Dalam Rasa yang Kelam

Pernah terluka? Pernah suatu ketika. Tapi kemudian di saat yang menyakitkan itu, terus merasa terluka bukan merupakan sebuah alasan untuk bertahan. Hidup ini terlalu menyenangkan untuk dilewati hanya dengan rasa sakit. Terlalu miris untuk menyerah begitu saja.

Pernah berpikiran untuk bunuh diri? Pernah suatu ketika. Tapi kemudian di saat yang masih labil itu, bunuh diri bukan merupakan sebuah alasan bahwa kamu bisa lepas dari sesuatu. Hidup ini terlalu indah untuk dilewati begitu saja. Terlalu cengeng untuk menyerah begitu saja.

Suatu ketika hal itu terulang lagi, tapi dalam dimensi yang berbeda, di waktu yang tidak sama. Seseorang merasa bahwa tidak ada gunanya ia hidup lebih lama lagi. Rasanya sayatan yang sama pun tidak akan pernah membuatnya berpikiran bahwa hidup ini pantas untuk dilanjutkan. Bagaimana sulitnya membujuk orang orang seperti itu untuk sekedar tenang dan melihat sekelilingnya dengan lebih jernih. Mereka hanya takut. Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman bahwa kita akan diuji dengan sedikit ketakutan. Takut adalah hal yang mungkin terdengar sepele tapi kamu akan tahu bahwa ketakutanmu itu bisa merusak sebagian dari kehidupan kita. Mungkin klise tapi tidakkah kita ikut tersayat ketika orang yang kita sayangi memilih mati demi sebuah hal yang ia takuti, yang mungkin saja ada jalan keluarnya. Disini psikologis sangat berperan. Saat itu manusia dituntut belajar untuk sedikit mengurangi emosi karena ini persoalan yang tidak bisa begitu saja didiamkan.

Bagaimana jika kamu melihat dengan sendirinya, mendengar dengan sendirinya kata kata pilu. Rasanya air mata tidak bisa dibendung dan hati ikut tersayat mendengarnya. Sudah lakukan segala cara, tapi belum juga bisa menyadarkan. Rasanya dendam ratusan tahun pun tidak akan sanggup untuk membayar satu hal : sebagian memori yang hilang. Rasanya jika mereka semua sekiranya bisa dibunuh semua, apakah itu menyelesaikan masalah?. Sekiranya jika mereka dibunuh, mereka tetaplah mati sebagai bajingan keji yang tak berkesudahan. Melukai jiwa jiwa murni yang tak sedikitpun mencoba melukai mereka. Tetaplah jiwa yang hilang tidak akan bisa diganti kembali. Ada memori yang hilang, ada peluh yang menetes sederas tangisan tak bersuara. Ada luka yang menganga yang tidak akan pernah bisa ditutup dengan sempurna. Jika kesempatan yang sama bisa diulang kembali, hanya satu pinta padaNya. Tak akan diijinkan masuk ke pintu yang sama. Mereka lupa bahwa mereka tidak hanya melukai satu jiwa. Tapi beberapa lainnya. Menyeret pada luka yang tak akan pernah sembuh walaupun waktu mencoba perlahan untuk membasuhnya. Ingatlah bahwa dendam tak akan pernah habis jika tak mencoba berdamai dengan ego masing masing. Tapi tetaplah, luka tak akan pernah sembuh. Tak akan pernah terlupakan. Ingatlah nanti suatu saat kan bertemu di alam sana. Jangan pernah tanyakan mengapa kalian dituntut untuk sesuatu : melukai jiwa jiwa murni. Apa yang terucap di bibir tidak akan tertahan karena terlalu keji untuk membalas dengan kutukan. Terlalu sadis untuk membalas dengan hal yang sama kejinya. Bukan seperti mereka. Bukan. Jiwa jiwa yang lebih suci, tenanglah. Biarkan waktu yang membalas. Biarkan Ia yang membalas. Meremukkan jiwa mereka berkali lipatnya remuk jiwa yang terluka saat ini. Tidakkah mereka sadar bahwa setiap hal mempunyai karmanya masing masing. Dan ingatlah ketika karma yang didapat ratusan kali lebih menyakitkan daripada kalian yang melakukannya saat pertama.

Maaf, dimaafkan, termaafkan dan yang tersulit : memaafkan. Luka yang tak akan sembuh mungkin saja tak akan membuat manusia memaafkan karena beban terlalu berat untuk dilepaskan begitu saja. Selalu ada harga yang harus dibayar. Karena ego manusia yang setinggi langit. Tapi ingatlah bahwa hati adalah sesuatu yang rapuh. Tak pernah akan ada gantinya jika hati terluka. Luka dalam yang menggores, menyayat, mendalam. Tak akan pernah termaafkan untuk mereka yang menyakiti hingga seperti itu. Tapi jika ini memang takdir untuk menguatkan, takdir untuk meninggikan. Karena tidak semua hal bisa dimaknai sebagai cobaan. Ini mungkin ujian. Tergantung kemana angin membawa perasaan. Jika percaya bahwa semua hal adalah percobaan, maka sampai kapanpun akan merasa bahwa hidup terlalu sial. Tapi jika bisa memandang bahwa ini adalah ujian, maka yakinlah bahwa hati akan sedikit lebih ringan. Menghapuskan air mata yang sudah berbaris di pelupuk dan menarik senyum di wajah yang tersaput mendung. Dan ingatlah ketika Tuhanmu bersabda bahwa mereka yang berusaha dan berserah diri pada ujianNya akan diberi beberapa derajat lebih tinggi. Maka perlahan, berusahalah untuk melepaskan beban. Perlahan saja. Tidak perlu cepat cepat karena ada setiap jiwa memerlukan proses yang berbeda. Karena setiap jiwa membutuhkan waktu yang berbeda. Sembuh bukanlah hal yang mudah. Perlahan saja. Maka, satu hal saja. Teruslah berusaha untuk menguatkan hati dan berserah diri padaNya. Karena ada yang lebih berkuasa di luar sana : Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s