Saya dan Gamelan II

Part II

Usai proyek Tahun baru, kami diajak untuk berproses pada Kartinian. Sebagai peringatan Ibu Kartini, seorang pejuang emansipasi wanita Indoensia, BBM mengadakan Kethoprak Kartinian yang berjudul Ronggolawe. Pengambilan cerita Ronggolawe bukan tanpa musyawarah. Kami semua dikumpulkan dan dimintai pendapat mengenai apa yang akan dipentaskan. Setelah dimusyawarahkan maka diambillah kethoprakan dengan lakon Ronggolawe. Bercerita soal Ronggolawe yang gugur di medan perang karena melawan Minak Jinggo yang bermusuhan dengan Majapahit. Penata musik tentu Mas Nanang, scriptwriter sekaligus sutradara adalah Om Kisno, pemain pemainnya adalah ibu-ibu kompleks sekitar BBM.

Dua sampai tiga kali dalam seminggu kami berlatih memainkan instrument dan berlatih peran. Saya kali ini diberi kesempatan untuk memainkan slenthem. Gladi bersih, saya malahan bertambah kacau dibandingkan gladi kotor. Parah.

Selain menjadi pemain di dalam acara, kami bekerja double job sebagai panitia. Saya sendiri adalah humas. Mengurus media partner dan hal hal lain yang harus diurus oleh humas. Saya mau cerita soal yang berkesan dari humas tahun ini. Ini soal PHP. Sebenarnya di-PHP in itu biasa di dunia humas dan danus. Tapi inilah yang mau saya ceritakan berkenaan dengan acara kali ini. Ada dua pihak yang harusnya kami mintai konfirmasi mengenai kesediaannya untuk dimintai sambutan. Pihak X dan pihak Y. Nama disamarkan. Hehe.

Hampir setiap minggu saya dan beberapa teman mendatangi kedua pihak tersebut. Di pihak X, kami di ping pong. Masa setiap kali kesana, mereka harus mengecek nama kami di komputer untuk mengecek bahwa surat sudah didisposisi. Giliran kami disuruh menemui seseorang, beliau menyuruh kami bertemu dengan orang lain yang ada di ruangan lain. Sudah pergi ke ruang lain, eh, ditanyain proposal. Dengan berbagai alasan, entah itu mau ditanyakan lagi, akan dicari lagi atau akan ini akan itu, kami tidak bisa mendapatkan jawaban dari beliau beliau. Hal tersebut berlaku sampai hari hari selanjutnya. Nganti jeleh. Itu yang saya dan teman teman rasakan.

Di tempat Y, malah lucu lagi. Ratna dan beberapa teman sempat kesana. Saya menitipkan untuk menanyakan mengenai kabar mereka mau mengisi sambutan. Mereka sih iya-iya aja dan menyuruh kami menelepon mereka. Hasyim menelepon mereka di minggu minggu terakhir. Jawabannya adalah itu proposalnya yang mana ya mas? What? Damn. H-1 acara, saya dan Ratna bela belain buat datang langsung kesana karena Hasyim tidak bisa diharapkan untuk datang langsung.

Kami ketemu sama mas-masnya yang jaga di depan, yang rupanya sudah pernah ketemu dengan Ratna sebelumnya. Sesudah mengucapkan salam dan sedikit  menggunakan etika hospitality (kesal boleh tapi etika harus dijaga), tanpa basa basi langsung bilang bahwa kami sudah mengkonfirmasi melalui telepon berkali kali namun mengapa tidak ada jawaban yang jelas. Oleh masnya, oh, iya sebentar saya tanyakan. Saya menatap masnya sambil berkata, sebenarnya ada berapa yang menerima telepon. Entah masnya mendengar atau tidak saya tidak peduli. Yang penting segera kelar, karena kami juga harus bela belain merelakan waktu penting kami buat minggat dari presentasi. Ada harga yang harus dibayar sebagai jerih payah kami mengcancel agenda presentasi tersebut : harus ada jawaban pasti dari pihak Y.

Hasilnya : iya saya datang. Akhirnya. Huft. Setelah sekian lama. Tapi entah kenyataanya, semoga mereka tidak cedera janji.

Kalau boleh jujur, saya tidak siap dengan pertunjukan malam nanti. Saya masih belum siap. Tempo coy.. tempo. Mana lagi saya bermasalah dengan salah satu part bernama kinthilan. Kinthilan adalah part dimana balungan harus membagi diri menjadi pihak yang bermain bergantian. Saya kebetulan mendapat bagian yang menyusul. Huaaa. Matih. Saya bahkan sampai saat ini belum bisa menentukan dimana saya harus memulai mengetuk nada. Kalau selama latihan, saya masih bisa lirik lirik Mas Malik (Dear Mba Rinda, no offense ya. Hehe. Bukan maksud hati untuk melirik beneran. Hanya skill saja). Tapi dengan posisi demung di belakang saya, mana bisa saya main mata melihat orang lain memukul instrumennya. Saya tidak punya pegangan *nangis Bombay. Mau mendengarkan juga susah karena saya tidak bisa membedakan suara instrument yang dipukup Liana, Ai, Mas Malik, Mas Jaka atau Bagas. Sial.

Gladi Bersih saya tidak maksimal. Bahkan saya merasa masih lebih baik Gladi Kotor karena instrument yang saya mainkan masih lebih benar temponya dibandingkan saat GR. Ada sebuah kecelakaan kecil di akhir Gladi Bersih. Lutut pemain utama, Bu Rebi mengalami cedera karena terlalu dihentakkan ke lantai. Tekanan di lutut tidak bisa seimbang, jadinya ada masalah pada ototnya. Permainan sempat terhenti sejenak. Untungnya beliau masih bisa melanjutkan Gladi dan bisa tetap main di hari H.

Hari H, jujur, saya main lebih ancur dari biasanya. Saya nggak ngerti kenapa ngebleng dan rasanya waktu itu nervous. Sangat. Padahal kami sudah berlatih berkali kali untuk memantapkan hati. Musik berlalu, mengiringi drama yang disampaikan dalam bahasa Jawa. Untungnya semua berjalan lancar. Music dan seni pertunjukkan bisa berjalan singkron. Oke, anggaplah sukses. Kami berbahagia untuk itu.

Kembali ke cerita saya mengenai kedua undangan terhormat yang kami harapkan untuk bisa datang, ternyata mereka pehape. Saya sampai tidak hati pada Pembina, Ketua dan Mas koor acara karena walaupun sambutan mereka hanya sekitar 5 sampai sepuluh menit per orang, menurut saya tetap saja merepotkan karena harus mengubah susunan acara lagi gara gara mereka tidak jadi datang. Oke, lupakan mereka. Satu hal yang bisa saya petik : nanti kalau kamu sudah jadi orang penting, harap tidak pehape.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s