Urat Nadi Bernama Etnosentris

Kita hidup dalam masyarakat. Ya, sebuah sistem komunal dimana ada sekelompok orang hidup bersama di dalamnya. Sekelompok? Seberapa banyak? Satu rumah? Satu RT? Satu RW? Satu kelurahan? Kecamatan? Kabupaten? Kota ? provinsi? Negara? Atau dunia?. Dengan siapa kita tinggal? Satu keturunan? Satu suku? Satu kesenangan? Satu kakek? Atau satu ras?.  Jawabannya bermacam macam.

Tentunya kita tidak hanya tinggal dengan satu keturunan kakek nenek walaupun tentunya kita semua adalah cucu dari Nabi Adam. Indonesia, sebuah negeri dengan berjuta keragaman di dalamnya tentu memiliki warna warni yang berbeda di setiap daerahnya. Sayang sekali bahwa kita tidak tinggal dalam sebuah komunitas dimana hanya ada satu ras saja di dalamnya. Seringkali kita terlalu menganggap diri kita sendiri terlalu keren, terlalu luhur dengan budaya yang kita miliki. Terutama etnis tertentu yang kadang merupakan mayoritas di suatu daerah, atau di negeri ini.

Suatu magrib, di sebuah perkabungan, ada sekelompok ibu yang rumpik sedang menggunjingkan seseorang. Satu orang ibu berkata ‘emang kayak gitu tuh priyayi Solo, kesannya eksklusif dan nggak suka kepemilikannya diperlihatkan ke orang lain’. Yang lain menanggap ‘kok ya ada ya orang seperti itu’ dan berbagai gunjingan lainnya. Saya dalam keadaan setengah tertidur hanya tersenyum dengan setengah tertawa karena saya tahu mereka menggunjingkan saya. Eng ing eng, maaf ibu-ibu kalian salah. Saya bukan priyayi Solo. Kalau mau sok tahu, lebih baik tanya tanya dulu ya. Ingat, bergosip itu tidak baik untuk kesehatan. Kesehatan mental maksudnya.

Suatu sore yang lain, saya sedang mengobrol dengan seorang bapak bapak dari Jogja. Beliau menceritakan tentang pandangannya terhadap orang dari daerah lain. Jika laki laki mendapatkan jodoh dari Jogja ke timur (arah Klaten sampai Sragen), maka hidupnya akan repot karena biasanya perempuan dari daerah tersebut terkenal manja. Akan tetapi jika berkebalikan, perempuan Jogja mendapatkan calon dari daerah timur tersebut, maka hidupnya akan manis. Dari pernyataan Bapak ini, sangat kentara bahwa beliau terlalu mengagungkan jiwa Jogjanya yang terkenal dengan lembut, sopan santun, ramah, ngemong dsb.

Orang Sumatera, Sulawesi, Kalimantan adalah orang orang keras yang akan menyulitkan kehidupan pasangannya kelak. Mereka tergolong temperamen dan kurang bisa mengendalikan emosi. Apalagi orang Kalimantan yang gampang main magic kalau sudah sakit hati. Oke, ini ceramah dari beliau. *emang segitunyakah parahnya orang orang luar Jawa? Saya rasa tidak juga. Orang Jawa pun ada yang wataknya keras. Nggak melulu orang luar Jawa yang bisa keras.

Orang Jogja kalau mendapatkan jodoh ke arah barat (Jogja ke Bandung) maka akan bertambah parah hidupnya. Perempuan dari daerah tersebut terkenal manja dan mata duitan. Istilahnya ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang. *ha? Ya kah rata rata perempuan seperti itu? lebai juga jika menjudge orang dari daerah Jawa Barat segitu mata duitannya. Bapak ini terlalu menggeneralisir darimana perempuan berasal.

Tapi tidak dengan daerah utara, Bapak ini menganggap bahwa orang orang utara masih lebih baik dibandingkan dengan apa yang ia sudah sebutkan. *really? Kemudian saya bingung.

Apa yang Bapak tua ini sudah bilang menurut saya terlalu berlebihan. Toh tidak semua orang Solo adalah priyayi halus nan manja. Tidak semua perempuan Jawa Barat hanya pandai bersolek dan hanya mementingkan uang belaka. Tidak semua orang luar Jawa adalah pribadi keras luar biasa sampai sampai tidak mau mendengarkan orang lain.

Terkadang saya hanya merasa bahwa seringkali kita hanya terjebak pada perasaan mayoritas yang merasa bahwa segala sesuatunya bisa diukur dari kebudayaan sukunya sendiri. Etnis Jawa sebagai etnis terbesar bisa bilang bahwa mereka adalah etnis yang berbudaya luhur, halus budi pekerti dan sebagainya. Tapi bukankah suku suku di luar sana juga memiliki kebudayaan yang sama tingginya. Hanya saja, cara dan manner mereka jelas berbeda satu dengan lainnya. Seperti halnya istilah beda rumah, beda peraturan, maka jelas jelas beda suku, beda aturan. Mau diukur pakai apa juga nggak akan ketemu karena perbedaan yang mendasar.

