Nostalgia Masa Pasaran

*Judul diatas jangan diplesetin jadi nostalgia masa pacaran ya, ingat, pasaran. P a s a R an. Bukan pacaran. Haha.

Ide gila untuk melakukan berbagai hal antri beruntun dalam pikiran sampai sampai Nur mengingatkan saya untuk memilih satu satu agenda tersebut (yang penting pelan pelan kelaksana kan? hehe). Saya ingin pergi kesana kesini,  melakukan hal ini itu bersama teman teman. Agenda masak bersama adalah salah satu dari planning kami. Planning sempurna untuk mengisi hari di tengah penatnya kegiatan.

Agenda memasak, sahur dan berbuka puasa bersama di tempat Ratna urung dilaksanakan karena ada agenda yang harus dikerjakan sebelumnya. Maka jadilah kami ngebet untuk melakukan di hari rabu ini. selasa siang saya mengirim pesan ke beberapa orang untuk mengajak mereka masak. Sorenya kami berkumpul untuk membicarakan. Sempat ada miskom kecil diantara saya dan Fitri. Akan tetapi akhirnya semua lancar.

Ini bukan pertama kalinya kami memasak bersama. Saya biasanya malah masak bersama dengan Nur di tempatnya. Sembari mengurus keong, kami masak makanan untuk kami makan sendiri. Bahkan kalau tidak salah, kami baru memasak bersama sekitar dua minggu sebelumnya. Priyok yang kebetulan main, juga ikut mencicipi masakan kami yang parahnya ancur banget. Saya pikir teman teman saya ini bilang enak pada masakan yang kami buat hanya untuk menyenangkan saya. Tapi nyatanya memang rasanya tidak terlalu parah. Akhirnya kami berencana untuk membuat forum memasak dengan melibatkan lebih banyak orang. Kami suka memasak!. Haha.

Hari Rabu pagi, saya dan Priyo pergi ke pasar. Bering menjadi tujuan kami. Saya yakin dia tidak pernah ke pasar. Lebih tepatnya tidak pernah meluangkan waktu ke pasar. Ya maklum sih, dia laki laki. Laki laki memang jarang pergi ke pasar. Saya yang perempuan ini melangkahkan kaki ke sudut sudut pasar dan tentu saja dia tidak hanya berdiri di luar. Dia pun harus mengikuti saya masuk ke pasar. sayuran, bumbu, dan bahan bahan lain sudah bisa terbeli. Hanya setengah jam. Tidak perlu lama lama. Tidak baik untuk psikologis dia. Kalau saya mah di pasar lama lama masih bisa santai, tapi tidak dengan laki laki. Mereka akan melihat yang penting yang akan dilakukan kemudian pergi. Daripada dia bosan mengikuti saya keluar masuk pasar mendingan saya akhiri kegiatan memilah dan memilih bahan (yang sialnya baru saya tahu di akhir bahwa saya lupa membeli beberapa bahan).

Kami menuju tempat Nur untuk menitipkan bahan bahan. Saya ada urusan lain dan Priyok yang mau sarapan, kami pun meninggalkan tempat tersebut satu jam kemudian. Kami baru bertemu lagi pukul 2 siang di rumah Fitri.

Ketemu dengan dapur, saya segera membuka plastik dan memotong terong menjadi potongan sedang. Saya meminta Priyo, Nur dan Fitri untuk membantu juga. Kami semua berbagi tugas. Ada yang mengupas bawang merah bawang putih, ada yang memotong sayuran, menyiapkan alat dan berbagai keperluan memasak lainnya. menu pertama yang kami coba selesaikan adalah terong sambal. Disela menanak terong, saya menaikkan air untuk dijadikan sup sayuran. Bahan bahan masuk dan jadilah sup bening. Kemudian menggoreng tempe. Fitria menyiapkan bahan bahan untuk tempe dan Priyok yang menggoreng karena Fitri harus menyekar ke makam ibu bersama mbahnya. Nur bertugas untuk menghaluskan cabai untuk dijadikan sambal dengan ikan teri. Sambal mentahan selesai, maka saatnya untuk mengolahnya di atas api. Priyok menumis bumbu dan terong. Sekitar setengah jam kemudian jadilah terong sambal dengan rasa yang bisa dibilang terlalu manis menurut saya. Ini salah saya karena saya terlalu banyak memasukkan gula jawa. Tadinya sudah pas, tapi gara gara saya masukkan gula jawa satu sendok makan lagi, maka sambal jadi terlalu manis. Mana Priyok bilangnya enak enak aja. Padalah terlalu manis. Haha. Sayang sekali Nur dan Fitri sedang berpuasa sehingga mereka tidak bisa mencicipi masakan.

