Sekaten

Sekaten. Apa yang dipikirkan orang tentang Sekaten? Gunungan. Perayaan. Festival. Itu juga yang saya pikirkan. Tahun ini saya beruntung bisa melihat perayaan Sekaten di puncak perayaan Sekaten 2014. Saya berangkat pukul tujuh pagi dan nongkrong di Malioboro untuk menikmati pagi di Yogyakarta sebelum beranjak menuju pagelaran Sekaten.

Jalan menuju alun alun utara tampak masih lengang. Sampai di alun alun utara, pedagang sedang menata dagangan mereka antara lain pedagang mainan, kaos, baju, tas, aksesoris, makanan. Satu hal yang diburu di pasar malam adalah hawul hawul. Tahu hawul hawul itu apa? Hawul-hawul adalah istilah untuk menyebut pakaian secondhand alias pakaian bekas. Eits.. jangan salah, hawul-hawul adalah bagian pasar rakyat. Banyak masyarakat yang pergi ke hawul-hawul untuk membeli pakaian layak pakai. Masuk ke hawul-hawul bagaikan berburu harta karun. Sebuah keberuntungan jika menemukan pakaian yang masih bagus.

Saya diberitahu untuk menunggu perayaan puncak Sekaten pada pukul 10.00. saya menunggu di jalanan menuju masjid agung karena menurut pemikiran saya, tempat itulah salah satu yang paling strategis untuk menunggu gunungan.

Cahaya matahari tidak terlalu terik. Sesekali muncul dibalik awan, malu malu diliputi mendung. Tapi tetap saja hawa berasa panas. Saya tadinya berdiri dengan jarak dengan orang lain disekitar saya tidak telalu dekat. Satu jam berlalu, dua jam berlalu. saya sudah tak berjarak lagi dengan orang orang sampai saya susah untuk bernapas. Untung jaket yang saya kenakan memiliki hoodie yang bisa menutup kepala saya sehingga heatstruck saya tidak terlalu parah.

Satu persatu gunungan datang. Saya menikmati khidmatnya prosesi ini. Tidak lupa saya arahkan kamera untuk menangkap momen dimana gunungan tiba. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika banyak sekali kamera dan ponsel yang nangkring di dekat gunungan sehingga bikin foto yang saya ambil jadi sedikit terganggu. Saya membayangkan. Beberapa tahun yang lalu tidak ada hal seperti ini terjadi. Baru setelah teknologi datang dan semua orang bisa memiliki ponsel dengan tipe apapun, orang mulai gila dengan namanya fotografi. Mau makan foto, di depan kaca, foto, di jalan raya foto sampai di kamar mandi pun foto. Apalagi Cuma perayaan budaya? Tentulah semua orang ingin mengabadikan momen sacral ini dalam bingkai kamera atau ponsel mereka.

Ini pertama kalinya saya melihat perayaan Sekaten. Ini pertama kalinya pula saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kisruhnya orang orang yang berambisi mencari berkah pada perayaan keraton ini. Saya hampir diinjak injak orang ketika sekelompok masa memaksa untuk mendobrak pintu pagar menuju masjid. Saya Cuma bisa membatin “sial ni orang orang, nggak bisa lebih kalem dikit apa ya”. Jujur saya menyesal memilih spot ini karena sebenarnya moment yang saya inginkan adalah ketika orang berebut mendapatkan bagian hasil bumi Sekaten. Namun apa daya, saya terjebak pada kerumunan orang dan saya hanya bisa melihat prajurit, gunungan dan kuda lewat di depan saya. Sedangkan perebutan gunungan sendiri ada di depan masjid persis.

Saya baru bisa masuk ke dalam area masjid, persis sebelum adzan dhuhur dimana gunungan sudah habis diperebutkan oleh warga. Ada hal yang unik yang bisa saya lihat. Masih ada beberapa warga yang tidak kebagian hasil bumi masih mencoba untuk melobi mereka yang berhasil mendapatkan walaupun itu hanya tali raffia atau sepotong bamboo bekas tampah penyangga gunungan. Saya hanya bisa geleng geleng kepala. Hal sekecil itupun masih diburu karena dianggap berkah. Oke, itulah kekuatan sebuah kerajaan, dimana semua orang akan menuruti titah Raja dan menganggap semua yang berbau keraton adalah sakral mengandung keberkahan dari Yang Kuasa. Upacara selesai, saya masuk ke masjid untuk beribadah.

Ini tentang ramainya Sekaten di malam hari. Alun Alun Utara dipenuhi dengan aneka penjual (sama seperti di siang hari) dan aneka permainan rakyat berupa kora kora, anjungan, lingkaran setan dan masih banyak lainnya. Kesemuanya berwarna warni mengundang masa. Dengan tiket seharga ribuan rupiah, pengunjung bisa mencoba aneka permainan tersebut. Saya hanya menonton tanpa ikut mencoba. Saya hanya tertarik dengan warna warninya saja. Mencoba? No thanks, lain kali saja.

Ada perbedaan yang saya rasakan antara Sekaten Jogja dan Sekaten Solo. Kebetulan saya dan teman teman pernah sesekali mampir ke Sekaten Solo. Sekaten Jogja menggunakan luasan seluruh area Alun Alun Utara sedangkan pada Sekaten Solo, luasan yang digunakan tidak penuh seperti luasan Sekaten Solo. Bentuknya melingkar, memutari alun alun. Variasi yang dijual pun lebih banyak di Sekaten Jogja. Entah apa memang lebih banyak Jogja atau karena pada saat itu kami tiba di malam hari dan banyak pedagang yang sudah pulang atau bagaimana, saya juga kurang tahu. Tapi intinya keduanya mempunyai suasana yang sama : kesakralan dan kehangatan pasar rakyat.

Pulangnya, saya jadi mikir sendiri. Kok saya selo banget ya, sempat sempatnya nungguin beberapa jam cuma buat liat ketela sama sayuran lewat di depan saya. Belum lagi lihat kermunan masa yang hampir mengamuk dan lemes kepanasan karena suhu dan terik matahari padahal saya harus jaga kondisi tubuh karena esoknya saya akan melakukan perjalanan jauh ke Pemalang. Tapi dibalik keseloan saya, saya tidak merasa menyesal. Banyak hal yang saya dapatkan. Pengalaman yang tidak akan bisa didapatkan suasana dan momennya tanpa melihat sendiri dan terlibat langsung di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s