Damn. Akhirnya dengan sangat terpaksa saya menuangkan garam tersebut kedalam masakan. Hoekkk. Maaf teman teman.

Pukul 10.30, mereka sampai ke Pos II. Dengan muka lelah, mereka menjatuhkan diri ke dalam tenda. Setelah beristirahat sebentar, kami makan bersama. Potongan lontong dengan sayur jamur wortel dan kering kentang siap untuk dinikmati.

Nasi Jamur Sehat

Nasi Jamur Sehat

Setelah packing, solat dhuhur berjamaah, kami turun pukul 14.00. Setelah berfoto bersama, saya mengecek ponsel yang tidak ada di kantong manapun. Saya memang teledor. Semua orang di pendakian ini melihat saya dengan wajah bingung. Saya yang tidak ingin memperpanjang waktu pencarian memutuskan untuk tetap turun. Kalau ponsel saya masih rejeki saya, semoga cepat ketemu tapi kalau tidak semoga bisa bermanfaat bagi yang menemukan.

Saya menunggu nunggu moment ketika pulang. track Wekas adalah salah satu track yang bisa dijalani dengan berlari. Turun lebih cepat dengan berlari. Banyak pohon yang bisa dipeluk ketika kita berlari. Tracknya memang turun tapi lari adalah salah satu cara paling menyenangkan di Wekas. Saya memeluk pohon pohon yang bisa saya temui di sepanjang jalan saya berlari. Bahkan di beberapa tempat saya bisa perosotan layaknya anak anak. Sampai salah seorang pendaki dari tenda lain yang juga turun sore itu bilang ‘malah main perosotan’. Dan saya hanya tertawa ceria yang artinya : Biarin. Suka suka saya weeek.

Pukul 17.00, saya, Mbak Mira, Niam, Rian, Galih, Hafie, Helmi, Mbak Ida sampai di basecamp duluan, meninggalkan Santika, Rosi, Quthub, Mbak Tari yang masih sibuk selfie di jalan. Setelah memesan makanan, kami pulang pada pukul 18.00.

Perjalanan dua jam menuju kota Jogja, lumayan menakutkan. Dalam lelah kami memutuskan untuk tetap lanjut pulang. Pukul 20.30 kami sampai ke kontrakan Mbak Tari. Setelah beristirahat sebentar, saya diantar pulang oleh Rosi.

Pendakian kali ini benar benar menyenangkan. Saya tidak menginginkan puncak sebagai tujuan utama pendakian. Saya mau kebersamaan. Tim yang sudah berpengalaman, membuat kami merasa terlindungi. Makanan sehat, orang orang cekatan. Beberapa orang yang baru kami kenal ternyata seru. Sempurna.

Apa yang saya pelajari kali ini adalah tentang rela berkorban. Beberapa anak merelakan beban yang lebih berat dibandingkan dengan lainnya dan tidak ada keluh kesah yang menyudutkan hati. Semua orang rela berbagi padahal sama sama dihajar letih.

O, ya menjaga kesehatan. Dari awal anak anak tidak mau membawa mi dalam pendakian. Mereka bilang tidak sehat. Akhirnya didapatlah opsi bahwa kita akan membawa lontong, sayuran dan kering tempe ke atas. Kalau dipikir pikir, mie itu emang enak. Tapi energi yang dikeluarkan tidak serta merta tahan lama. Cieee… pendakian sehat.

Mungkin kami akan naik lagi. Nanti, suatu saat nanti. Suka Makmur, Love You.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s