Nostalgia Masa Sekolah II

Balada Kertas Ujian

Makan malam ini saya makan bersama Anisa, Ratna, Zulfia, Sari di tempat makan semacam geprekan yang sambalnya mantap jan juosss. *kalo gini sih emang nyenengin saya. Hehe. Sambil menunggu mereka, kami ngobrol. Sampailah kami pada pembahasan Ujian Nasional karena emang lagi hits hitnya UN.

Nostalgia dek jaman semono, saya punya cerita tentang mengenai Ujian Nasional. Lebih tepatnya, saya punya masalah di dalamnya

Saat itu hari pertama Ujian Nasional. Mata pelajaran Sosiologi waktu itu. Lima belas menit terakhir sebelum ujian berakhir, secara tidak sengaja, saya membuat kertas ujian saya sedikit tertekuk. Saya diam bengong tak bergeming. Apa yang sudah saya lakukan???. Saya cepat cepat mengangkat tangan untuk meminta kertas baru. Semua orang di kelas kaget memandang saya seolah saya ini putri Indonesia. Tahu apa jawabnya? “kertasnya hanya disediakan pas dengan jumlah siswa”. Langsung dingin badan saya.

Saya tidak bisa tinggal diam. Saya lakukan apa yang saya bisa untuk menyelamatkan kertas ujian saya. Saya gosok bagian bawah kertas sehingga lekukan yang tadi muncul menjadi halus kembali. Saya hanya bisa menenang nenangkan diri dalam situasi ini. Bapak penjaga datang ke meja saya dan berusaha menenangkan saya. Saya hanya tersenyum kecut.

Keluar ruangan, saya masih seperti orang linglung. Saya takut jika ujian saya nilainya anjlok hanya karena tidak terbaca. Saya masih gusar. Saya bahkan rasanya ingin sekali menciptakan kertas yang bisa dibaca dalam kondisi apapun tidak terkecuali. Mau disobek, dibakar, diinjak, remuk, kena air selokan, kena kopi, kotor karena tangan kita tidak bersih dan berbagai macam kecelakaan lainnya. Kalau boleh jujur, rasanya menyebalkan. Saya sampai gusar sendiri, mengapa Ujian Nasional begitu ribetnya, mengapa kertasnya hanya pas, bagaimana dengan nasib orang orang seperti saya yang mengalami kecelakaan kecil ketika mengerjakan, apakah Pemerintah sudah memperkirakan hal itu, duh kenapa kemarin saya bisa nggak sengaja nekuk kertasnya dan seabrek kegelisahan lainnya.

Rasa bersalah saya berlangsung beberapa minggu sampai hasil ujian keluar. Sial sekali, saya harus menanggung perasaan panik dan bersalah selama berbulan bulan. Untungnya, ketika hasil ujian keluar, nilai mata pelajaran tersebut tidak terlalu buruk. Syukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s