Suatu ketika ada salah satu teman baik yang lebih tepatnya saya bilang terlalu lama tinggal di Jakarta yang mencibir orang Jawa bahwa orang Jawa adalah orang Jawa itu tangan di depan, keris di belakang. Entah ada dendam apa, ia sampai mengata ngatai nenek moyangnya sendiri seperti itu. Sama halnya seperti orang bilang bahwa orang Jakarta itu belagu, nggak ada sopan santunnya, individualis dan segepok sifat jelek lainnya. Atau taruhlah ada orang yang berkata jika orang Cina (keturunan Tionghoa) adalah orang yang pelit, perhitungan dan tidak berperasaan.

Terkadang sebagian orang juga sering mengejek saya atau bahkan adik adik saya sebagai seorang Chinese. Mereka salah. Kami adalah Indonesian. Saya lahir di sini, di bumi tumpah darah Indonesia, dari orang tua berkewarganegaraan Indonesia. Saya mencintai Indonesia, bukan Cina. Karena saya samasekali adalah putra asli Indonesia. Terkadang lucu ketika saya mendengar orang orang bilang saya sebagai seorang Cina. Memangnya orang yang bermata kecil, dengan kulit yang lebih terang dibandingkan dengan lainnya sudah pasti keturunan Tionghoa?. Mereka mungkin mereka lupa bahwa nenek moyang kita pun berasal dari Yunan, Cina. Cuma karena nenek moyang beranak pinak di negeri tropis ini, kulit mereka menjadi sedikit gelap dan mata tidak lagi sipit. Well, terserahlah mereka memanggil saya keturunan Tionghoa, tapi saya adalah Nasionalis.

Pernah sampai persoalan ini pun dibawa sampai ke forum di depan kelas. Saya dan kelompok saya kebetulan membahas tentang Hak Asasi Manusia. Dalam sesi diskusi selanjutnya, ada seorang penanya yang menanyakan tentang persoalan yang sangat sensitif mengenai etnis tersebut, terkait dengan tragedi Reformasi. Saya menjawab dari beberapa sudut. Mengapa orang begitu sensitifnya dengan Cina karena mereka yang membangun perekonomian sehingga orang orang pribumi merasa tersingkir. Tapi, jangan hanya menyalahkan orang orang keturunan Tionghoa, bukankah mereka juga yang membangun perekonomian Indonesia. Toh tidak semua orang keturunan Tionghoa itu pelit, kikir, kaya, tidak toleran dan hanya mau bekerja sama dengan etnisnya sendiri. Masih banyak dari mereka yang baik dengan tetangga, mau menolong dengan ikhlas, memiliki kepedulian tinggi dan mau berteman dengan siapapun.

Salah seorang budhe saya malah lucu lagi. Suatu ketika saya main ke tempat beliau. Di depan perapian, ketika kita sedang membuat makan siang, beliau cerita soal putra pertamanya. Beliau bilang tidak akan membolehkan putranya (sebenarnya tidak hanya putranya tapi semua putra putrinya) untuk menikah dengan orang dari etnis lain. “Nggak boleh kalau bukan orang Jawa”. Saya memahami keinginan budhe saya tersebut. Ia sebenarnya trauma dengan beberapa pernikahan antar etnis yang pernah ia lihat. Beliau hanya tidak ingin putra putrinya mendapatkan perlakuan tidak baik dari suami atau istrinya. Padahal juga belum tentu seperti itu. Bisa saja si calon suami atau istri yang berasal dari satu suku, bersifat kasar dan kehidupan mereka tidak seperti yang diharapkan. Sialnya beliau hanya melihat etnis lain dari keburukannya saja. Walaupun sebenarnya pernikahan antar etnis seringkali memang berat karena benturan kebudayaan yang ada justru sangat keras. sekali lagi, bukankah antara suku satu dengan lainnya, etnis satu dengan etnis lainnya memiliki peraturan dan kebudayaan yang berbeda? Masing masing memiliki ukuran dan aturan yang tidak bisa diukur sama antara satu dengan lainnya. Oleh sebab itu benturan budaya wajar terjadi. Dan itulah yang tidak ingin dialami oleh budhe dan keluarganya. Ketika putra putrinya menikah, saya hanya tersenyum dan memberikan ucapan selamat kepada mereka. Akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan : menikah dengan satu suku. Selamat.

Anggapan anggapan itu tentu semua orang pernah mengalami. Entah sebagai pihak yang merasa etnisnya paling keren atau yang dianggap rendah oleh etnis lain. Saya rasa setiap orang pernah memiliki prasangka tersebut. Entah dari suku apa dia, etnis apa dia pastilah pernah merasa dirinya lebih baik daripada etnis lainnya. Tapi jika perasaan etnosentris itu bisa sedikit ditekan, menurut saya kenapa tidak?. Kembalilah menyadari bahwa kita ini bukan siapa siapa disini. Indonesia itu luas. Ada sekian ratus etnis yang berdampingan menjadi satu. Jangan merasa terbaik karena pelangi pun tidak akan indah jika hanya ada satu warna saja. Perbedaan, entah itu bahasa, rasa, kebudayaan, sampai watak sekalipun akan menjadi keragaman harmonis yang indah disandingkan satu dengan lainnya. Bukankah Tuhan sudah bersabda bahwa kita diciptakan beragam agar saling mengenal?. Bhineka Tunggal Ika, Walaupun Berbeda Namun Tetap Satu Jua. Mari lebih bertoleransi, bukan merasa paling baik sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s