Selo Bercerita

Sudah sejak lama kami terpikirkan untuk naik gunung bersama. Dimulai dari persiapan, kami melakukan jogging hampir setiap sore di GSP. Ratna yang rumahnya jauh merelakan waktunya untuk sekedar jogging, pemansan sebelum menghadapi track yang sebenarnya : gunung. Tidak semua anak datang untuk melakukan joging bersama. Beberapa dari kami masih ada urusan yang harus diselesaikan maka tidak bisa hadir.

Masalah yang muncul adalah soal penempatan waktu. Awalnya kami kebingungan untuk menentukan kapan kami bisa bersama sama mendaki. Tadinya mau tanggal 22 September, tapi tanggal tersebut sangat mepet karena saya yang mendaki pada tanggal 19 September, terlalu marathon. Fisik saya belum sembuh. Kemudian mereka berbaik hati mengikuti jadwal saya yaitu pada tanggal 19 September. Akan tetapi hal itu batal karena teman teman lebih memberatkan untuk latihan gamelan utnuk p

enampilan kolaborasi dengan National University of Singapore tanggal 25 September. Opsi terakhir jatuh pada tanggal 27 September akan tetapi sepupu Liana menikah. Jadilah kami kebingungan menentukan hari yang tepat. Pada akhirnya setelah perdebatan alot menentukan waktu, dipilihlah tanggal 27 September sebagai hari kami mendaki.

Masalah kedua adalah anak anak yang ikut. Kami sudah merencanakan akan ikut semua. Tapi pada akhirnya tidak semua bisa ikut mendaki. Liana memang terlihat kurang bersemangat sedari awal, lagipula tanggal 27, ia harus datang ke pernikahan sepupunya. Priyo, dia tidak mendapatkan ijin dari orang tuanya. Harusnya ia bisa naik, jika ia sedari awal bisa terbuka pada mereka. Fitri, tidak naik karena ijin orang tua. Lebih tepatnya ia tidak disarankan naik, bahkan oleh saya sendiri. Saya melarang dia naik karena masalah fisik, psikis dan izin dari orang tua. Jika tetap dipaksakan naik, jangankan sampai pos I, baru naik awal saja mungkin ia akan drop. Dan ini berbahaya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk tim. Dwi tidak ikut karena ia memang tidak mau naik. Dengan tim tersisa, kami naik. Tadinya temannya Sugeng (teman apa teman ni?) mau ikut tapi pada akhirnya ia tidak jadi karena sedang dalam periodenya, ia tidak mau repot ketika mendaki nantinya. Akhirnya dua teman Ratna, perempuan ikut. Sejujurnya saya cukup kecewa dengan komposisi pendakian ini. seharusnya laki laki bisa lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Tau begini, saya mengajak beberapa teman laki laki lain. Akan tetapi sudah terlalu mepet, saya tidak jadi mengajak. 50 : 50 sudah cukup imbang lah. Saya hanya bisa berharap semoga semuanya baik baik saja.

Barang barang kebutuhan untuk naik, disupport oleh banyak orang. rasa syukur tidak hentinya saya ucapkan untukNya karena banyak kemudahan yang bisa kami dapatkan. Mulai dari Sleeping bag, matras, carrier, headlamp. Semua barang penting yang wajib dibawa untuk pendakian. Teman teman saya sungguh baik hati mau meminjamkan barang barangnya. Terutama untuk teman teman Suka Makmur, I love you so much sudah mau direpoti dengan urusan urusan saya. Maaf banget dan terimakasih yang sedalam dalamnya untuk kalian.

Dua malam sebelum pendakian, kami menyempatkan diri untuk mengurus semua barang karena jika dilakukan H-1 akan sangat repot karena beberapa dari kami ada performing arts. Teman teman saya bahkan masih sempat untuk melihat pertunjukan kami. Teman teman Suka Makmur juga menyempatkan diri untuk menonton. Mereka tidak mengerti apa yang disampaikan dalam cerita tersebut, tapi mereka mau merelakan jauh jauh datang dalam kondisi mengantuk dan sebenarnya memiliki urusan lain, tapi mereka mengorbankan waktunya datang untuk saya. Hanya untuk saya, iya saya. Sungguh saya bahagia tidak terkira.

