Saatnya Hati Memilih

Hari ini keberangkatan saya ke Sulawesi. Di hari yang sama pula, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan sebuah tugas sebagai warga Negara : memilih. Indonesia sedang gegap gempita merayakan pesta demokrasi lima tahunan bernama pilpres. Tahun ini adalah pilpres yang sangat greget. Entah mengapa sangat terasa perbedaannya dibandingkan dengan lima tahun lalu ketika masa SBY atau sebelumnya. Saya merasa pemilu kali ini banyak diwarnai dengan kontroversi mengenai dua calon yang sama sama ingin maju menjadi wakil Negara. Mereka sama sama calon yang baik. Mereka memiliki visi misi yang tentunya ingin memajukan Indonesia. hanya saja, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda.

Saya tadinya golput. Iya memang, golput. Mengapa? Karena menurut saya belum ada yang bisa dipilih. Kemudian pada akhirnya pada perkembangannya saya memutuskan untuk mengakhiri masa golput karena saya sudah menemukan jawaban yang ingin saya pilih.

Butuh waktu semalaman lebih untuk packing barang barang dan yang paling lama adalah memberesi kamar saya yang lebih mirip kapal pecah daripada sebuah kamar cewek yang manis (tapi sebenarnya saya rapi juga kok). Pukul 11, saya mengambil kartu dan menuju ke TPS terdekat untuk memberikan hak pilih. Kartu saya buka. Saya tentukan pilihannya. Pada akhirnya saya memilih untuk menggunakan hak warga Negara.

Hati saya tertambat untuk dua tapi saya merasa belum waktunya beliau untuk memimpin Indonesia. masih terlalu cepat, terlalu instan. Jakarta belum selesai menjadi urusannya, lantas beliau ingin memimpin Negara sebesar ini. Nomor dua, walaupun sangat merakyat tapi terlalu tergesa gesa untuk maju mewakili Indonesia sebagai pemimpin. Jika beliau menang pun rasanya hati ini masih belum rela. Lima tahun lagi setidaknya. Selesaikan Jakarta dahulu, baru Indonesia. walaupun membereskan ibu kota tidaklah semudah membalikkan tangan, setidaknya itulah proses yang harus dicapai oleh beliau sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia. memang tidak akan semua urusan Jakarta bisa kelar, tapi tolonglah selesaikan tanggungjawab untuk Jakarta terlebih dahulu karena disanalah tanggung jawab yang belum terselesaikan berasal. Nomor satu pun sebenarnya memiliki kapasitas yang baik dan beliau merupakan orang yang tegas. Rasa cintanya terhadap tanah air sangat besar. Tapi sayang ada beberapa visi misinya yang menurut saya kurang bisa diterapkan. Pilih yang mana? semua sama sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Tinggal pilihan hati saja.

Gegap gempita pemilu terasa membahana. Saya beranjak merangkul Reystanley milik Mbak Havnie dan sebuah tas hijau Season. Barang di pundak saya tidaklah terlalu berat. Berbobot kurang dari limabelas kilogram tentunya tidaklah seringan beban pemimpin Indonesia untuk memimpin Negara. Saya adalah salah satunya nantinya. Meskipun saya tidak bercita cita menjadi Presiden, tapi saya tetaplah seorang individu yang disumpahNya sejak masih berupa calon ruh untuk menyelesaikan tanggungjawab saya sebagai salah seorang pemimpin di dunia, minimal memimpin diri saya sendiri. Karena tiap tiap manusia adalah khalifah di muka bumi ini, karena tiap tiap manusia akan dimintai pertanggungjawabannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s