Melontar Isu, Mengubah Keadaan

Keadaan yang tidak menyenangkan, tentunya semua orang pernah mengalami. Kadang saya kesal sendiri ketika ada sekelompok orang yang ngecengin saya dengan seseorang atau siapapun. sudah sejak lama, dimulai pada jaman waktu saya masih jadi precil imut yang duduk di sebuah sekolah di tengah sawah. Sebenarnya saya orangnya santai sih, diejek pun saya masih bisa lenggang kangkung. Nggak bakal saya pikir dalam dalam deh. Saya tidak akan susah susah menanggapi apa yang orang pikirkan atau lontarkan.

Ada orang yang sikapnya seperti saya : cuek dan santai saja menanggapi omongan orang. Bahkan kita dengan kompaknya menyanggah isu tersebut. Ada yang menanggapi dengan selo. Kita pun masih bisa tertawa bersama, senyum ceria dan nggak terbebani dengan isu geblek macam itu. Orang orang koplak yang menyenangkan.

Tapi yang membuat saya merasa agak gundah adalah ketika ejekan dari orang justru membuat orang tersebut tidak bisa bersikap santai. Siapapun itu. ada sebagian yang bisa santai tapi ada sebagian yang malah membuat orang lain seperti menjaraki dan tidak lagi bersikap biasa saja. Saya hanya kecewa karena mengapa harus ada perasaan yang berubah (menjadi lebih buruk) setelah diejek orang. Saya mungkin santai saja, tapi tidak dengan orang lain. Kalau sudah begitu, saya jadi malas. Kalau kamu bisa bersikap biasa saja, sepertinya itu lebih oke. Hubungan yang tadinya santai, ngobrol bisa oke oke saja, cerita bisa panjang lebar tanpa beban malah jadi canggung setelah diejek orang. Malah sepertinya saya agak dihindari padahal dulu dulunya biasa saja. Seolah diejek dengan saya adalah sebuah kesalahan fatal yang lebih baik dijauhi. Oke, apakah saya segitu fatalnya kah?. Ah, sudahlah saya jadi malas sendiri. Toh kamu tidak ada perasaan ke saya kan? Sesimpel itu saja. Santai lho. Jadi mari bersikap netral saja.

Yang lebih bikin kesal adalah pihak yang melontarkan isu bahwa ada hubungan antara saya dengan orang orang tersebut. Mereka bisa seenaknya saja ngomong seperti itu tanpa mau tahu perasaan kami yang diejeknya. Yang membuat saya merasa bersalah adalah, seperti yang saya bilang tadi, ada perasaan yang berubah. Hubungan baik antara kami malah jadi canggung. Sekarang siapa yang salah?. Keadaan sudah sulit untuk diubah, dan ke depannya sungguh bukan hal yang baik untuk bisa berjalan beriringan seperti halnya teman biasa tanpa perasaan canggung seperti musuh. Padahal yang saya harapkan adalah hubungan baik yang terjaga meskipun kita diejek orang. Saya bisa saja bersikap sok cool dan cuek seperti saya biasanya, tapi tidak dengan orang orang tersebut. Tetap ada yang tidak bisa bersikap biasa. Kalau sudah begini, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya pun juga kadang harus bersikap bijak untuk diri saya sendiri. lihat kondisi, jika masih bisa dibetulkan, maka saya akan berusaha membuat ‘retak’ yang ada pulih kembali dengan hati hati. Tapi jika sudah sulit, maka sudahlah, lebih baik memang jaga jarak karena ia pun memang sudah malu. Dan saya kemudian menjadi kecil hati. Memangnya segitu jeleknya diejekin sama saya ya. *hiks.

Entah siapapun kamu, jika memang tidak ada perasaan harusnya kita bisa bersikap biasa saja. Jangan dengarkan orang lain. Saya tidak mau kehilangan teman lagi dan lagi. Kehilangan orang orang yang pernah punya hubungan baik dengan kita itu rasanya pahit. Saya tidak ingin persahabatan, tali persaudaraan dan riangnya pertemanan rusak hanya karena malu diejek orang. Santai saja. Tunjukkan kalau kamu pun bisa menanggapi candaan orang dengan hati kalem walaupun sebenarnya kepala panas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s