Secangkir Cinta di Gorontalo: Petualangan Dimulai !

Hari Kedua

Hari kedua dibuka dengan sahur pagi dengan ayam cabai alias rica rica ayam. Pagi pukul 08.00 Ibu Peni dan Pak Edi datang menjemput kami untuk pergi ke opening party di kantor Bupati Bone Bulango. Hanya ada beberapa orang waktu itu yang menyambut kami. Ada apa ini? apakah acara sepenting ini, staf yang menyambut malas datang? Padahal mereka juga harus tahu gambaran tentang apa yang akan kami lakukan disini seperti apa. Kami jauh jauh datang untuk melakukan sesuatu, bukan untuk plesiran. Yah.. mungkin mereka ada urusan lain. Positif thinking saja. Tapi, yang membuat lebih kesal, sesi berlangsung molor. Pukul 10 pagi baru mulai pembukaan dan wakil bupati datang terlambat. Entah ada urusan apa. Ya sudahlah, lagi lagi positive thinking saja. Kami baru pulang usai solat jumat. Kemudian kembali lagi ke rumah Pak Camat dan packing barang barang karena siang itu juga kami harus pergi ke desa masing masing.

Perjalanan yang sebenarnya dimulai pada pukul 13.30 WITA. Butuh satu jam untuk sampai di desa paling awal (di tengah hutan) bernama Owata. Bisa dibilang desa ini yang paling ‘dekat’. Sepuluh menit kemudian sampai di desa kedua bernama Mongiilo, yang bisa disebut kota kecamatan. ciye… kota. Satu jam kemudian, sampai di desa ketiga yaitu Pilolaheya, dan sepuluh menit kemudian sampai di desa terakhir, terjauh dan terujung, desa kita tersayang, Suka Makmur.

Jalanan pada paruh awal perjalanan masih berupa aspal tipe agak jelek. Baru setelah sampai di sebuah jembatan, ada pertigaan dan kami memilih untuk memilih jalan yang lurus *ya kali kayak al fatihah aja. Jalan tersebut luar biasa ekstrim. Otto, mobil bak terbuka bertudung yang sudah agak reyot membawa kami naik turun meyusuri sisi bukit dengan jurang menganga di bawahnya. Kanan hutan, kiri jurang. Seperti itulah gambarannya. Selain ngeri karena kontur daerah yang kami lewati, kami juga terpesona dengan hijaunya alam yang membentang sepanjang perjalanan. Hal yang membuat kami terpesona adalah alam yang sebegitu hijaunya dengan sungai yang sebegitu jernihnya ternyata masih terjaga baik di Indonesia yang semakin lama semakin rusak saja ini.

Perlu dua jam untuk sampai ke desa saya yang akan saya tempati. Kami tiba pada pukul 15.00 WITA. Suka makmur, berjarak dua jam dari Tilongkabila, rumah Bapak Camat. Desa ini merupakan pemekaran dari Desa Pilolaheya pada tahun 2007.  Jalannya lebih ekstrim dibandingkan dengan jalan di Owata dan Mongiilo dan lebih jauh. Kami bertujuh, saya, Rossi, Ni’am, Yayan, Aidah, Santika, Mira akan menghuni Desa Suka Makmur selama kurang lebih dua bulan.

Satu jam kemudian, dua teman kami datang. Ada Helmi serta Tari yang awalnya ada di Desa Pilolaheya, sekarang ditempatkan di Suka Makmur. Jadilah kami bersembilan memulai petualangan kami di desa ini, desa terjauh dan terujung.

Hal pertama yang kami lakukan disini adalah beramah tamah dengan ayahanda, kepala kampung dan sebagian warga desa. Bahasa merupakan kendala yang sangat besar. Kami, yang hanya paham bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dipaksa keadaan untuk belajar memahami bahasa Gorontalo yang merupakan bahasa asing buat kami. Ada hal lucu yang terjadi di hari pertama kedatangan. Ibunda, istri dari kepala kampung, menyuruh kami mandi. Beliau berkata “koala, ti mongoli molihu jo” . Saya tidak tahu bagaimana persisnya kalimat yang ia katakan waktu itu. Tapi intinya ia menyuruh kami untuk mandi di kali karena hari sudah sore. Kami yang tidak paham bahasa Gorontalo, menebak nebak apa arti di balik kata koala. Ada yang mengira koala adalah koala hewan yang hidup di Australia, kolak, makan dan banyak arti lainnya. Baru setelah Ayahanda menjelaskan, kami baru paham. Kami tertawa tak berkesudahan.

Setelah menaruh barang, kami pergi ke kali diantar oleh anak anak kecil. Kami takjub, Sungai Bolango yang membelah desa begitu jernihnya. Batu batu kali terlihat berwarna warni terkena cahaya matahari yang memantul ke air kali. Anak anak terlihat seperti sedang bermain. Tapi ternyata mereka tidak bermain. Ada satu anak yang menangis tak henti sejak tadi. Kami bertanya pada salah seorang  anak, mengapa gadis kecil ini menangis. Ternyata ia menghilangkan kunci di kali. Tidak tanggung tanggung, kunci tersebut berupa kunci motor ayahnya dan enam kunci kelas Sekolah Dasar Bolango Ulu. Kalau sampai hilang, kelas tidak akan bisa terbuka karena mereka tidak memiliki kunci cadangan. Sesorean, kami ikut membantu mencari. Tapi ketika maghrib hampir menyahut, kami bergegas pulang.  Kunci tersebut akhirnya ditemukan oleh salah seorang anak lainnya.

Kami disambut dengan sangat meriah ketika sampai di desa ini. sebuah panggung kecil dibangun hanya untuk kami. Iya… kami…kemudian banyak umbul umbul dipasang di sepanjang jalan. Ketika magrib kami diajak ke dusun seberang kali dimana ada kenduri di rumah kepala dusun. Makanan pembuka berupa bubur ayam manis dengan kolak dan minuman sirup. Itu baru makanan pembuka. Kemudian ada main menu berupa bermacam macam makanan, sebagian besar daging dagingan yang berbumbu rempah rempah sangat kental. Saya cocok cocok saja makan itu karena sesuai dengan selera saya.

Kami benar benar tidak mengira sambutannya semeriah ini, rumah yang kami tempati benar benar sebuah rumah dimana tidak ada induk semang di dalamnya. Rata rata rumah orang di sini kecil sehingga tidak memungkinkan untuk menampung kami bersembilan. Dapat rumah sendiri, diajak langsung ke acara budaya orang setempat, dimasakin makanan khas Gorontalo, kece banget.  Alhamdulilah.

Kami tidur awal, pukul 10 malam. *balas dendam waktu tidur di rantau? #ehsalahfokus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s