Hamil

Keluarga kami punya kebiasaan minum jamu. Kami punya seorang langganan jamu bernama mbak Murni, seorang wanita paruh baya yang bersolek tebal, berkaus dan menggunakan jarik serta caping setiap kali ia menjual jamunya. Beberapa hari sekali beliau mampir ke rumah kami. Suatu ketika saya seperti biasa ngobrol ngobrol sebentar. Saya iseng menanyakan rumah beliau. setelah tahu rumahnya, saya langsung terpikirkan oleh salah satu teman. Saya tanyakan langsung ke Mbak Murni apakah mengenal gadis yang saya maksud. Tanpa basa basi beliau berujar bahwa gadis itu yang hamil kemarin. Ha? Hamil? Mengandung? Punya anak?. Setahu saya dia belum menikah. Kalaupun menikah harusnya saya masuk dalam daftar undangannya. Tapi mengapa dia menikah tanpa memberikan kabar ke saya?. Tidakkah ia ingin membagi kebahagiaannya?. Pertanyaan saya terjawab ketika mbak Murni mengatakan bahwa gadis itu dihamili orang. Saya terperanjat.

Pertanyaan pertanyaan sungguh terngiang ngiang di benak saya mengenai kabar gadis itu. Saya memang sudah lama sekali tidak berjumpa. Beberapa tahun yang lalu kami masih sempat bertemu tapi tidak lagi sesudah itu. Ini bukan pertama kalinya teman teman saya hamil di luar nikah. Tapi untuk gadis ini, saya akan sangat terkejut bila kabar itu benar.

Beberapa orang bisa bilang bahwa ia bukan anak baik baik karena berteman dengan orang orang ekstrim yang mempunyai track record kurang baik. Tapi saya mengenalnya secara pribadi. Tidak dekat memang, tapi kami terkadang ngobrol panjang lebar. Saya mengenalnya sebagai pribadi yang taat pada agama, sayang pada orang tua. Ia tipe supel yang ramah pada siapapun. Tapi mengapa ia jadi begini. Itulah yang benar benar mengganggu pikiran saya. Jika temannya hamil, saya tidak akan terkejut. Tapi dia.

Dua bulan berlalu. saya tidak lagi mendengar kabar apapun dari Mbak Murni mengenai tetangganya tersebut. Saya berinisiatif untuk main ke rumah gadis itu berniat untuk bersilaturahmi dan reuni. Saya berusaha menemukan rumahnya dengan ingatan lama yang saya punya. Kebetulan kawasan tempat dia tinggal ada banyak gang yang berliku. Tidak lama mencari, saya bisa menemukan rumahnya. Beruntung, dia ada di rumah.

Ia terpaku melihat saya datang sendirian. Cepat cepat ia menghapus kekagetannya dan mempersilakan saya untuk masuk. Kami bercipika cipiki, berpelukan melepas rindu karena lama tidak bertemu. saya ngobrol panjang lebar dengan dia. “Aku hamil” dan ia tersenyum. Saya lihat perutnya, ternyata memang ia sedang mengandung. Enam bulan.  Saya tahu, ia ingin menangis. Ia sembunyikan pahit yang ia rasakan dibalik senyuman yang ia berikan di pintu itu. Saya tidak berani bertanya lebih jauh. Tidak ingin menyakiti perasaannya lebih dalam. Matanya cukup memberikan jawaban bahwa ia tidak ingin saya banyak bertanya. Saya kecewa tapi saya tidak ingin suudzon. Saya kecewa karena pendidikan agama yang pernah ia dapatkan entah dari keluarga atau lingkungannya tidak membuatnya kuat dalam berprinsip. Saya kecewa karena harusnya ia masih punya masa depan yang belum dirusak. Entah rusak karena apa atau siapa. Apakah ia sendiri yang menyebabkan rusaknya masa depannya sendiri atau ada orang lain yang merusak hidupnya saya tidak tahu. Kemudian saya pulang.

Bayi mungil yang cantik lahir dengan sehat di usia sedikit prematur. Bayi ini ternyata lahir lebih dahulu, lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh dokter. Gadis ini melahirkan sendirian, tanpa ditemani suaminya. Hanya keluarga yang menunggui dengan setia proses kelahiran cucu mereka. Saya miris.

Saya gendong keponakan kecil saya. Tubuh kecil rapuh dengan balutan bedhong yang tidak terlalu rapat dan bau bayi yang begitu semerbak membuat saya ingin menangis. Bersedih karena nasib gadis ini begitu menyedihkan. sedih karena bayi mungil yang tidak berdosa ini harus lahir tanpa ayah di sampingnya yang menungguinya turun ke dunia.

