A Tourist

Jadi turis! Itu salah satu cita cita saya. Jalan untuk melaluinya sudah sejak saya kecil saya lakoni. Sewaktu saya masih kecil, saya sudah suka untuk berjalan jalan. Dari SD, saya bangun pagi pagi di hari minggu kemudian mengajak kedua adik saya untuk berjalan jalan. Waktu itu, salah satu sahabat saya, Erlinawati juga sering saya ajak untuk berjalan jalan. Kalau saya pikir pikir, waktu itu saya kurang ajarnya, saya selalu membangunkan seisi rumah Lina hanya untuk sekedar mengajak dia berjalan jalan di sekeliling desa. Desa yang kami tuju waktu itu Kaliwaru, sebuah jembatan di timur desa, pembatas antara desa kauman dengan padaan. Kaliwaru adalah sebuah jembatan diantaradua sisi bukit yang dibawahnya terdapt sungai dengan batu batu besar.

Tidak hanya itu, saya sangat suka sunrise. Pagi pagi melangkahkan kaki diantara batang padi yang basah oleh embun dan gemercik air yang mengalir di antara persawahan sambil menunggu matahari menampakkan dirinya perlahan. Saya sangat menikmati momen matahari yang muncul. Benar benar menikmati angin yang berhembus, birunya langit, embun, udara segar yang menjadi pemanis hari. Atau saya akan berjalan menembus kebun, kali kali kecil, masuk ke galangan orang untuk mencapai desa sebelah bersama teman teman. Sebuah petualangan yang saya lakukan bersama sama.

Saya jadi ingat ketika saya masih TK, ada seorang anak yang mengajak saya kembali ke sekolah lewat jalan tikus. Namanya Edwin. Waktu itu hari jumat dan sekolah mengadakan jalan jalan. Pulangnya, saya terpisah dari Bu Guru dan teman teman. Tinggal satu orang, Edwin yang juga tertinggal. Untungnya ia adalah penduduk asli daerah tersebut sehingga sudah paham mana jalan tikus tercepat menuju TK. Ia bilang ia sering main bersama teman temannya keluar masuk kampung. Kemudian kami berdua sampai ke sekolah lewat jalan kecil dimana Edwin menjadi pemandunya. Hey, teman kecil, dimana kamu sekarang? Semoga kamu sehat selalu.

Masa sekolah, saya sudah tidak lagi terlalu sering main main seperti itu. Orientasi berubah. Kenekatan saya berubah menjadi pengambilan keputusan. Ada satu dua momen dimana saya harus mengambil keputusan atas apa yang saya lakukan. Pertemanan, kegiatan dan berbagai hal lainnya sungguh berbeda dibandingkan dengan masa kecil. Sudah bukan lagi anak anak, tapi mulai menjadi remaja yang harus tahu diri. dari main ke kebon jadi main ke kota. Perbedaannya adalah butuh skill nekat yang lebih dalam dibandingkan dengan masa kecil saya.

Menemukan sekelompok orang gila yang menyukai petualangan benar benar hal luar biasa yang saya jalani. Orang orang yang mau bersusah susah demi hal yang indah, orang orang yang mencintai alam, menyukai udara, awan, langit dan hal luar biasa yang diturunkan oleh Tuhan. Yang paling penting adalah mereka benar benar menjunjung persahabatan dan persaudaraan dengan cara yang sama luar biasanya dengan keinginan mereka.

Majalah intisari menjadi buku pertama saya yang benar benar menginspirasi untuk mencari tahu bagaimana keindahan dunia. Usia saya masih dibawah 9 tahun ketika pertama kali membaca majalah itu dan terus membaca hingga saya lulus sekolah menengah atas. Majalah Intisari yang kuno yang dulu pernah saya baca sangat mempengaruhi cara pandang bahwa budaya adalah elemen penting untuk mewarnai hidup. Kemudian National Geographic. Majalah cantik dengan cerita dan foto foto luar biasa yang selalu menjadi top first di portal saya. Saya begitu terpukau dengan mereka yang bekerja di Natgeo, selalu membuat takjub siapapun yang membaca. Selain itu saya tergila gila dengan karya Andrea Hirata, salah satu putra terbaik yang dimiliki negeri ini. Buku bukunya memberikan semangat luar biasa untuk benar benar mencintai negeri ini sekaligus harapan untuk mencicipi hidup di rantau di luar sana. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah, Cinta dalam Gelas dan Padang Bulan. Terutama Edensor, saya tertawa, menangis dan terpukau membaca ceritanya dengan begitu khusyuknya. Semua kata kata yang memesona, semua tempat yang disebutkan di dalamnya berbau petualangan yang menarik hati. Andrea semakin membakar semangat saya untuk

Dalam hati, saya ingin menikmati hidup menjadi turis suatu saat nanti. Masih banyak tempat indah yang belum dikunjungi. Indonesia dengan begitu cantiknya, dan dunia di luar sana yang menunggu untuk dikunjungi. Entah dengan siapa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s