Semalam sebelum melakukan pendakian, kami masih berempong rempong ria mencari barang barang tersebut. Semua barang transit di kos Nur. Kami bersiap siap untuk packing sesudah jumatan. Semua barang barang masuk ke dalam carrier. Sesudah ashar, pukul 15.00, kami memulai perjalanan.

Butuh waktu dua jam untuk bisa sampai ke basecamp Selo. Di jalan Magelang kami sempat berhenti karena carrier dalam Consina 80 terlalu berat. Jadilah kami berganti ransel. Sempat terjadi miskom ketika di jalan. Saya mendengar Endah berteriak matras dan mereka mendahului kami. Saya yang mengira matrasnya jatuh meminta Rizal untuk berhenti. Dani meyusuri jalan untuk mencari matras tersebut. sayangnya tidak ketemu.

Saya berkomunikasi dengan beberapa anak. Mereka mengatakan menunggu kami di jalan Y kemudian belok kanan. Padahal sekitar satu kilometer di depan kami ada jalan Y dan kami yang sudah benar mengambil jalur kiri harus berbalik menuju jalan di kanan. Sesudah berjalan kurang lebih lima kilometer, kami berhenti di sebuah masjid. Saya cukup kecewa karena mereka tidak ada di jalan Y tersebut. kami kembali ke track yang benar setelah Dani menelepon Husein. Akhirnya kami sampai di jalan Y yang dimaksud. Ternyata gerbang Ketep. Miskomunikasi ini mengakibatkan perjalanan harus tertunda. Ya, ini juga gara gara saya. Kemudian sampai di tempat teman teman menunggu, saya berhenti sebentar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp.

Jalan menuju Ketep cukup berkelok kelok dengan pemandangan cantik di kanan kiri jalan. Jalannya sebenarnya agak menanjak dengan aspal yang cukup mengerikan di sebagian bagian jalan. Saya juga harus maju maju karena carrier yang saya bawa cukup berat. Akhirnya Rizal berhasil membawa saya menuju ke atas. Teman teman lain juga sudah di atas kecuali Nur dan Ratna. Mereka rupanya masih tertahan di bawah. Motor Nur tidak cukup kuat untuk sampai ke atas, jadilah Ratna harus berjalan kaki menuju parkiran basecamp.

Pukul 18.30, kami memasuki basecamp Selo. Kami makan malam dengan sayur tahu dan telur (hampir sama seperti makanan di basecamp Wekas tapi disini versi pedas). Pukul 20.00 kami memulai perjalanan.

Memasuki wilayah Taman Nasional, jalanan tidak terlalu menanjak. Jalannya enak bisa dibilang datar. Baru menuju pos I, jalanan mulai menanjak. Tapi masih terhitung tidak terlalu berbahaya. Tidak semenanjak Wekas. Alfi muntah di perjalanan. Tapi kemudian kami melanjutkan perjalanan. Semuanya masih bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Dalam hati saya hanya menebak bahwa ada sebagian dari kami yang ingin berhenti dan kembali namun karena melihat tidak ada yang mendahului berbicara mereka kemudian merasa harus tetap melanjutkan perjalanan. Cieh… perjalanan pertama nih, pasti gini.

Pos I, pos II semakin menanjak tapi tidak terlalu curam. Kami sempat berhenti beberapa kali untuk sekedar menikmati lautan lampu di bawah sana. Kami naik ke pos III, sebuah tanah agak datar dimana sudah berdiri beberapa tenda milik beberapa kelompok pendaki. Kami berhenti sejenak, mengumpulkan tenaga di tengah angin yang berhembus dingin. Leader tim, Sugeng memotivasi kami untuk sampai ke Sabana II yang berjarak satu bukit di depan kami. Bukit yang akan kami lewati ternyata tidak main main curamnya. Dengan kemiringan diatas 70 derajat, kami harus berhati hati memilih track. Saya cukup khawatir dengan beberapa orang yang membawa beban berat seperti tenda dan barang barang logistik berat lainnya. belum lagi yang nekat memakai rok sampai dalam pendakian ini.

