Kesehatan itu Sepele Tapi Penting

Hari saya dimulai ketika saya diajak mengajar di daerah cangkringan Sleman Yogyakarta. Agenda baru dimulai pukul satu siang. Tidak terasa perjalanan sudah sampai di hunian tetap yang dibangun pasca erupsi merapi beberapa tahun yang lalu. Hujan turun cukup deras disana. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah seorang anak bernama Puput. Sayangnya dia tidak mengijinkan kami masuk. Hiks. Dingin deh di luar.

Ketika hujan sudah agak berhenti, kami move on ke rumah anak lain. Saya mendengar banyak hal tentang pengalaman warga desa ketika bencana merapi. (Saya bakal cerita soal ini di kesempatan selanjutnya). Hari sudah maghrib ketika kami memutuskan untuk kembali ke titik kumpul yang telah disepakati. Sudah selesai solat, waktunya pulang. Akan tetapi ada seorang anak yang menangis. Awalnya saya tidak tahu mengapa anak itu menangis. Baru pada akhrinya saya tahu bahwa ia menangis karena radang lambung. Kondisinya lama lama melemah. Ia tidak bisa menelan apapun karena lambungnya yang bermasalah.

Tidak lama kemudian ia dibawa ke rumah Bapak Lurah setempat. Ia dibaringkan di salah satu kamar. Dan salah seorang dari kami mencari obat pereda magh di warung sekitar. Sayangnya anak ini tidak tahan dengan obat yang telah didapatkan. Ia hanya bisa mengkonsumsi obat yang sialnya tidak terdapat di warung tersebut. Akhirnya ia dirujuk ke rumah sakit terdekat yang berjarak beberapa kilometer dari daerah Huntap tersebut. Sudah menjelang pukul 21.30 kami sampai di tempat tersebut. Si anak dimasukkan ke sebuah ruangan. Saya keluar masuk ruangan ingin tahu bagaimana kondisinya. Masih seperti tadi, ia masih sangat lemah. Ia harusnya menginap di Rumah Sakit tersebut untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut. Akan tetapi dia tidak mau. Berkali kali ia menolak siapapun yang memintanya untuk dirawat di Rumah Sakit Pakem.

Akhrinya fix, dia tidak mau menginap di rumah sakit. Setelah menandatangani surat pernyataan, ia kembali ke kontrakannya. Saya turut menemaninya ketika di perjalanan. Jalanan yang lengang mempermudah perjalanan kami untuk segera sampai. Akhirnya diputuskan ia menginap di salah satu kontrakan temannya agar ada yang merawat saat ia sakit. Saya kembali ke kamar saya, menunggu Ratna segera datang. Ia menginap di kamar saya usai latihan musik.

Saya, memang baru sekali ini bertemu dengan dia, baru sekali ini mengenalnya. Namun medical instinct saya untuk terpanggil. Saya menganggap dia sebagai adik saya maka saya berusaha untuk care kepadanya. Walaupun hanya hal kecil yang bisa saya lakukan, tetapi saya tidak ingin tinggal diam. Saya memang tidak tahu apa apa mengenai pengobatan (bahkan harusnya si anak ini lebih tahu karena ia anak kebidanan). Tapi saya tahu apa itu sanitasi, tahu apa itu tindakan medis. Kalau kamu memang butuh untuk dirawat kenapa tidak?. Tidakkah kamu sadar bahwa kamu itu butuh tindakan medis?. Dengan radang yang bisa dianggap akut, mengapa masih ngeyel tidak mau dirawat?. Kamu nantinya adalah seorang paramedis, lalu mengapa tidak bisa memahami bahwa kondisimu itu sudah harus mendapat perhatian paramedis?.

Pelajaran yang saya dapat di hari itu adalah tentang sadar diri. Lihat kondisi tubuhmu. Apakah kuat untuk menerima semua jenis makanan? Apakah kuat pedas? Manis? Kecut? Asam? Soda? Apakah sering mengeluh sakit? Apakah kuat untuk melakukan aktivitas padat seharian?. Harusnya setiap orang bisa memahami sejauh mana tubuhnya bisa bertahan.

