Secangkir Cinta di Gorontalo: Adaptasi

Meraba Alam

Saya terbangun di pagi pertama di desa ini karena ada suara denting berisik dari ruang makan. Rupanya teman teman saya sedang menyiapkan makanan untuk sahur. Saya takjub karena warga desa disni benar benar care dengan kami. Nasi milu panas dalam termos nasi, ikan sambal, lauk kering. Wuuhh.. gila, ini makanan bisa dibilang cukup mewah untuk tamu seperti kami di desa yang terpencil ini. Apalagi ikan yang digunakan adalah ikan tongkol. Oke, saya harus takjub, Iya, harus. Usai sahur selesai, saya dan beberapa teman pergi ke surau untuk melaksanakan solat subuh dan nderes.

Saya tidak bisa tidur paginya. Seperti biasa, saya melakukan survey untuk saya sendiri. penting untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitar. Saya berjalan sejauh satu kilometer ke timur desa. Saya menyusuri jalan setapak yang baru saja selesai dibangun tahun lalu dengan Dana PNPM mandiri. Rumah yang ada di timur desa sudah jarang jarang. Satu rumah di jeda dengan kebun panjang, kemudian rumah lagi begitu seterusnya. Rumah yang menggerombol hanya dua atau tiga rumah saja. Apa yang saya temui disana adalah makam, lading jagung dan bukit juga hutan.

Sudah selesai survey, saya dan teman teman mandi di kali. Hal yang menyebalkan disini adalah kita harus benar benar menahan malu (dan kadang sedikit tendensi kemarahan) untuk bisa beradaptasi di sini. Saya mandi pukul tujuh pagi dan mencuci karena ada beberapa pakaian yang kotor (saya cuma bawa pakaian sedikit sehingga kalau pakaian kotor semua jelas saya tidak lagi punya baju). Saya harus bisa menahan perasaan saya sendiri karena semua orang melihat saya mandi padahal saya memakai baju tertutup dan bercelana panjang. Emangnya saya ini tontonan apa ya. Dari saya mengambil sabun, menggosok badan dan memberi shampoo di rambut saya. Bahkan ada sekelompik warga desa yang berdiri di atas tebing melihat saya mandi dan mengajak warga lainnya untuk menonton saya. Damn.

Kemudian saya turun ke ke kali yang ada di bawah untuk berenang *saya kangen dengan kolam renang dan pantai. Sungai Bolango mengalir dengan airnya yang jernih. Yang membuat lebih takjub, di sekitar sungai terdapat butiran butiran pasir yang teksturnya mendekati pasir pantai. Floating di atas aliran Bolango, diarak aliran air, menatap langit yang biru, disentuh angin yang berhembus lembut. Sempurna!. Dan saya hanya bisa membayangkan seandainya teman teman saya berada di sini bersama saya. Mungkin Ratna dan Nur, yang keduanya adalah water freak, tidak akan berhenti untuk main di kali yang jernih ini, teman teman saya yang lain, Husein, Endah, Fitri, Priyok, Sugeng, Rizal, Dani, Liana, Dwi akan piknik di pinggir kali sambil menunggui kami mandi. Hey temans, I miss you all.

Pukl 9.30 saya dan teman teman kecuali Mas Yayan, Rossi dan mbak Mira pergi ke dusun tiga. Saya pikir dusun tiga hanyalah selemparan batu dari Sungai bolango. Apa kenyataanya? Kami naik turun dua bukit untuk bisa sampai ke bandungan, sebutan untuk bendungan. Kami mampir ke pembuatan gula aren yang berada di tengah kebun aren. Jalan ke dusun tiga juga sedang dalam proses pembuatan (bukan perbaikan tapi pembuatan). Sampai dibendungan, saya, Niam dan Helmi sempat untuk pergi ke aliran hulu di utara bendungan. Sungai Bolango yang ada di dekat pondokan kami bahkan menurut saya sudah jernih ternyata masih kalah jernihnya dengan sungai yang ada di hulu.

Pulangnya malah lebih lucu lagi. Ini hutan cuy.. Dan kami sebagai orang kota, dianggap aneh oleh orang di daerah ini. Kami mengambil daun cincau (yang hanya mirip tapi bukan benar benar daun cincau), sirih juga buah aren. Mereka sangsi bahwa kami akan meracuni mereka dengan daun daunan dan buah buah yang kami ambil. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana dan dari mana kolang kaling berasal. Mereka cuma tahu bahwa kolang kaling adalah makanan yang enak dan hanya bisa ditemukan di kota saja. Mereka tidak suka untuk memanfaatkan buah aren. Mbak aida menjelaskan dengan berapi api namun yang namanya orang desa tetaplah tidak akan percaya. Saya bahkan bosan karena orang sini seperti mencela. Berkali kali pula. Tidak hanya daun daunan ini, kami juga mengambil buah nangka dan daun jeruk purut. Ngakak banget pokoknya, semua muanya diambilin. Pulang, kami mengolah cincau, lalu tidur siang.

Sorenya kami mengobrol dengan Ayahnda dan beberapa warga desa. Ada buka bersama di surau desa dengan menu yang sama dengan sebelumnya minus makanan besar. Setelah tarawih, kami mengobrol dengan anak muda di desa ini sampai kami lupa belum buka puasa. Pukul 10, kami pikir bisa tidur di rumah ternyata malah dilanjutkan dengan sesi curhat Santika sampai tengah malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s