Perlahan demi perlahan kami meniti lereng ini sampai ke atas. Cukup lama, tapi kemudian kami bisa juga sampai ke Sabana I. Perjalanan belumlah usai karena yang kami tuju adalah Sabana II. Sabana II masih harus berjalan beberapa ratus meter ke depan. Masih ada jalan menanjak seratus dua ratus meter lagi, tapi masih lebih baik daripada titian setan yang kami lalui tadi.

Angin sembribit menemani perjalanan kami. Mata mengantuk, badan lelah, kesadaran sudah mulai hilang, tapi kaki harus tetap dilangkahkan. Tenda harus segera ditegakkan. Kami segera membuka tenda dan saling membantu mendirikan kaki kakinya. Endah sudah terkena hipotermia. Dia sudah dalam keadaan setengah sadar. Sleeping bag dibuka dan dikerubutkan ke badannya.

Pukul 3.30, semuanya sudah tidak kuat untuk menahan dingin. semua masuk ke dalam tenda dan bergelung dalam sleeping bag masing masing. Saya pun memaksakan diri untuk memejamkan mata dan menidurkan diri. Dingin membuat saya gemelutuk sepanjang waktu tapi pada akhirnya bisa tertidur juga hingga pagi menjelang. Sayang sekali karena lelah, kami tidak bisa bangun tepat pada waktunya. Kami kehilangan momen sunrise yang seharusnya bisa kami dapatkan.

Kami bangun, masih dalam keadaan memeluk diri. Angin tak hentinya berhembus. Dingin, mematikan. Sebagian bersembahyang dan lainnya menyiapkan bahan untuk dimasak. Saya memeluk sleeping bag dan melilitkan di tubuh. Tak berapa lama, saya memaksakan langkah di tengah angin beku menuju ujung bukit di belakang saya saya ingin melihat matahari, Iya, matahari.

Kokoh Merapi Dalam Sunyi Pagi

Kokoh Merapi Dalam Sunyi Pagi

Tak berhenti kagum saya pada kokohnya Merapi yang ditempa sinar matahari. Bendera merah putih yang diikatkan pendaki di sebuah pohon di ujung bukit semakin membuat suasana haru. Alam Indonesia begitu indah. Iya, ini Indonesia. gunung, hutan, bukit bukit, kumpulan rumah penduduk di bawah sana, angin yang sejuk setiap waktu, udara yang bersih, hanya milik Indonesia. Sungguh Tuhan luar biasa. Sepuluh menit berdiri disana, saya kembali ke tenda. Dingin angin membuat energi saya habis.

Kami melanjutkan aktivitas dengan makan pagi dengan mi rebus, energen dan susu. Kemudian beberapa yang berjalan jalan dan menyiapkan logistik untuk dibawa ke atas. Pukul 8 pagi, kami bersiap menuju ke atas. Puncak Triangulasi hanya berjarak satu naikan bukit lagi. Kami melihat dari kejauhan orang orang yang merangkat ke ukit triangulasi. Sungguh menakutkan. Tapi kami sudah tidak bisa menawar lagi. Puncak tinggal sedikit lagi dan itulah yang ingin kami capai.

Satu persatu anak naik ke atas dengan susah payah. Kami masih sempat berhenti hanya untk selfie dan mengambil foto panorama. Saya pun masih sempat untuk mengambil video. Saya merangkak pelan tapi pasti. Tanpa saya sadari, saya sudah hampir sampai ke atas. Sudah ada Sugeng menunggu di sana. Dia masih asik selfie dengan kamera pronya. Saya dan Dani berjalan pelan pelan menuju ke tempatnya. Kemudian kami bersama sama naik ke atas. Anak anak masih di bawah. Mereka pun juga berusaha untuk naik. Karena sudah dekat dengan puncak, kami bertiga memutuskan untukmendahului sampai ke atas.