Sesudah beberapa bulan, saya berkunjung lagi. Bayi ini adalah keponakan saya. Saya adalah enciknya. Meskipun ia terlahir tanpa ayah yang sah, saya tidak ingin menganggap bayi ini anak haram. Ia adalah mahluk suci, bebas dari noda. Hanya perbuatan orang tua nya lah yang menyebabkannya ia harus terlempar dari surga. Saya menyayangi keponakan saya.

Di pertemuan entah ke berapa, tanpa saya yang meminta, gadis ini membuka cerita. Kisahnya dimulai ketika ia berkenalan dengan salah seorang pemuda yang ada di sekitar tempat kerjanya. Ia tahu bahwa pemuda itu bukan orang baik baik. Suatu hari pemuda itu menyatakan  cintanya dan sialnya gadis ini menerima. Ia sebenarnya tidak ada perasaan sama sekali namun beberapa teman meyakinkannya untuk menerima. Satu bulan dua bulan mereka jalani status mereka yang baru. Dari teman jadi pacaran. Baru menginjak bulan bulan selanjutnya, baru ketahuan kelanjutannya.

Kejadiannya tidak pernah diduga sama sekali. Gadis itu tidak pernah tahu bahwa nasibnya akan sial. Bukan keinginannya sendiri untuk melakukan hal yang ia pernah sumpahi untuk tidak pernah terlibat. Keesokan hari, tanpa perasaan, si pemuda meninggalkan gadis ini sendirian. Ia pergi dan meminta teman gadis ini untuk mengantarkan ke rumahnya. Orang tuanya curiga ada hal buruk terjadi semalam. Orang tua si gadis panik dan kalut ketika putri mereka menghilang seharian tanpa kabar. Sudah dicoba untuk menghubungi ponselnya namun tidak ada jawaban. Si gadis dan temannya berusaha untuk meyakinkan orang tua si gadis bahwa tidak ada yang terjadi.

Satu hari dua hari, seminggu dua minggu tidak ada kabar dari si pemuda. Ia menghilang bak ditelan bumi. Tibalah periode haid si gadis. Ia bertanya Tanya mengapa pada masanya, tamu tak kunjung datang. Ia khawatir bahwa ada benih yang berhasil tumbuh dalam rahimnya. Ia beli test pack untuk menguji. Apa yang ia khawatirkan benarlah terjadi. Ia mengandung.

Ia tak bisa berkata kata. Ia menangis sendirian dan perasaannya down. Tidak ada yang lebih bersedih daripada dia. Ia mencoba berbagai cara untuk menutupi. Ia takut pada orang tuanya. Takut bahwa ia akan melukai kedua orang yang paling ia sayangi. Ia tidak ingin menjatuhkan mental beliau berdua. ia minum apapun yang bisa diminum, makan apapun yang bisa dimakan untuk bisa lepas dari kandungannya. Sampai bulan ke enam, ia masih mengusahakan apa yang bisa diusahakan. Ia tahu itu dosa. Tapi tidak ada yang lebih tercabik perasaan seorang gadis muda yang tidak bisa melanjutkan masa depan seperti teman temannya yang belum mengandung. Ia takut ia akan melukai perasaan orang tuanya, ia takut jika lingkungan akan mengucilkannya, ia takut bahwa jalannya akan terhambat oleh kehadiran bayi mungil yang ia kandung. Ia takut. Sangat.

Setiap kali ia mengelak dari pertanyaan orang tuanya “kamu kenapa? Apakah kamu sakit? Atau jangan jangan kamu hamil, nak?”. Ia bisa memberikan seribu jawaban yang menenangkan. Tapi, di bulan ke enam, rahasia yang ia coba tutupi selama ini akhirnya dibukakan oleh Tuhan. Ketika ibunya membantu mengangkat baju baju di lemari si gadis, jamu jamuan yang selama ini ia konsumsi jatuh berhamburan. Perasaan ibunya seketika terhenti.

Dipanggilnya putri kecilnya itu. Dengan suara lirih ia minta putrinya untuk menjelaskan segalanya. Tangis putrinya seketika pecah. Beban yang ia berusaha untuk sembunyikan selama ini akhirnya terbuka. Putrinya menjelaskan segalanya. Ibunya tidak bisa berkata apa apa. Tidak ada marah terucap dari bibir Ibu. Hanya ada air mata yang turun perlahan dan suara tercekat tak terselesaikan. Berbulan bulan pertanyaan besar di benaknya akhirnya terungkap.

