Ibadah

Saya bangun dan dikejutkan oleh pesan dari salah seorang teman yang mengingatkan saya untuk bangun ibadah malam. Saya harus bengong, tersenyum, ketawa, melongo atau apa?. Yah, yang jelas, saya memilih untuk tersenyum (oke, saya akui sambil bengong). Saya senang ada pesan pengingat ibadah, it helps and add more motivation. Tetapi alasan saya bengong adalah karena kaget, ini bocah ada angin apa tumben tumbennya ngingetin.

Baru beberapa hari kemudian saya tahu alasannya. Seperti biasa di sesi cerita panjang lebar, kami bertukar pikiran. Yang dibahas kali ini adalah soal ibadah. Ia ingin berdakwah menurut caranya sendiri. Ia ingin mengingatkan orang orang lewat hal hal kecil yang seringkali disepelekan : solat.

Saya setuju dengan dia dan beberapa orang teman yang mengatakan bahwa berdakwah tidak melulu lewat mendatangi sekerumun orang dan memberikan kultum panjang lebar mengenai keislaman panjang lebar sepanjang tujuh puluh menit. Ingatkan orang lain melalui ibadah. Hal kecil namun jauh lebih bermanfaat dan mengena. Gini deh, ini bukan soal udah bukan waktunya atau gimana. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Apalagi belajar hal hal mendasar. Apakah kita bisa menjamin bahwa hal hal mendasar yang sudah kita lakukan selama ini sudah betul? sudah sesuai syariat?. Coba liat, wudlu mu udah bener belom? Solatmu gimana? Bolong bolong nggak? Masih sering ditunda nggak?. Hal hal kecil belum tentu sudah dilakukan dengan benar. Nggak muluk muluk.

Di lain hari saya dikejutkan dengan adanya demo di bunderan yang mengatasnamakan agama. Sekelompok orang menolak kedatangan pemimpin yang datang ke kota mereka. Beberapa waktu kemudian ada juga yang berdemo karena merasa pemerintahan Indonesia saat ini tidak sesuai dengan syariat Islam.

Seperti yang sudah pernah saya singgung di salah satu catatan harian saya, saya mau lihat permasalahan dari sudut pandang saya. Sudut pandang orang beda beda kan?. Nah, ini menurut saya sendiri. Saya akan lihat dari sudut pandang orang umum bukan dari segi agama karena saya nggak ngerti apa apa soal agama. Pengetahuan saya masih cekak. Salah jawab, geblek jadinya.

Jika orang orang tersebut, a.k.a orang orang yang menyebarkan muatan bertujuan tertentu berdalih dakwah agama tertentu, saya ingin bertanya. Sebenarnya muatan politis apa yang kalian bawa? Ngapain harus bawa bawa agama?. Ingin menjadikan negara ini Islamis? Saya akan bertanya, sebenarnya definisi Islami itu apa?. Semua beragama muslim? Berpemerintahan orang orang muslim? Bersistem negara muslim, berbudaya muslim? Menggunakan syariat muslim? Semua orang di dalamnya hanya muslim? Orang orang berakhlak muslim? Atau apa?. Itu pertanyaannya. Saya seorang muslim, tapi saya harus bilang bahwa menurut saya, agama adalah urusan pribadi masing masing orang. Pertama benahi dulu kita sebagai seorang individu, baru berkoar koar urusan persatuan Negara. Mau dia seorang Muslim, Kristian, Katholik, Hindu, Budha bahkan agnostik sekalipun, agama tetaplah urusan masing masing orang. Agama adalah kebutuhan pribadi bukan kelompok atau negara. Hubungan spiritual pencipta dengan mahluknya hanya bisa dirasakan oleh masing masing individu.

Dilihat dari sudut pandang sejarah, negara kita tidak hanya didirikan oleh orang orang Islam. Banyak Katholik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Kaharingan dan berbagai jenis kepercayaan lainnya melebur menjadi satu memperjuangkan Indonesia merdeka. Indonesia tidak dibangun dalam satu malam seperti Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan. Indonesia dibangun dalam penderitaan senasib oleh berbagai jenis aliran, berbagai suku, ras, agama, pandangan. Kita berwarna warni dengan perbedaan yang sebenarnya berpotensi besar untuk memecah belah semua. Tapi nyatanya kita bisa kok berjalan berdampingan, seiring seirama dalam membangun sebuah bangsa yang satu. saya refleksikan dalam kehidupan saya. Teman teman saya tidak hanya muslim. Saya punya banyak teman yang beragama non muslim, salah satunya keluarga Latumahina. Kita berteman bahkan bersaudara dengan sangat erat padahal kami berbeda keyakinan. Orang tua kami saling mengenal bahkan sudah seperti saudara sendiri. Perbedaan seharusnya bukan menjadi jurang, karena perbedaan itu indah. Analoginya seperti pelangi. Pelangi jika hanya terdiri dari satu warna maka akan terasa monoton, tapi Tuhan menciptakan mejikuhibiniu yang lebih indah terlihat.