Nur dan Ratna menyusul sekitar sepuluh menit sesudah kami sampai. Kemudian ada Rizal, Mbak Puji dan Alfi. Lalu ada Husein dan Endah. Puncak Triangulasi sudah kami jejak. Rasa syukur meluncur dari lidah kami. Rasa capai yang ada, terbasuh dengan teman teman yang semuanya ada sampai hingga ke puncak walaupun dengan susah payah. Tapi inilah manisnya. Usaha kita benar benar butuh pengorbanan untuk mencapai suatu tujuan. Dan semuanya bisa menghadapi rintangan, terutama yang muncul dari dalam diri. Saya tersenyum menatap lautan pemandangan di bawah saya. Saya tersenyum, terharu. Kita semua bisa bersama sama hingga disini.

Manisnya Perjuangan (courtesy : M. Sugeng)

Manisnya Perjuangan
(courtesy : M. Sugeng)

Dengan kondisi kurang persediaan air kami tidak jadi mampir ke puncak Kentengsongo. Kami memutuskan untuk turun setelah Husein dan Endah sampai di puncak selama kurang lebih 10 menit. Untuk turun, track yang ada malah lebih berbahaya. Dengan lereng curam, jika tidak hati hati akan mudah tergelincir dan jatuh ke bawah. Salah salah malah jatuh ke jurang.

Saya, Rizal dan Alfi sempat tertidur di bawah pohon Edelweiss ketika menunggu Husein dan Endah menuruni track. Kami berlima sampai ke tenda paling akhir. Tidak sempat untuk istirahat siang, setelah makan siang kami segera berkemas kemas pulang. Tenda, peralatan dan segalanya termasuk sampah dipacking ke dalam carrier.

Kami melakukan solat jamak dhuhur dan ashar sebelum kami beranjak dari Sabana II. Pukul 14.30, kami mulai bergerak untuk pulang. Perjalanan turun lebih mengerikan daripada ketika kami naik. Track licin, berdebu, turunan tajam menjadi santapan di setiap langkah. Bertemu dengan pendaki lain menjadi hiburan tersendiri karena ternyata ada kawan senasib, setujuan, sepenanggungan yang ikut naik menikmati keindahan yang diciptakanNya.

Hampir di pos III, saya sempat mengambil beberapa butir berry merah yang tumbuh liar di jalan. Rasanya asam segar. Tapi sayang saya tidak sempat mengambil banyak karena diburu waktu. Kami berhenti di pos III. Turun ke pos II, saya bertemu dengan Helmi dan Hafie yang ternyata naik juga di weekend ini. Mereka tidak bercerita sebelumnya kalau mereka mau naik. Beberapa barang yang akan saya kembalikan malah ditolak karena mereka sudah punya backingannya.

Di pos II, beberapa dari kami mengambil berry berry mini berwarna oranye yang tumbuh di sekitar pos tersebut. Rasanya sebenarnya tidak begitu terasa sih. Manis juga tidak, tawar pun juga tidak, asam juga tidak. Entahlah bagaimana mendefinisikan berry tersebut. bentuknya kecil, buah muncul di ranting ranting kecil, bergerombol merata di sepanjang ranting yang kita petik.

Usai beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan karena hari sudah menjelang gelap. Menuju pos I, kami terus berjalan. Terkadang kami harus berhenti sejenak memberikan jalan bagi pendaki lain yang ingin naik ke puncak. Di pos I kami juga berhenti. Kemudian lanjut berjalan karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.15.