Ia hanya memberikan wejangan kepada putrinya. Di bagian ini si gadis bercerita, saya ikut bersedih. Saya begitu merasakan kekecewaan ibu gadis ini terhadap putri mereka. Bagaimana putri yang ia harapkan selama ini tidak bisa menjaga kepercayaan yang diberikan, tidak bisa memberikan mereka kebanggaan yang harusnya dijaga sampai masanya tiba. Tapi saya juga terharu atas ketegaran ibu. Ia tahu betapa kecewanya ia, betapa sakit hatinya tapi alih alih memarahi, memaki, mengutuk, menampar, melukai putrinya, ia memafkan gadis itu dengan semua yang sudah terjadi. Ia tetap menganggap gadis itu sebagai putrinya dan tidak serta merta mengusirnya. Yang terjadi biarlah terjadi, mungkin sudah ketetapan dari Tuhan. Apa yang kita bisa lakukan hanyalah lebih berserah diri padaNya.

Sudah dicoba beragam cara untuk mencari pertanggungjawaban laki laki yang merusak hidup putrinya. Tidak pernah ada jawaban. Tidak pernah ada tanggapan. Lalu kemana laki laki itu?. Pergi meninggalkan seorang wanita dengan tanggungjawab yang tidak akan pernah akan selesai selamanya. Ini soal tanggungjawab pada keluarga dan hubungan anggota keluarga dalam sebuah ikatan. Sungguh malang keponakan saya. Ayahnya lari entah kemana. Gadis itu sudah tidak lagi ingin mendapatkan pertanggungjawaban, ia sudah lelah mencari, lelah meminta. Tidak peduli. Ia tidak ingin membebani hidupnya sendiri lebih berat. Ia cukupkan untuk mengasuh putrinya dengan sepenuh hati dengan dukungan keluarga.

Saya lebih miris setelah mendengar keseluruhan ceritanya. Dia hanya perempuan biasa. Pergaulanlah yang membawanya menapaki hidup terlalu jauh. Mungkin nasib dan ketidakberuntungan sedang menggenggam tangannya erat tanpa ia tahu bahwa ia akan dilepaskan genggamannya itu. Tadinya saya kecewa karena mungkin ia memang telah rusak, memilih untuk tenggelam dalam pergaulannya. Tapi usai mendengar cerita gadis itu, saya sedih karena ia adalah korban. Entah korban apa. Korban perasaan, korban pergaulan, korban nasib, korban ketidaktelitian, korban kekerasan. Ah, entahlah, mungkin semua. Tidak banyak yang tahu cerita ini memang. Mungkin orang yang mendengar kabar bahwa dia telah berputra akan mengejudge ia sebagai wanita yang bukan baik baik. Tapi tidak. Bukan . dia adalah korban. Walaupun di sisi lain ada sisi salah dari dirinya. Ini soal keteledoran. Ia harusnya lebih berhati hati dalam bergaul. Ah, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.

Terkadang saya masih mengunjungi gadis itu dan putri kecilnya walaupun tidak terlalu sering. Saya hanya ingin memperhatikan teman saya. Dia butuh dukungan. Saya tidak bisa membantunya menyelesaikan masalahnya, tapi saya bisa sedikit membantunya dengan memberikan pundak saya untuk bersandar. berbagi beban dan saling merasakan. Kunjungan kunjungan kecil yang saya lakukan itulah salah satu cara saya. Saya tidak ingin meninggalkannya. Walaupun kunjungan saya agak jarang, tapi setidaknya itulah bentuk perhatian yang bisa saya berikan.

Pelajaran yang bisa saya dapat adalah : selalu ingat pada Tuhan. Minta pada Tuhan untuk mejaga kita, dan sayangi orang tua kita. Posisikan dirimu jadi orang tuamu. Apakah kamu sanggup terluka jika putrimu mempunyai masalah karena pergaulannya?. Jika saya adalah putri dari gadis itu, apakah suatu saat saya sanggup mendengar keseluruhan cerita dari Ibu saya? Kemana saya harus mencari ayah saya? Siapa dia? Mengapa harus begini harus begitu?. Jika ia tidak berbesar hati, maka hanya akan didapat dalamnya sakit hati. Begitulah.

Semoga menjadi pelajaran untuk saya dan teman teman lainnya. Saya berharap tidak ada lagi teman teman lain yang bernasib sama seperti dia. Dia bukan teman pertama yang mengalami hal tersebut. Ada banyak teman lain yang saya kenal yang lebih dulu mengalami kecelakaan sama sepertinya dan semoga dia orang terakhir yang mengalami nasib buruk seperti itu. Semoga besok besok saya akan mendengar kabar bahwa saya punya keponakan baru karena teman saya menikah, dalam ikatan yang sah.

*Untuk kamu disana, tetap tegar. Jangan dengarkan orang lain. Kamu masih punya masa depan. Untuk keponakan cantik saya, jadi anak solihah, nak. Banggakan kami, orang tuamu. Saya sayang kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s