Kembali ke masalah membangun negeri ini. Jika negeri ini didirikan hanya dengan konsensus islam, maka apakah itu sudah pasti baik? Sudah pasti berjalan?. Tentu saja agama ini baik. Rahmatan lil alamin. Agamanya lho. Ingat, yang baik itu sudah pasti agamanya tapi belum tentu dengan orang orang di dalamnya. Tapi, membangun sebuah Negara, seperti yang sudah saya bilang tadi, bukan seperti Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam semalam. Emangnya gampang bikin negara?. Kita butuh ratusan tahun lho untuk memahami apa itu maksud dari sebuah negara. Sejak kerajaan Kutai sampai negeri ini merdeka dari penjajahan Belanda bukanlah proses singkat yang terjadi semalam saja. Indonesia sudah mengalami proses yang amat panjang. Membuat sebuah negara butuh kesepakatan orang orang di dalamnya. Coba dipikir, apakah semua orang Indonesia muslim? Mayoritas iya. Di KTP tapi. Saya bukannya skeptis tidak akan menemukan orang orang soleh. Pasti ada segelintir orang yang masih memegang teguh agamanya. Namun, apakah dengan mendirikan negara khalifah, akan menjamin negara ini aman tenteram?. Saya malah jadi bertanya tanya sendiri negara khalifah yang dimaksud itu yang bagaimana sih?. Ah, sudahlah nanti jangan-jangan tambah bingung sendiri.

Tapi gini lho yang saya maksud, perbaiki dulu akhlak masing masing individu. Orang akan bilang “emangnya gampang?. Saya akan jawab “ya gimana negeri ini mau jadi baik kalau akhlaknya aja berantakan. Pantes aja bencana selalu datang”. Well, bolehlah pada bilang saya ini sembarangan seenak jidat kalau ngomong. Tapi please, see, ini perspective saya. Ada tiga syarat berdirinya sebuah Negara. Pertama wilayah, kedua rakyat dan terakhir pemerintahan. Siapa yang menghuni sebuah wilayah dan menjalankan pemerintahan di dalamnya? Rakyat. Siapa rakyat itu? Rakyat adalah sekelompok orang. Siapa orang itu? Orang adalah manusia, mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah. Perilaku manusia manusia itulah yang akan mempengaruhi negara tersebut. Jika manusia manusia di dalamnya berlaku tidak baik serta tidak segera memperbaiki diri, njuk negara ini akan berbentuk seperti apa?.

Lalu, masih ada hubungannya dengan membangun negara, kita sudah ratusan tahun bergelut dengan proses di depan sana pada hukum hukum, system pemerintahan, kependudukan, pendidikan dan banyak hal mendasar lainnya. Jika sistem itu tiba tiba diubah, apakah yakin bisa? Kalo saya sih iyes. Iyes it will not success easily gitu, cuy. Mengubah sesuatu itu butuh proses maha panjang DAN membutuhkan kesepakatan dari semua lapisan bangsa. Lihat bangsa ini, apakah mudah menyatukan dua ratus lima puluh juta lebih kepala dalam sebuah ide?. Sulit. Sekali lagi, bukan seperti Candi Prambanan yang dibangun dalam satu malam seperti kata legenda.

Ada dua jenis orang kece yang saya temui. Golongan pertama kece(lik) agama, golongan kedua yang beneran kece. Golongan pertama, mereka terdoktrin menyimpang dan akhirnya menjadi menyimpang juga. Tapi syukurnya sebagian dari mereka bisa kembali lagi menjadi orang yang normal normal aja. Golongan kedua, mereka adalah orang yang paham agama tapi tidak lantas menjadikan mereka ekstrim. Salah satunya Mas Din, salah seorang kakak terbaik yang saya kenal. *jadi merasa bersalah deh nggak pernah lagi main ke tempat beliau. Ya nanti deh bisa diatur waktunya.

Untuk diri saya sendiri, dear honey, saya ingin belajar untuk memperbaiki diri dalam segi apapun termasuk dalam segi akhlak serta perbuatan. Saya masih jauh dari kata paham dalam beragama. Agama yang saya pegang saat ini menjadi agama terakhir yang saya punya. Saya tidak ingin untuk beralih karena saya menemukan kedamaian disini. Saya butuh pegangan, Allah, Tuhan saya satu satunya. Saya berusaha belajar dan membenahi diri untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Kembali ke cerita soal teman saya itu, saya harap ia juga tidak berubah. Maksud saya semoga ia akan terus mengingatkan dan teguh dengan agamanya tanpa harus menjadi seorang yang ekstrim. Beragama tidak harus menjadi seorang ekstrimis. Jangan berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Kalau punya pegangan agama yang kuat tapi tidak saklek dalam memandang semua hal, itu baru namanya kece. Hubungan dengan Tuhan baik, hubungan dengan manusia dan alam oke. We call that : waaaa… keren…. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s