Pukul 17.50, tubuh saya limbung. Langkah saya terantuk jalan setapak dan tanpa bisa dikontrol tubuh terjerembab ke samping depan. Lutut saya berbalik dan sendi mengunci. Dalam hitungan detik rasa sakit menjalar hingga kemana mana. Saya berteriak. Beberapa orang mengerumuni saya. Setelah beberapa detik, saya meniti akar akar yang tumbuh di sekitar dan bangun. Daypack yang saya pakai cukup menyelamatkan saya. Tanpa adanya daypack, saya mungkin akan lebih mudah jatuh ke jurang di kiri saya. Jalanan berdebu, licin, miring, jaket parasit yang saya kenakan mungkin akan mempermudah saya jatuh ke jurang. Walaupun sebenarnya jurang tersebut masih dilindungi dengan semak semak. Mungkin saja badan saya bisa tertahan, tapi jika semak dan sulur tumbuhan tersebut tidak bisa menahan bobot tubuh, sama saja. saya akan berakhir di lereng Merbabu di gelap malam. Mengerikan. Kami melanjutkan perjalanan. Saya tidak mau berlama lama dikasihani.

Mas Andi, Dimas, dan salah seorang lainnya yang maaf saya lupa namanya, berbaik hati menjaga langkah saya. Mas andi membawakan tas saya. Saya pun bahkan masih sering jatuh padahal sudah menggunakan tongkat dan berpegangan pada carrier Nur. Kami bertemu dengan anak anak lain dan saya memaksa untuk melanjutkan perjalanan hingga ke basecamp.

Sampai di basecamp, pukul 18.40, kami memesan makanan dan menunggu isya tiba. Kami menggelar tikar dan masuk ke dalam ruangan. Saat itu rasa sakit akibat lutut yang cedera tidak terlalu terasa. Saya masih bisa berjalan dengan agak tegak dan menekuk lutut ketika duduk di lantai. Tapi tidak ketika saya sudah mengambil air dan sembahyang. saya tidak bisa bebas bergerak. rasa sakit muncul dan saya harus bersembahyang dengan posisi selonjor. Alfi dan mbak Puji memberi saya semacam parem yang dioleskan ke bagian yang sakit. Parem itu mengingatkan saya pada Ibunda Suka Makmur. Ketika saya dulu demam akibat campak, beliau memberikan parem yang parahnya ke muka. Akibatnya memang hebat, seketika itu kesadaran saya meningkat tajam. Pusing masih teasa tapi kesadaran yang meningkat drastic itu cukup membuat badan kaget. Parem yang saya oleskan ke lutut sayangya tidak memberikan efek yang sama ketka saya sakit campak. Sendi yang bergeser masih juga nyeri. Pukul 20.00 saya tidak bisa menahan rasa capai. Lupakan soal nyeri, saya gelar sleeping bag dan tidur.

Kami semua tidak pulang ke rumah malam itu. kondisi lelah yang sangat, membuat kami berpikir ulang soal meneruskan perjalanan. Akan sangat berbahaya jika pulang dalam keadaan lelah seperti itu. akhirnya kami menggelar sleeping bag dan tidur bersama pendaki lain. Suasananya mirip seperti backpacker yang ingin mengunjungi suatu tempat. Kami disatukan oleh lelah dan kesamaan tujuan.

Pukul 02.00 saya terbangun. Hanya satu hal yang benar benar saya inginkan. Mengubah posisi tidur. Tapi sayangnya sangat sulit untuk terlaksana. Saya angkat kaki kanan pelan pelan tapi tidak juga berhasil. Saya mungkin dikira mengigau oleh Nur. Efek dari kesulitan saya tersebut begitu luar biasa. Badan saya pegal pegal dan rasa capai yang saya alami tidak juga hilang. Saya meminta ratna untuk memijat badan saya.