Kesalahan fatal yang sudah diperbuat anak ini adalah ia dengan sembrononya tidak makan sejak pagi. Memang ia membawa roti, tapi roti bukanlah sebuah makanan yang mengenyangkan buat bangsa Indonesia. Dia butuh nasi sebagai karbohidrat ditambah dengan sayuran sebagai serat, lauk dan buah juga minum yang cukup. Ini bukan sikap cerobohnya yang pertama kali. Lebih tepatnya kesekian kali karena sudah terlalu sering. Ia sering melewatkan makannya hanya karena alasan lagi tidak doyan makan atau karena malas. Duh, kok alasannya mangkeli ya.

Setelah mendengar saya merasa ini bukan hanya soal fisik. Ya memang kamu memang sakit, tapi tidakkah kamu tahu ini juga akibat dari kekonyolan perbuatanmu sendiri. Siapa pemilik tubuh kita? Ya kita sendiri lah. Kita udah diberi hadiah berupa tubuh yang baik dengan organ yang baik pula mengapa tidak dijaga dengan baik. Kamu sudah tahu punya riwayat sakit magh, kenapa tidak punya semangat buat menyembuhkan?. Mungkin kamu akan bilang “kok mbak bilang gitu sih. Mbak nggak tahu seberapa semangatnya saya buat sembuh”. Mungkin memang ada, tapi saya tidak melihat itu sama sekali. Kenapa bisa? Mana argument saya?. Jelas saya bisa bilang bahwa kamu tidak punya semangat buat sembuh karena kamu tidak berusaha memperhatikan dirimu lebih baik.

Kalau kamu punya sakit, apa yang harus dilakukan? Berusaha segala cara untuk menyembuhkan diri kan? Dimulai dari yang paling simple dulu deh. Makan. Kalau tubuhmu tidak diberi makan secara teratur, maka apa yang ia lakukan? Jelas meminta hak buat makan. Analoginya gini. Kamu tidak diberi makan oleh orang tuamu dan kamu kelaparan. Apa yang kamu lakukan? Jelas bilang kepada mereka bahwa kamu lapar dan butuh makanan. Kamu ingin makan. Tapi jika tidak dipenuhi? Apa yang mau kamu lakukan? Menangis, merajuk, meraung raung supaya diperhatikan dan dipenuhi kebutuhanmu. Iya nggak?. Atau kreatifnya kamu nyari makan sendiri. Hubungannya dengan tubuh kita adalah ketika tubuh kita minta makanan dan kita tidak memenuhi, maka tubuh akan menangis. Reaksinya adalah perut yang meraung raung minta segera diisi. Kalau tidak segera diberi? Perihnya semakin bertambah. Kalau tidak diberi juga? Mungkn si tubuh ini adalah anak kreatif yang mencari makanan sendiri yaitu dengan mengambil cadangan lemak. Tapi anak kreatif ini tidak akan selamanya mengambil makanan dari cadangan lemak tersebut karena cadangan lemak tersebut juga digunakan untuk kepentingan lain. Lalu apa yang akan terjadi? Si anak akan tetap meminta jatah makanan asli yang dia mau. Pada akhirnya ia akan menghancurkan dirinya sendiri karena tidak ada bahan yang bisa digerus untuk dijadikan sumber energy. Sedih kan ceritanya.

