Plesiran Ke Pegunungan Utara

Perjalanan saya kali ini dimulai dari debat pagi pagi buta seusai perform di Balairung. Salah satu teman mengajak pergi main main sebelum puasa. Saya belum mengiyakan akan ikut atau tidak pada saat itu. saya memikirkan bahwa akan ada beberapa anak yang mungkin saja tidak ikut besok. Ratna, Liana, Dani tidak mungkin ikut karena mereka harus pergi ke Kebumen. Lagipula anak anak lain belum tentu akan ikut karena rencana ini sangat mendadak. Saya belum bisa tidur usai perform tersebut. Baru akan tidur pukul 3 pagi.

Di pagi buta itu saya berdebat ringan mengenai rencana ini. Saya sebenarnya hampir tidak ikut karena saya jujur sangat lelah. Apalagi akumulasi jam tidur saya yang kurang membuat badan serasa ingin segera memeluk kasur. Tapi pesan dari nur membuat saya kaget. Mereka berdua (Priyok dan Nur) sudah menentukan bahwa mereka akan pergi ke Kali Pancur. Hah, sial, mengapa disana. Itu dekat dengan rumah. Mereka sudah fix dan saya tetap mengusulkan untuk pergi ke selatan, ke pantai selatan. Tapi mereka benar benar sudah fix. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut karena saya dekat dengan destinasi yang akan dikunjungi besok. Sebagai tuan rumah, saya hanya ingin menyambut tamu jauh. Senang rasanya ada yang berkunjung.

Sialnya saya yang meminta untuk pergi seperti biasa, pukul 6, ternyata malah bangun pukul 06.30, begitu juga dengan mereka. Sayang sekali hanya ada kami bertiga. Padahal kalau rame rame pasti lebih seru. Pukul 07.30 kami berangkat. Nur menjemput saya dan kemudian kami bergegas menuju tempat Priyo.

Perjalanan dimulai di hari cerah, melewati daerah Magelang. Kami berhenti sejenak di jalan sekitar Ngablak dan Kopeng untuk menikmati pemandangan kebun sayur dan pegunungan di kanan kirinya. Pukul 10.00 kami berhenti di sebuah kedai. Menu lontong opor siap disajikan. Disinilah letak kocaknya. Ketika membayar, mereka berdua tertegun karena penjualnya mengatakan bahwa harganya empat puluh dua. Mereka mengira bahwa harga yang harus dibayarkan satu orangnya sebesar empat puluh ribu ditambah dua ribu yang sebenarnya maksudnya adalah satu orang masing masing membayar dua puluh ribu rupiah. Kemudian mereka meluruskan dan akhirnya satu orang ternyata hanya membayar dua puluh ribu rupiah. Keluar dari tempat itu, mereka tertawa cekikikan sekaligus kesal. Kemudian kami membandingkan dengan ayam kampung bakar yang pernah dibeli ketika berlibur ke Wediombo dulu. Ah, sudahlah, yang penting empat puluh dua *mlipir. Haha

Ternyata kami berada di jalur yang benar. Rumah makan yang kami tuju tadi terletak di dekat persimpangan jalan menuju destinasi kami kali ini. Jalan menuju Kali Pancur tinggal dua kilometer lagi. Jalanannya sudah bagus karena terletak di dekat pemukiman warga.

Dengan membayar tiket sebesar dua ribu rupiah dan parkir seribu rupiah kami sudah bisa masuk objek wisata ini. kalau boleh berkomentar, pengelolaannya masih amburadul. Tiket yang kurang tertata, tempat yang tidak dibersihkan, kamar mandi yang kurang diperhatikan kebersihannya. Tapi jalan menuju air terjun sudah dikelola dengan baik. Kami menuruni ratusan anak tangga yang saya hitung kami menuruni bukit setinggi 700 meter lebih dan kami sudah berjalan kurang lebih satu kilometer untuk mencapai air terjun tersebut.

IMG_9564

Nampak jauh

Pemandangan alam rupanya bukan hanya yang menjadi pemandangan utama disana. Kami bertiga melihat sepasang kekasih, si laki laki berusia dua puluhan sedangkan si perempuan masih kisaran delapan belasan yang dengan tololnya pacaran di tempat sepi seperti ini. Tempat sepi, rawan terjadi kejahatan. Mana pose mereka jelek banget pula. Yang cowok mangku yang cewek. Nur dengan nakalnya menyindir pasangan yang dimabuk asmara tersebut. Dia bilang “kasihan kalau cuma jadi sampah”. Dan saya hanya tertawa.

