Menakar Kesepakatan Dengan Waktu : Masa Depan

Suatu ketika saya terlibat pembicaraan dengan salah seorang teman saya di suatu senja ketika kita makan bersama, satu hari sebelum bulan puasa. Kita membicarakan tentang kemungkinan masa depan. Klise mungkin. Tapi topic yang sebenarnya menakutkan untuk diresapi.

Mungkin orang akan bilang bahwa orang orang dengan prestasi tinggi, oke, katakanlah nilai Ujian Akhir yang baik atau IP tinggi. Kemudian ia mengikuti kegiatan misalnya ekstrakurikuler atau unit kegiatan mahasiswa. Tidak hanya itu, ia juga menggunakan waktunya untuk mengikuti serangkaian kepanitiaan. Orang mungkin akan bilang bahwa ia adalah orang berprestasi. Ya, bisa. Ia telah menggunakan waktunya untuk hal yang baik. Orang mungkin juga akan bilang bahwa ia mungkin saja akan cepat mendapatkan pekerjaan, syukur syukur yang bersalary tinggi. Ya, mungkin saja.

Tapi ingatlah bahwa semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencoba sesuatu, terutama peruntungan dalam pekerjaan. Orang yang mendapatkan kesempatan untuk mengecap bangku sekolah di sebuah sekolah elit bisa saja berharap untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Tapi terkadang apa yang tertulis dalam rapormu belum tentu bisa mengantarkanmu pada apa yang kamu impikan. Jika saja kita merasa hebat karena nilai dalam buku merah, hijau, biru apalah namanya itu atau dalam selembar surat sakti bernama transkrip, tentu saja kita patut instrospeksi. Apalah arti sebuah nilai?. Kita bisa bilang bahwa kita memiliki bukti prestasi akademik yang tinggi dengan Indeks prestasi kumulatif yang cumlaude. Selain itu, apalah arti dari sederet prestasi nonakademis seperti perlombaan, kepanitiaan, organisasi. Tidakkah kita ingat bahwa ada ribuan orang disana yang memiliki hal yang sama seperti yang kita miliki? Teman satu kelas, satu angkatan, senior, junior, teman beda angkatan, teman beda sekolah, teman jauh di sekolah di luar sana. Banyak sekali kemungkinannya. Dan karena itu, kita tetap mendapat kesempatan yang sama besarnya dengan mereka yang memiliki hal yang sama tingginya dengan kita.

Suatu ketika saya duduk bersama seorang teman yang saya anggap culun. Oke, nakal memang kalau saya bilang dia culun. Tapi memang kenyataannya begitu. Dia terlalu menganggap dunianya adalah dunia akademis dengan hanya mengejar akademis. Dia pernah bilang saya kaku padahal dia sendiri tidak sadar bahwa dia sendiri juga kaku, terlalu larut dalam dunianya. Terlalu akademis sampai sampai tidak memikirkan lagi bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain dengan lebih santai. Dia meminjam Blake untuk melihat portal dan sayangnya lupa untuk melogout portalnya tersebut. Saya pun tidak sengaja untuk melihat prestasinya yang terpampang di laman chrome. 3,9. Kece. Saya cuma bengong. Seumur umur, saya belum bisa mendapatkan yang segitunya. Tapi kemudian saya menakar. Mungkin dia bisa saja mendapatkan pekerjaan sebagai dosen atau apalah. Dan memang mungkin tujuannya hanyalah bagaimana ia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam hidupnya. Well, for me that’s boring. You have a precious moment to live, so why you just only care for your own business. Hidup itu dinikmati. Ada banyak petualangan di dalamnya. Mengapa tidak hidup dengan sedikit mengambil resiko di dalamnya?. Bukan hanya resiko ketika kita memutuskan untuk bepergian tapi juga dengan moment moment lainnya misalnya dengan memutuskan suatu hal yang sebenenarnya buat untuk kita. Itu pun sebenarnya sudah sangat beresiko dan kita ditantang untuk menjadi pengambil keputusan.

Teman saya yang lain, nilainya hanya sedikit dibawah teman saya yang culun tadi. Tapi ia bisa bergaul dengan siapapun, dalam kondisi apapun dan dalam keadaan apapun. Seseorang yang bisa menempatkan dirinya dengan baik. Pintar tapi nggak melulu harus memikirkan keadaan akademisnya. Toh nyatanya nilai tinggi tidak hanya dimiliki oleh orang orang yang kaku. Saya suka orang orang seperti ini. walaupun jujur sebenarnya terbersit rasa iri karena bagaimana ia bisa dengan santai melangkah seperti tidak ada beban tapi tanggung jawab secara akademis maupun non akademis masih tetap berjalan dengan indahnya. Saya iri sekaligus bangga memiliki teman seperti itu. Bisa jadi contoh bahwa hidup itu indah asal kamu bisa memutuskan bagaimana kamu harus melangkah.

