Secangkir Cinta di Gorontalo: Selamat datang di Hulondalo

Hari Pertama

Rasanya masih canggung. Lelah dan mengantuk Itu lebih tepatnya. Lelah karena perjalanan sehari semalam saya tidak tidur dengan benar. Jangankan saat perjalanan. Sekitar tiga malam terakhir I was lack of sleep. Waktu farewell sleepover party di tempat ratna, saya tidak tidur, dan malam malam menjelang saya pergi, saya tidak tidur dengan benar. Di perjalanan, saya setengah tidur dan kemudian terjaga lagi. Begitu berkali kali. Di pesawat pun juga sama. Mengantuk tapi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Manis sekali. Kemudian perjalanan yang paling tidak saya sukai adalah satu jam menuju rumah Bapak Camat. Mobil diisi dengan berbagai barang dan kami perempuan berdelapan berdesakan di sebuah Avanza berwarna hitam. Dengan posisi duduk yang begitu sempit, leher, punggung dan pinggang saya pegal. Untung tidak sampai kram.

Perjalanan dimulai pada tanggal 9 September 2014 dari Fakultas Biologi dengan menggunakan bis menuju kota Surabaya. Hari itu adalah hari dimana pesta demokrasi (pemilihan presiden) dihelat. Pukul 11.00 siang saya menggunakan hak pilih, pukul 1 saya sudah bersiap untuk berangkat. (Walaupun kami baru berangkat pada pukul 15.30). Butuh sekitar delapan jam untuk menempuh perjalanan dari Jogja ke Bandara Juanda. Kami sampai di bandara pukul 1 malam. Oleh karena waktu itu adalah bulan puasa, kami menyempatkan diri untuk bersantap sahur. Nasi kotak dengan sedikit sayur dan udang di dalamnya menjadi makanan pembuka sebelum kami terbang ke pulau yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Usai sembahyang subuh, kami bersiap untuk check in. Baru pada pukul 06.00 pagi kami masuk ke pesawat. Sialnya baru pukul 07.00 pagi, pesawat take off.

Butuh satu jam perjalanan Surabaya ke Makassar. Tiba di bandara internasional Sultan Hasanuddin, kami transit sejenak. Pukul 09.00 pagi, kami baru berangkat menuju Gorontalo. Bandara Jalaluddin sangat jauh berbeda dari Bandara Sultan Hasanuddin. Kecil, panas dan agak kumuh, terutama toiletnya. Tapi ya, sudahlah, mau bagaimana lagi. Standarnya juga berbeda. Jangan dibandingkan antara bandara lokal dengan internasional. Kemudian perjalanan berlanjut dengan menggunakan mobil selama satu jam. Satu jam terakhir ini adalah satu jam yang menyiksa. Berdesakan dengan orang serta barang.

Sampai di rumah Ibu Camat, beliau sangat ramah. Cukup melegakan dan sedikit meredakan lelah. Memang hospitality sangat penting. Tanpa hospitality yang baik, orang tidak akan merasa nyaman dan terkoneksi satu dengan yang lain. Setidaknya, tidak ada agenda penting yang saya lakukan selama siang sampai malam kecuali salat tarawih dan rapat yang sedikit alot mengenai pembagian kerja di sub unit.

Tarawih disini cukup panjang walaupun cukup cepat. Nah lo, bingung kan? Panjang karena ada dua puluh tiga rekaat dan waktunya kurang dari empat puluh lima menit. Tapi yang bikin mabok adalah karena saya amat sangat capek pada hari ini maka saya hampir tidak memiliki tenaga lagi untuk melanjutkan solat. Untungya bisa selesai sampai dua puluh tiga rekaat.

Makanan di Gorontalo tidak akan saya bilang enak. Enak banget !. for you who said that makanan disana nggak enak, berarti emang kamunya aja yang belum bisa menyeseuaikan diri dengan makanan luar jawa yang memang berbeda. Anyway, saya cocok dengan makanan di sini yang pedasnya naudzubillah. Ingat masakan di rumah. Hehe

Ini cerita saya di hari pertama tiba di Gorontalo. Dalam doa saya, saya berharap bisa menjadi awalan yang baik untuk menjalani perjalanan dua bulan ke depan. Sebuah petualangan yang tidak akan pernah saya bayangkan sebelumnya.

Rasa canggung tetaplah ada karena saya belum terbiasa dengan teman teman satu kelompok saya. Walau bagaimanapun juga saya belum mengenal mereka dengan baik karena saya paling terakhir masuk ke dalam kelompok dan tidak selalu datang ke rapat (lagi lagi karena informasi yang tidak tersampaikan dengan benar entah dari ketua maupun sahabat saya sendiri). Manis. Teman teman saya di satu kelompok ini sebenarnya semuanya baik. Mereka menyenangkan. Tapi mungkin memang saya sendiri yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Saya masih belum bisa move on karena saya tidak dari awal disini. Anyway, saya sebenarnya adalah orang tipe adaptif dan fleksibel di segala kondisi. Intinya saya hanya butuh sedikit penyesuaian. Lambat laun saya rasa semua akan berjalan normal dan baik baik saja. Everything gonna be alright.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s