IMG_9589

Cinta monyet yang memabukkan sekaligus tontonan

Kami turun ke air terjun dan menemukan ada sekelompok anak SMP dengan pengajar pramuka mereka rupanya sedang melakukan bersih-bersih setelah mungkin berkemah selama semalam di tempat itu. Disini saya pun melihat pemandangan yang tidak kalah lucunya. Sepasang remaja usia nanggung, asyik berfoto prewedding. Rupanya mereka anak anak yang sedang dimabuk cinta. Saya hanya ikut mengabadikan moment tersebut sambil tersenyum. Alay sih, tapi saya menganggap itu sebagai hal yang lucu. Yah, saya cuma berharap kalian berjodoh.

Kami hanya sebentar disana. Tidak sampai satu jam untuk menikmati dinginnya butiran air yang terhempas dari air terjun. Kami bergegas naik kembali. Perjalanan naik sungguh melelahkan. Kali ini kami naik dengan agak susah payah. Untungnya pengelola air terjun ini cukup cerdas dengan menyediakan anak tangga yang memudahkan pengunjung untuk bisa naik ke atas lagi. Saya tidak bisa membayangkan betapa repotnya orang-orang naik dan turun ke air terjun sebelum tangga dibangun. Belum lagi jalan yang berbahaya dan curam.

Sesekali kami berhenti mengusir rasa lelah. Karena hari sudah siang, kami segera mencari mushola terdekat di sekitar sana. Air dingin merembes membasahi kulit. Dingin memang. Tapi air pegunungan itu membuat saya tersenyum. Sudah lama tidak merasakan air gunung.

Kami segera turun ke kota. Sebelum kami mampir ke rumah, saya mengajak mereka untuk survey ke Rawa Pening. Sebuah danau besar yang ada di timur kota. Jika di Skotland, orang mengenal Loch Ness, maka di sini kami mengenal Baruklinthing, naga dalam mitologi jaman dahulu. Sayang saya tidak mau naik ke Bukit Cinta, karena kami dikejar waktu. Nur harus pulang karena ia ada acara usai magrib nanti. Untuk itu saya harus memerkirakan bahwa kami tidak mungkin berlama lama karena ittirenary nya tidak memungkinkan untuk berlama-lama. Jadi teringat pengalaman saya sebagai guide dulu, jika menemui kondisi waktu yang tidak memungkinkan untuk berkunjung, berarti harus mengorbankan salah satu agenda agar agenda lain tidak ikut dikorbankan. Maka kali ini saya memilih untuk tidak mengikutkan Rawa Pening sebagai tujuan kami terlalu lama. Mereka berdua sebenarnya ingin naik ke bukit itu, tapi saya tidak mau karena hanya sebentar saja disana. Jika hanya lima belas menit, ngapain juga kesana. Mendingan waktu cuaca-cerah saja.

Acara berlanjut ke rumah. Kami sampai setengah tiga sore. Peluk dari orang rumah benar-benar pereda lelah yang paling efektif. Obat terbaik sepanjang masa. Saat ini saya bukan lagi turis, saya adalah tuan rumah. Kami memersilakan tamu kami masuk ke kediaman kami yang imut imut. Kami ngobrol, melepas lelah setelah seharian keluyuran kemana mana. Sampai setengah lima, adik Nur menelepon memintanya pulang karena kakeknya masuk rumah sakit. Usai solat baru kami pulang. Sialnya jalan raya Solo- Semarang mengalami macet. Tidak parah sih, tapi kendaraan cukup mengular karena arus weekend, apalagi saat ini adalah musim orang nyekar di kampung.

Kami berpisah di jalan klaten. Ia harus pulang ke rumah dan saya serta Priyo harus pulang ke kamar masing masing. Menjelang isya, hujan turun. Kami kehujanan dan memutuskan untuk ibadah dulu sebelum pulang. baru pukul 8 malam kami bisa sampai ke kamar masing masing. Perjalanan kali ini mengesankan. Mendadak, nekat, dan ini sih bukan plesiran. Tapi nganterin saya pulang. Anyway thank you teman teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s