Mencari Kucing yang Hilang

Belum juga lelah hilang dari badan, masalah datang. Hari pertama saja sejak tiba dari petualangan dua purnama di Celebes harus rusak dengan sebuah insiden bernama mencari kucing yang menyusahkan. Saya tiba pada pukul 4 pagi dan segera pulang bersama Santika yang mampir ke kamar saya. Saya memang berencana tidak tidur hingga pagi. Usai bermain dengan Blake, saya mau mandi dan mencuci. Pertama kalinya saya di kamar mandi, saya cukup kaget karena kali ini proteksi ditambahi sampai pada kamar mandi. Ada sebuah pintu yang membatasi antara tempat mandi dengan jalan. Pintu tersebut memiliki kait untuk mencegah kucing bebas keluar masuk ke area tempat cuci dan kamar mandi. Hmm.. semakin merepotkan saja.

Saya masuk ke tempat cuci dan merendam pakaian pakaian kotor yang sudah sejak beberapa hari yang lalu belum dicuci. Hanya berselang beberapa menit saya mandi, saya mendengar anak laki laki pemilik rumah berlarian panik di atap kamar mandi. Saya cepat cepat menyelesaikan mandi dan segera bertanya pada anak tersebut. Benar dugaan saya. Kucing milik ayahnya lari. Kami berdua pun segera berkeliling dan mencari. Pemukiman yang padat penduduk semakin menyulitkan kami untuk mencari kucing jenis Anggora yang lepas bernama Gembul. Kucing besar berusia dua tahun ini loncat dari satu atap ke atap lain. Baru saja semenit kami lengah, Gembul sudah berpindah ke lain rumah. Kami sampai harus mengetuk pintu rumah orang dan meminta izin untuk mencari kucing di atap rumah mereka.

Gembul terlihat di rumah paling ujung RT 38. Saya bahkan bisa melihat ekor dan mukanya mengintip dari balik celah di atap. Anak laki laki mengambil tangga dan berusaha meraih kucing tersebut akan tetapi ia cukup pintar untuk lari dari pandangan serta genggaman. Si kucing masuk ke dalam eternit. Kami sampai harus meminta bantuan Pak Min, penduduk yang memiliki keberanian lebih dengan ketinggian untuk bisa mengambil Gembul dari dalam eternit. Genting terbuka dan Gembul tidak juga ada di dalamnya. Ia lagi lagi lari. Kami kebingungan.

Dua jam pencarian tidak juga kami menemukan Gembul. Hingga pemilik kucing dan istrinya datang, kami juga tidak menemukan hasil. Beliau sungguh terlihat kecewa dan marah ketika mengetahui kucingnya hilang. Ia memarahi anaknya karena dianggap kurang berhati hati menjaga kucing tersebut. Permohonan maaf yang saya utarakan pun tidak juga mendinginkan situasi. Walaupun sebenarnya anak itu juga teledor, saya merasa harus tetap mencari Gembul sebagai penebus kesalahan saya. Kaki sebenarnya sudah tidak mau diajak melangkah karena sangat lelah. Belum lagi mata yang kurang tidur minta segera tidur siang. Tapi yang lebih memberatkan hati adalah saya memiliki tamu yang daritadi saya tinggal dalam kamar saya. Di satu sisi harus mencari kucing tapi di sisi lain saya malah meninggalkan tamu saya sendirian bengong di kamar.

Saya kembali ke rumah dan mengajak Santika untuk keluar. Ia berbaik hati membantu kami mencari kucing. Setelah empat jam pencarian, tetangga rumah berteriak bahwa kucingnya telah ditemukan. Pemilik kucing segera mengunci Gembul di dapur untuk memberi makan dan kemudian dipindah ke kandang yang dikunci rapat rapat.

Ketika tahu Gembul sudah kembali, saya begitu senang sekaligus kesal bercampur lega. Campur aduk perasaan saya waktu itu. ternyata Gembul sudah capek bersembunyi. Ia bergerak dan lonceng yang ia kenakan jatuh. Mungkin ketika loncengnya jatuh, bunyi lonceng menarik perhatiannya dan ia malah mendekati lubang dan jatuh ke tanah. Tadinya saya tidak berselera untuk makan. Tapi setelah masalah selesai, saya bisa makan dengan bahagia. Badan yang remuk bisa segera dipenuhi haknya dengan istirahat.

Pelajaran yang bisa saya petik kali ini adalah saya tidak cocok memelihara kucing Anggora. Menyusahkan.  Jika Gembul benar benar hilang, maka saya akan benar benar kesusahan karena selain harus mengganti 3,5 juta rupiah (padahal saya nggak ada duit samasekali untuk mengganti), saya juga akan mengecewakan pemilik kucing. Gembul tidak hanya mahal tapi juga memiliki memori yang mendalam pada pemilik kucing. Dulu Gembul pernah menggigit ayah dari pemilik rumah hingga masuk rumah sakit. Kenangan inilah yang membekas sehingga Gembul adalah kucing yang paling berkesan untuk mereka. Jika hilang, mereka benar benar kecewa luar biasa karena saya juga bertanggung jawab menghilangkan kenangan mereka.

Ah, sudahlah. Saya tidak ingin memiara kucing mahal. Kesan manis saya terhadap kucing mahal rusak gara gara seekor kucing yang membuat pusing tujuh keliling di hari pertama saya pulang. Sekalipun ada yang menawari apakah saya mau diberi kucing anggora? Oh no. makasih. Masih lebih imutan Kate Midelten, kucing kampung saya berwarna abu abu di rumah.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s