Di lain kesempatan saya bertemu dengan salah seorang senior yang cukup sukses. Ia bisa bekerja di sebuah korporat. IP nya mungkin tidak terlalu tinggi, tapi ia bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja disana. Yang lain, membuka bisnisnya sendiri dan sukses.

Di suatu hari, saya mengobrol dengan salah seorang teman yang lain. Ia menceritakan kakaknya yang hingga saat ini belum bisa mendapatkan pekerjaan walaupun ia lulus 3,5 tahun cumlaude. Walaupun ia juga sudah mengikuti berbagai kegiatan dan segudang prestasi lainnya. Oke dia sudah menjalani kehidupan sebagai apa yang mungkin orang bilang sebagai ‘berprestasi’. Lalu, apa yang salah kemudian?. Di titik ini saya merasa bahwa terkadang nilai dan prestasi lain bukan menjadi jaminan seseorang untuk sukses di kemudian hari. Bahkan saya mulai agak sinting dengan menanyakan sebenarnya arti sukses itu apa? Punya uang banyak? Mapan dengan pekerjaan tetap? Punya pendamping yang serasi? Punya keluarga sempurna? Bisa jalan jalan kemana mana? Atau apa? Ah, entahlah. Lama lama makin nggak waras saja saya.

Pada beberapa kesempatan, beberapa senior saya membagi kisahnya. Mas Erwin, salah seorang senior jauh memberikan kami refleksi melalui cerita beliau. “Tidakkah kalian sadar bahwa kadang orang mengambil s2 hanya untuk pelarian. Mereka kehilangan status dari seorang mahasiswa dan memilih untuk melanjutkan status mereka menjadi seorang yang belajar lagi.”. Di satu sisi mungkin beliau benar. Akan tetapi jika ada kesempatan, mengapa tidak?. Apalagi jika itu beasiswa luar negeri. Ah, entahlah. Tergantung perspektif masing masing orang juga sih. Saya merenungi. Seperti halnya anak SD yang melanjutkan ke SMP sebenarnya karena mereka belum siap untuk dilepas menjalani hidup. Terlalu dini untuk terjun ke dalam lautan bebas kehidupan. Begitupun SMP ke SMA atau SMA ke Kuliahan. Masih terlalu dini untuk merasakan asinnay lautan hidup sehingga mereka mencelupkan diri lagi ke dalam sebuah hal bernama : belajar.

Sialnya semakin elit tempat seseorang untuk belajar, maka tuntutannya juga semakin meninggi. Entah jaket apa yang kalian punya, tetaplah orang orang di sekitar kalian menuntut tinggi pada apa yang kalian lakukan. Entah apapun itu, mereka selalu ingin kalian melakukan sebaik mungkin. Dianggap selalu bisa padahal kalian juga manusia biasa. Mungkin bisa salah dalam ucapan maupun perbuatan. Tapi diluar itu semua sebenarnya yang paling menjadi beban adalah bagaimana membagi apa yang sudah didapat. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi tidak serta merta dengan mudah didapatkan oleh semua orang. Mereka adalah orang  orang beruntung yang mendapatkan kesempatan luar biasa itu. ingatlah bahwa orang orang yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya ke surga. Orang orang yang diberi kesempatan itu adalah orang orang yang diberi beberapa derajat lebihnya dibandingkan dengan orang orang yang belum atau tidak mendapatkannya. Dan sebuah kesempatan haruslah bermanfaat juga untuk orang yang belum atau tidak mendapatkannya. Sukses yang saya inginkan adalah ketika saya bisa membagikan apa yang sudah saya dapatkan selama ini untuk orang lain. Sukses adalah ketika saya bisa melakukan kebaikan dan apa yang saya bisa lakukan untuk orang yang membutuhkan. Melihat orang orang di sekitar saya tersenyum dan berbahagia. Klise mungkin, tapi mungkin inilah yang harusnya dipikirkan. Uang, jika dikejar tidak akan pernah akan ada habisnya. Ingatlah, bahwa rejeki, jodoh, mati sudah ada jalannya. Seperti halnya Sudjiwo Tedjo dulu pernah bilang dalam sebuah seminar bahwa kita tidak perlu kaya. Asal di setiap kita membutuhkan, selalu ada apa yang kita butuhkan tersebut. Iya, saya setuju dengan anda, Mbah.

Pada akhirnya saya hanya bisa bilang bahwa entah bagaimana masa depan saya nanti. Semua masih rahasia, tapi setiap mahluk sudah diatur jalan rejekinya bukan?.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s