Solat subuh buat saya luar biasa butuh perjuangan. Kondisi lutut saya memburuk. Sakitnya bertambah. Saya harus dipapah dan untuk mengambil air wudhu saja sakitnya luar biasa. Solat dilakukan dengan duduk.  Counterpain yang diberikan Husein juga

Tiba perjalanan pulang. kaki saya tidak bisa lurus jika sudah tertyekuk. Dan kaki saya tidak bisa menekuk jika sudah lurus. Hal ini cukup menyulitkan karena kami harus berhenti di beberapa titik. Saat makan, rizal dan Sugeng membantu memapah saya berjalan kurang lebih 50 meter menuju tempat makan tersebut.

Dua jam perjalanan, pukul 9 hingga 11 siang merupakan perjalanan yang mengerikan. Bagaimana tidak. Saya dalam kondisi drop, mengantuk sepanjang jalan. Saya hampir memejamkan mata dan tertidur di sepanjang jalan. Rizal yang menyetir di depan harus bersabar karena ulah saya yang hampir membahayakan nyawa kami. Saya merasa bersalah karena ini.

Pukul 11 kami sampai di kosan Nur, checkpoint kami. mbak Nirma tidak bisa dihubungi padahal kami harus segera mengembalikan tenda yang kami pinjam. Tidak lama lama, Nur dan Ratna mengantar saya ke seorang tukang urut. Saya pikir saya akan berteriak teriak sama halnya ketika saya dulu diurut karena cedera pergelangan kaki yang sering saya alami ketika saya masih anak anak. Masuk ke dalam ruangan, dipencet, ditekan, digeser sedikit hanya kurang lebih 10 detik, bapak tersebut bilang bahwa urat saya sudah pulih. Tinggal ditreatment dengan counterpain. Saya bengong. Bagaimana bisa dengan waktu secepat itu saya sudah pulih. Saya coba untuk berjalan dan hasilnya? Masih sakit. Hehe.

Voltaren di tangan, kami segera pulang. tapi kami mampir dulu untuk solat dhuhur di sebuah masji di daerah Jambon. Sudah solat, istirahat sejenak, pukul 14.30 kami pulang. rasa capai luar biasa saya rasakan. Tanpa sempat mandi saya sudah jatuh tertidur di kamar. Berantakan, kotor, kumal, risih memang. Tapi rasa capai mengalahkan itu semua. Tubuh saya butuh haknya segera : istirahat.

Pergi ke tempat yang sama namun dengan orang yang berbeda memberikan cerita yang berbeda pula. Ini kali ketiga saya pergi mendaki ke Merbabu dan cerita di setiap pendakian tentunya memiliki warna warni yang berbeda pula.

ini pertama kalinya saya pergi melewati Selo, track yang dianggap selo banget. Dan memang jalannya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan Wekas. Setiap perjalanan membuat saya belajar tentang banyak hal. Dari awal banyak sekali miskoordinasi yang terkadang mengganggu. Tapi di luar itu semua terlalu banyak hal manis yang akan terus diingat. Bukankah semua hal adalah keseimbangan? Jika terlalu banyak hal manis tanpa adanya kepahitan, maka kamu tidak hidup. Dan jika hal pahit yang diingat tanpa memikirkan bahwa Tuhan juga menggoreskan kuasan manis dalam hidup, maka kamu hanyalah seorang mahluk cengeng yang tidak mengerti bagaimana hidup yang seharusnya. Manis pahit, pahit manis adalah keseimbangan karena kita membutuhkan satu hal bernama keseimbangan agar hidup kita lebih berarti.

