Saya dan Gamelan

Part I

Tidak terasa sudah lebih dari setengah tahun saya dan teman-teman berproses di Balai Budaya Minomartani. Iringan nada demi nada satu demi satu dipelajari. Ini bukan pertama kalinya saya mencoba bermain musik. Sebelumnya pernah sekali dua kali mencoba bermain musik tradisional ketika saya masih kecil sampai masa sekolah.

Awalnya penggagasnya adalah senior saya, Mbak Maria dan kawan kawan yang memiliki niatan kuat untuk belajar musik tradisional. Kemudian dari tahun ke tahun suksesi diturunkan agar keinginan untuk melestarikan kebudayaan bangsa ini tidak hanya terhenti di tahun mereka saja.

Jika ditanyakan apa motivasi saya untuk bergabung dengan Prasasti dan belajar musik gamelan, saya hanya akan menjawab dua kata : niat belajar. Saya tidak peduli dengan performing arts. Semua akan ada waktunya. Jikapun saya tidak menjadi penampil, menurut saya tidak masalah karena bukan itu esensi yang saya inginkan. Sama seperti ketika saya belajar menari, saya tidak peduli untuk tampil. Saya bukan orang panggung. Saya bahkan lebih kepada behind the scene. Saya hanya ingin menguji diri, sejauh mana saya bisa belajar, sejauh mana bisa mengenali intisari yang diberikan dan yang tepenting adalah mengalahkan ketakutan dalam diri saya bahwa saya tidak bisa melakukan sesuatu yang baik. Soal tampil atau tidak, itu urusan belakangan. Saya juga tidak menjadikan alasan saya belajar kebudayaan untuk mengejar sesuatu semisal untuk melamar sesuatu. Jika kamu bisa lolos sesuatu karena sesuatu lainnya, itu bonus.

 Alasan kedua adalah, Indonesia adalah negeri saya. Saya sudah lama tinggal di Jawa. Saya seharusnya tahu kebudayaan daerah. Saya harusnya melestarikan budaya Jawa yang diturunkan dari nenek moyang terdahulu. Warga asli Indonesia masak sih nggak ngerti kebudayaan sendiri. Dan sekarang ketika saya mendapat tawaran untuk belajar dengan salah seorang guru terbaik, Mas Nanang, Mengapa harus disia siakan?. Beliau adalah salah seorang yang memiliki skill bermusik sangat hebat. Saya beruntung bisa belajar langsung dan berproses dengan beliau.

Saya merasa hubungan dengan senior senior mulai terjalin. Kalau boleh jujur, dari perspektif saya dulu, saya melihat mereka seperti jauh. Entah memang kami yang tidak mau mendekatkan diri karena merasa canggung sebagai junior atau mereka yang memang jauh. Tapi setidaknya lewat ajang ini, kami jadi dekat sekarang. Sebagai sebuah keluarga.

Bicara masalah skill saya, jangan ditanya. Kacau minta ampun. Mau diajari berapa kali, masalah terbesar saya ada pada tempo. Instrument pertama saya disini adalah peking. Membacanya jangan seperti membaca nama sebuah kota di China. Tapi huruf e seperti pada kata pergi. Peking adalah sebuah bagian dari balungan yang paling kecil dan memiliki lengkingan nada yang paling tinggi. Nada yang saya ketuk tidak pernah selaras dengan lainnya. dari peking, saya move on ke saron. Kelebihan dari saron adalah, karena instrument tersebut berjamaah, maka ketika kamu ada kesalahan, selama tidak terlalu fatal maka permainanmu akan baik baik saja karena sudah ter-counter dengan balungan lain. Kemudian saya pindah ke slenthem, sebuah instrument dengan dentum halus dan mendalam. Mbak Alva pernah bilang bahwa slenthem adalah penjaga tempo. Mau tau tempo saya? Ancuuuuuur. Saya selalu menghela napas setiap kali selesai bermain slenthem. Lagi lagi masalah tempo. Saya bukannya tidak berusaha. Sangat berusaha. Tapi mungkin memang harus lebih berusaha keras lagi. PR besar untuk diri saya sendiri.

Alat musik yang belum pernah saya coba antara lain bonang (Oh, no. saya tidak ingin mencoba bonang. Saya sudah bermasalah dengan bonang di awal saya disini. cukup), kempul (mungkin suatu saat nanti tapi tidak sekarang), kenong (sama seperti kempul, saya akan mencobanya suatu saat nanti). Mungkin saya hanya akan berputar putar pada instrument balungan saja. Dengan kesalahan kesalahan yang saya buat, saya mengambil sisi positifnya saja. Saya sudah berani mencoba melakukan sesuatu walaupun belum begitu benar. Saya belajar berbagai macam instrumen, merasakan sendiri pengalaman secara langsung. Mbak Rinda suatu ketika menasihati saya. Ini bukan soal skill. Skill itu bisa diasah, tapi ini soal niat dan kemauan. Ketika sudah ada kemauan pasti ada jalan. Dan juga ini soal jam terbang. Mungkin kamu hanya belum terbiasa saja.

Peken adalah karya pertama yang kami mainkan. Peken  adalah karya asli Mas Nanang yang terinspirasi dari riuh ramainya pasar tradisional di Indonesia. Setiap dua kali dalam seminggu kami melatih diri membiasakan diri dengan ketukan ketukan pada batang batang kuningan yang menjadi instrument. Di malam tahun baru, ada kecelakaan kecil yang saya buat. Gagang pemukul peking saya patah. Mungkin pemain pemain yang bermain lebih dulu dari kami memukul peking dengan keras sehingga gagang menjadi longgar dan akhinrya patah. Saya ambil pemukul kedua, sialnya sama sama patah. Jujur, sempat kelabakan tapi untuk ada satu pemukul terakhir yang masih berfungsi dengan baik. Entah siapa orang baik hati yang meletakkan tiga gagang di dekat peking. Terimakasih.

Kami baru pulang pukul 4 pagi. Jika orang lain pulang pagi karena party, kami pulang karena party ala kami sendiri. Benar benar tahun baru yang bermakna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s