Sup dengan bakso dan macaroni di dalamnya sudah mendidih tapi bodohnya terlalu matang. Saya terlalu lama membiarkan sayuran di dalamnya sehingga terlalu empuk. Tempe juga sudah matang, dan baik baik saja walaupun kami membuatnya terlalu banyak. Terakhir, sambal. Siapapun tidak akan heran jika saya akan menggunakan semua cabai untuk membuat sambal. Jelas sekali bahwa saya memasukkan hampir semua cabai dan berbagai macam bahan di dalamnya untuk membuat sambal. Tidak lupa teri juga masuk ke dalam pasta sambal tersebut. Tapi kesalahan saya adalah lupa bahwa ikan teri sendiri sudah asin sehingga saya memasukkan lagi garam ke dalamnya. Hasilnya? Asin bingits. Solusinya? Saya harus memasukkan gula lebih banyak dari yang seharunya. Hasilnya? Lumayan lah. Tidak terlalu buruk.

Acara masak memasak selesai pukul lima sore. Pas dengan yang saya sudah perkirakan sebelumnya. Bisa dibilang kami memasak kurang dari tiga jam. Mulai pukul 14.30 an selesai pukul 17.00 an. Setelah menata makanan di meja, kami menunggu beberapa teman yang mampir dalam acara makan malam bersama ini. Menuju maghrib, Sugeng datang. Kemudian dua puluh menit kemudian Ratna, Liana dan Dwi datang. Saya agak kecewa ada beberapa yang tidak datang. Endah batuk. Husein? Jika Endah tidak datang, tentu saja kita harus berpikir bahwa Husein juga tidak datang. Dani? Ah entahlah. Tidak ada pesan saya yang dia balas sejak kemarin. Rizal? dia ada rapat. Kemudian kami mengambil piring dan menikmati makanan hasil eksperimen ini. Rasanya? Jangan ditanya. Kece. Walaupun rasanya kebalik balik, ada yang terlalu asin, terlalu matang dan agak kurang menarik, setidaknya cukup enak dan mengenyangkan. Saya senang melihat teman teman makan dengan lahapnya. Bahkan ada yang nambah. Berarti apa yang kami masak ini tidak terlalu buruk. Cukup layaklah untuk disebut sebagai makan malam.

Kalau begini saya jadi ingat masa kecil saya dulu dimana saya pun sudah main pasaran. Bersama teman teman, saya memasak masakan yang entah rasanya bagaimana. Masakan yang bohong bohongan dibuat dari bunga bungaan, daun dan tanah dengan peralatan memasak milik teman (orang tua saya tidak pernah membelikan saya permainan pasaran. Mereka lebih suka membelikan saya topi atau permainan ular tangga). Masak yang sedikit beneran dibuat dengan tambahan minyak, gula, garam dan dimasak dengan api yang terbuat dari botol kratingdaeng yang diisi dengan minyak tanah. Saya masih ingat dimana membuatnya. Di halaman langgar kecil belakang rumah saya yang lama, dulu sekali. Itupun saya tidak berani mencicipi. Kemudian lambat laun saya belajar untuk memasak. Kadang saya harus menyiapkan makanan sendiri ketika memang tidak ada makanan tersisa. Minimal bikin mi lah atau nanak nasi (kami tidak memasak nasi pada magic jar. Kami masih menggunakan metode tradisional dimana kami menggunakan dandang dan memasak menggunakan kayu bakar).Di hari raya, saya dan saudara saya menumbuk bumbu yang segitu banyaknya untuk dijadikan masakan. Kalau boleh jujur, masakan saya juga masih ancur banget. Rasanya masih parah. Masih nggak bener. Tapi yang namanya prose situ adalah sebuah yang pasti. Harus dilakukan, entah bagaimana caranya. Belajar adalah sebuah kewajiban. Dan saya suka untuk belajar memasak. Dan hari ini, seperti mengulang kembali masa masa memasak bersama dulu, entah bersama teman maupun bersama keluarga. Perbedaannya adalah jika dulu saya memasak karena bermain pasaran, sekarang masak beneran. Persamaannya adalah kebersamaannya. Saya senang memasak dengan orang orang tersayang.

Kami baru pulang pukul 21.30. Saya bangun pukul 06.00 pagi, kemudian bersiap siap dan memasak nasi. Saya membawa pulang sayur terong semalam dan sambal yang kemudian saya jadikan lauk pagi saya kali ini. rasanya? Uhm… masih enak banget kok. Nyammm.

Saya ini perempuan. Saya suka memasak. Saya suka berhubungan dengan dapur. Masih ada satu cita cita yang saya tulis dalam list saya bahwa suatu saat saya ingin memiliki usaha kuliner saya sendiri. Usaha kuliner bersama saudara-saudara atau mungkin teman-teman yang akan saya turunkan ke anak cucu. Apa itu? entahlah. Masih harus dipikirkan. Entahlah, bagaimana caranya. Semoga Tuhan mendengarkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s