Tentang peduli pada orang lain. Setiap dari diri kita adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Pemimpin harus peduli pada dirinya dan hal di sekitarnya. Hal yang paling remeh temeh sekalipun. Hal pertama yang harus kamu pedulikan adalah bagaimana kamu menjaga dirimu sendiri karena percuma ketika kamu berusaha menjaga orang lain tapi kamu tidak memedulikan dirimu sendiri. Kemudian kamu harus jeli. Ketika siapapun di belakangmu membutuhkan bantuan, berusahalah untuk ringan tangan. Mungkin tidak mudah, tapi ingatlah bahwa setiap bantuanmu itu akan tercatatNya. Tidak butuh balasan dari yang sudah ditolong, tapi suatu saat nanti bantuan akan datang untuk kita yang membutuhkan. Bukankah bantuan datang untuk yang membutuhkan?. Ini juga berhubungan dengan tanggung jawab. Jika memang dari awal sudah diberi tanggung jawab, seharusnya kita lebih peka, bahwa tanggung jawab itu hingga akhir. Tidak hanya di awal kita memikul tanggung jawab itu. Jangan pernah tinggalkan orang orang yang diserahi tanggung jawab.

Saya belajar bahwa teman teman itu adalah orang orang yang tidak akan pernah meninggalkan kalian di saat papaun. Di saat manis ataupun pahitnya. Ketika saya dalam keadaan drop, teman teman saya berbaik hati menyisihkan waktunya untuk sekedar melihat keadaan saya bahkan merawat saya. Ada orang yang menjaga kita dengan baik, bahkan amat sangat baik dengan sangat tulus. Ketika kita butuh semangat, bahkan dia pun juga dalam keadaan lelah luar biasa ada yang masih berusaha untuk melontarkan candaan hanya untuk membuat kita tersenyum kembali. Saya menghargai itu. manis.

Tentang bagaimana kamu bersikap. Saya mengucapkan banyak terimakasih untuk orang orang yang peduli. Ketika kamu salah dan kamu meminta maaf, itu adalah sikap Nobleman. Gentleman. Ksatria. Jujur saya sempat agak kecewa pada awalnya tapi sikap yang baik sudah ditunjukkan. Dan saya pun juga ingat bahwa dia berusaha membayar kesalahannya dengan membantu saya berdiri ketika di perjalanan pulang. Ketika dia dengan nada serius meminta maaf *ya, saya tahu kali itu dia serius karena berbeda dari biasanya. Kami sering bercanda, tapi nadanya kali itu benar benar menyiratkan keseriusan. Saya menghargai itu. Sangat. Berarti dia memang orang yang memiliki akhlak baik. ciyeeee.. yang lagi diomongin, jangan GR. Bukan kamu kok. Haha

Saya tidak berhenti bersyukur atas semua kemudahan yang sudah diberikanNya lewat tangan teman teman. Semua teman yang berbaik hati mau direpoti dipinjami semua peralatan hingga orang orang yang peduli dengan menjaga saya dengan amat sangat baik. Mbak Mira, Santika, Mas Yayan, Niam, Helmi, Mbak Tari, Mbak Aidah, Rosi. Ada beberapa dari mereka yang ternyata naik gunung tapi merelakan beberapa barangnya hanya untuk saya dan tim. Galih, Awi, Ojan, Mas Andi, Dimas, dan banyak orang orang yang akan terlalu panjang jika disebutkan satu persatu. Tanpa kalian semua tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Untuk teman teman saya tersayang, saya harus bilang bahwa kalian sangat hebat. Orang orang yang berusaha sekuat hati mendapatkan apa yang kalian inginkan, menghadapi rintangan dengan sangat tangguh. Ini pertama kalinya mendaki dan kalian sudah bisa membuktikan bahwa kalian bisa. Nur dan Ratna yang merelakan waktu istirahatnya hanya untuk mengantarkan saya ke tukang urut. Semua anak yang peduli pada saya. Rizal yang menjaga saya dengan amat sangat baik, ngemong banget, bahkan ia rela direpotkan dengan hal remeh temeh tentang saya dan moment berbahaya di jalan yaitu saat saya mulai mengantuk ketika kami pulang. Sugeng yang udah jadi leader tim, you are a man. Mbak Puji dan Alfi, dua wanita tangguh yang ikut dalam pendakian ini terimakasih atas bantuannya terutama pasca turun, Husein makasih as usual kamu sangat peduli pada hal remeh temeh. Endah, you still the best pemijat. Haha. O, ya, Dani terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s