Pantai Jungwok, Mutiara di Balik Bukit

Saya mau ngantor ke sekre pukul 05.00 untuk membetulkan karya saya yang harusnya dibuat untuk pemotretan katalog. Tapi ada anak yang tidur di sekre, maka saya memutuskan tidak jadi untuk masuk, orang dikunci juga. Saya kemudian menunggu teman teman saya di tempat biasa sebelum pergi bersama. Semua orang sudah datang, kami siap untuk pergi bersama di hari libur Paskahan ini. Melewati Wonosari, gunung Merapi dan Merbabu bersanding dengan indahnya. Sungguh suasana cantik dalam hari libur.

IMG_8454

Gerbang Kabupaten Gunung Kidul

IMG_8453

Merapi dari Bukit Bintang

IMG_8452

Merbabu-Merapi bersanding dalam selendang kabut

IMG_8448

Merapi berdiri kokoh

Perjalanan kami kali ini menuju ke pantai Jungwok, sebuah pantai yang terletak satu kilometer di sebelah timur pantai Wediombo. Seperti yang telah diperkirakan, kami akan menempuh dua jam perjalanan menuju pantai tersebut. Pantai sudah terlihat dari jauh, saya sudah berteriak kegirangan.

Untuk menempuh pantai tersebut kami harus berjalan melewati jalanan bertatahkan bongkahan batu kapur keras, kebun palawija di tengah terik panas matahari musim semi. Ceilah musim semi. Memang musim semi sih, soalnya ada katydid (cenggeret) yang mengalunkan instrumen lagu menyambut nona musim panas yang segera akan datang.

IMG_8469

Jalan berbatu menuju Jungwok

IMG_8562

Itu dia pantainya!

IMG_8478

Jungwok dibalik bukit

IMG_8477

Pulai kecil di Jungwok bernama Bukit Jungwok

IMG_8476

Jungwok

Sampai di pantai, saya tidak bisa berdecak kagum karena pantainya masih sepi. Ok, nggak sepi juga sih. Ada orang camping dan juga beberapa pasang orang pacaran. Tapi setidaknya di hari libur ini, pantainya benar benar pribadi. Pasir di pantai Jungwok tipikal kasar degan butiran besar besar. Luluran pakai pasir pantai oke juga lho, bikin kulit lebih halus. Lulur gratis. Haha. Ombaknya kuat. Saya nggak berani terlalu ke tengah. Jorokan daratan dengan lautan terlihat cukup curam, takut keseret ke tengah lautan.

Sementara teman teman asyik dengan bathing time mereka, saya nongkrong di warung pak penjaga pantai. Namanya pak Sediyono. Kita ngobrol panjang lebar mengenai pantai ini. Beliaulah orang pertama yang membuka pantai ini dan diserahi tanggungjawab sebagai penjaga pantai Jungwok oleh pemerintah. Dari beliau saya mendapatkan cerita seru mengenai pantai ini.

Biru ombak Jungwok

Biru ombak Jungwok

Dalam kesunyian Jungwok

Dalam kesunyian Jungwok

IMG_8489

IMG_8559

Pantai Jungwok terletak di daerah Jepitu, gunung Kidul Jogjakarta. Menurut legenda, dahulu kala ada tujuh buah jong yang tenggelam di pantai ini. Dulunya pantai ini belum ada namanya. Untuk menghalangi Belanda datang dan membalas dendam kepada warga setempat, pemuka agama (wali wali) menancapkan tujuh buah tongkat ke tanah. Jadilah tujuh buah pohon juoh. Ketika serdadu belanda datang, mereka menjelaskan bahwa tidak ada jong di pantai ini. Yang ada hanya tujuh buah pohon juoh. Lama lama nama desa ini dinamakan Jepitu. Juoh ana pitu (ada tujuh buah pohon juoh). Keberadaan pohon itu hanya tinggal satu buah pohon saja. Sisanya sudah ditebangi warga entah karena apa.

Seperti biasa saya mandi di laut dengan bahagianya. Langit biru super cantik memantul ke laut. Kece. Pulangnya kami mendaki bukit lagi. Ana kena heatsruck. Saya pun sebenarnya juga kena heatstruck. Tapi untungnya saya bisa mengatasi heatstruck saya dengan minum lebih banyak.

Kami menunggu para lelaki menyelesaikan ibadah Jumat mereka kemudian kami pergi makan. Ini pertama kalinya mandi. Maksud saya, saya emang nggak pernah mandi beres kalau di pantai. Bukan karena apa-apa. Saya menginginkan space sendiri dimana saya tidak perlu gusar soal antrian dan ribetnya menunggu. Intinya sebenarnya cuma karena waktu mandi saya nggak mau diganggu gugat. Makanya saya selalu mandi di rumah saja kalau habis main dari pantai.

Perjalanan diakhiri dengan makan siang di sebuah foodcourt yang hanya terdiri dari satu warung yang buka. Saya pesan mi ayam (lagi). Sesaat setelah merasakan, saya jadi berdecak heran. Daerah Wediombo apakah memang penghasil mi ayam terenak disini ya?. Haha. Memang sih terkesan lebay tapi saya merasa mi ayam yang kami pesan di daerah ini rata rata berbumbu kuat. Makanya lebih enak. Tonjo (mantap jan juossss) kalau Ratna bilang. Ini belum apa apa. Sotonya lumayan lah. Tapi yang keren itu ayam kampung bakar seporsi besar seharga Rp. 12.000-15.000. Sungguh beruntung yang memesan ayam karena mendapatkan ayam kampung dengan potongan besar. Sumpah, ini kayak tumpengan aja ayamnya gede banget.

IMG_8585

lauk pengisi energi

Pulang, saya tidak bisa beristirahat dengan tenang serta nyaman di kamar. Rapat cuy. Terus lanjut rehearsal lagi sampai tengah malam. Damn. Tenan po ra ki ra tepar?. Hoho.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s