Apa kamu nggak kasihan sama anak sendiri (analogi tubuhmu). Penuhi hak untuk memberikan asupan gizi yang baik ke tubuhmu. Jangan mengabaikan tubuhmu sendiri karena yang repot juga bakalan kamu. Kalau kamu merasa lemah, gampang letih, lemas dan seperti tidak sehat, maka apa yang kamu lakukan? Di analisis dong. Mengapa bisa begitu? Kalau memang sakit ya dicari apa yang harus dilakukan. Apakah harus langsung ke dokter atau minum obat atau pengobatan tradisional lewat jamu atau apa. Tapi kalau bukan karena sakit? Sudahkah kamu lihat apa yang kamu makan? Apakah memenuhi standar? kurang serat? Terlalu banyak karbohidrat atau apa?. Ingat, Nabi pernah bilang bahwa perut yang tidak dijaga itu sumber penyakit. Mungkin juga kamu kurang olahraga. Lalu apa? Ya banyakin gerak dong. Banyakin olahraga. Kecapekan? Ya istirahat lah. Manfaatkan waktu untuk istirahat dengan baik. Jangan membuang waktu dengan hal kurang berguna kalau dengan istirahat itu bisa memberikan hak untuk tubuhmu beristirahat sejenak.

Lalu bagaimana dengan saya sendiri?. Yang saya tahu, saya paham dengan kondisi saya sendiri. Saya tahan dengan makanan pedas dan seringkali makan dengan tingkat kepedasan yang tidak semua orang biasa bisa tahan. Tapi saya tahu, saya harus mengimbanginya dengan air putih yang konstan dan cukup. Saya mengkonsumsi serat dan saya melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak walaupun hanya sebentar. Saya tahu saya terlalu banyak beraktivitas, tapi saya tahu kapan saya butuh untuk beristirahat total. Intinya sadar diri. Penuhi hak tubuh dan belajar untuk membagi waktu. Semuanya butuh haknya dipenuhi.

Saya sendiri pernah terkena campak dua kali. Campak identik dengan penyakit anak anak, dan saya masih mengalaminya ketika lulus SMA (berarti saya memang masih anak anak dong, umur segitu masih kena penyakit anak anak : p). Badan berbintik bintik bak stoberi.. ups.. lebih tepatnya demam berdarah. Saya hampir didiagnosa sebagai demam berdarah, tapi syukurnya bukan. Tapi jangan salah, campak juga sama mematikannya seperti demam berdarah. Lengah dikit, fatal. Bisa mati penderitanya. Sewaktu SD, saya dipanggil Londo Biduren (bule yang kena penyakit gatal gatal). Sialan betul yang mengejek saya waktu itu. Mereka pasti belum pernah merasakan gimana nggak enaknya sakit. Sakit dimana mana ya nggak enak lah. Mau sakit apapun (termasuk sakit hati? wkwk).

Saya merasakan betul efek penyakit campak ke tubuh saya sewaktu SMA. Badan lemes banget, perut kayak diaduk aduk nggak jelas, kamu mau makan tapi rasanya nafsu makan naik turun dan pencernaanmu nggak sanggup untuk menelan makanan apapun. Bosen minum obat, Cuma bisa berbaring di tempat tidur, badan rasanya panas dingin dan yang paling menyiksa adalah kombinasi kepala yang berat dan perut yang kamu tidak bisa menjelaskan apa maunya dia sebenarnya. Yang saya inginkan waktu itu adalah benar benar cepat sembuh. Saya paksakan diri saya untuk menelan makanan dan menghabiskan stok obat. Menjengkelkan memang, tapi mau bagaimana lagi. Tubuh saya butuh asupan. Ya kali saya mau nongkrong di tempat tidur berbulan bulan cuma gara gara lemas dan sakit. Air putih juga tidak pernah absen diminum sebanyaknya. Efeknya? Lama kelamaan sembuh sendiri. Mungkin ini efek dari tiga hal : sugesti, pemaksaan diri dan doa dari semua orang.

Usai pulang, saya kirim pesan ke banyak orang mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan. Saya mungkin bisa dianggap sok tahu atau sok menggurui jika berceramah di depan orang orang. Tapi saya tidak peduli. Yang jelas saya hanya ingin mengingatkan mereka bahwa kesehatan itu penting. Greget banget untuk disampaikan. Jangan tunggu masuk rumah sakit baru sadar kalau kesehatan itu penting. Saya sayang kalian, guys..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s